Dion mendorong pintu ruangan yang ditempati istrinya secara perlahan-lahan. Terlihat sosok Riana berbaring dengan pandangan menerawang ke atas, menatap langit-langit ruangan. "Hei...." sapa Dion lembut disertai oleh senyuman yang mengembang. Riana menoleh ke arah suaminya. Mata wanita itu masih sembab. Riana pun mencoba untuk bangun dari posisi berbaring. Hal pertama yang wanita itu lihat adalah senyum tulus sang suami kepada dirinya. Air mata kembali mengalir di pipi Riana. "Aku ceroboh, Dion. Maafkan aku." Tak tahan mendengar isakan tangis istrinya, Dion langsung mendekap Riana erat. "Jangan menangis lagi. Semua baik-baik saja, Riana." Pria itu berupaya menghibur. Jujur saja, Dion sendiri pun sedang dalam keadaan dan perasaan yang tidak menentu. Tetapi, di satu sisi dirinya harus me

