Kedua bola mata Riana sukses membulat saat jam dinding di kamarnya telah menunjukkan pukul 06.25 wita. Dia bangun kesiangan. Saat hendak bangkit dari posisi tidurnya, tiba-tiba saja fokus Riana tersita oleh seseorang yang tengah tidur lelap di samping kanannya. Benar, seseorang yang dia maksud tak lain adalah Dion. Sejak sebulan terakhir, Riana memperbolehkan laki-laki itu untuk tidur terus bersamanya. Dia ingin sedikit demi sedikit memperbaiki hubungan mereka. Walau, rasa canggung masih kerap menyelimuti saat dia berinteraksi dengan laki-laki itu, tapi Riana telah berjanji jika dirinya akan mencoba menerima perasaan Dion. Dan tentunya semua butuh proses dan waktu. Tidak mudah seperti yang dibayangkan. "Dion, aku harus bangun," ucap Riana pelan. Dia merasa sedikit kesusahan ketika hend

