"Iya, terkadang aku disibukkan dengan urusan kantor. Jadi, aku tak sempat mengangkat telepon dari Dion," elak Riana. "Aku doakan semoga pernikahan kalian langgeng selamanya," harap Bagas. Wanita itu menyunggingkan senyum terpaksa. Mungkinkah itu akan terjadi? Aku sendiri tak yakin. Riana bergumam ragu. "Aku rasa Dion sungguh sangat mencintaimu, Riana. Aku jadi iri padanya karena mendapatkan wanita mandiri sepertimu," kata Dwika semakin berlebihan. Memuji secara langsung. Dion mencintaiku? Itu lebih tidak mungkin. Riana berniat memungkiri. Hal tersebut tidak boleh terjadi. Pokoknya tidak! "Haha, kamu bisa saja," tanggap wanita itu dengan tawa hambar. "Kalau begitu aku panggilkan Dion di atas. Dia terlalu fokus mengerjakan projek, terkadang sampai lupa makan," ucap Bagas seraya beranja

