5

1389 Kata
Potongan 5.... Dion terus memikirkan kata-kata Riana tempo hari. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak ketika malam tiba Rasa bersalah selalu menghantuinya dalam setiap waktu. Sudah empat hari mereka tak bertemu di kantor ataupun di rumah Riana. Wanita itu tengah berada di luar kota untuk urusan bisnisnya. Dion senantiasa cemas memikirkan keadaan Riana, karena takut hal buruk bisa saja terjadi pada wanita itu. Jika ada kesempatan, Dion terus mencoba untuk menghubungi Riana. Dan seperti biasa, tidak sekalipun teleponnya diangkat. Terkadang Dion merasa frustrasi sendiri dan tak tahu harus berbuat apa untuk sekadar mengetahui keadaan Riana yang jauh darinya. "Lo sakit, Dion?" tanya Gian tatkala menyadari rekan kerjanya itu tampak tidak ada semangat. "Tidak." Dion menjawab singkat. Pikirannya melayang-layang. Fokus Dion pun berhamburan kemana-mana sekarang ini. Terutama sibuk menerka-menerka dimana sosok Riana berada dan tengah melakukan kegiatan apa. Dion juga cemas akan kondisi calon anaknya. "Muka lo kusut gitu," komentar Gian. Tak biasanya ia melihat Dion seperti orang yang sedang kacau hingga kehilangan konsentrasi dalam bekerja. "Kurang tidur," jawab Dion dengan singkat lagi. Pemuda itu merasa sangat malas, walau hanya sekadar untuk berbicara. "Oh, gue kira kenapa. Nanti ada rapat dadakan, Mbak Riana sudah datang soalnya," beri tahu Gian. Mereka biasa mengadakan rapat dadakan ketika sang atasan kembali dari luar kota guna membicarakan rencana bisnis untuk klien baru. "Apa? Kak Riana sudah pulang?" Mata Dion membulat tak percaya, seakan-akan mendapat angin segar yang sedikit dapat menyejukkan. "Iya. Tadi, gue lihat dia di lantai dua sedang berbicara dengan Eka," jawab Gian santai sambil menyeruput kopi. Bibir Dion melengkung membentuk sebuah senyuman. Entah kenapa, ia lega mendengar atasannya itu telah kembali dari luar kota. Pikiran buruk Dion hilang seketika. "Oke, gue cabut dulu," ucap Dion pada Gian, lalu bangkit dari kursi yang didudukinya. Dion melangkah pergi seraya membawa beberapa dokumen untuk diserahkan kepada Tuti. Ia tampak bersemangat menaiki anak tangga satu demi satu menuju lantai dua dan sudah tak sabar untuk melihat sosok Riana. "Ini laporan yang Kakak minta sudah aku kerjakan," kata Dion sambil menyerahkan dokumen yang tadi dibawanya. Kemudian, pemuda itu memosisikan tubuhnya duduk di atas kursi. Mata Dion tertuju pada jendela transparan yang memperlihatkan sosok Riana di dalam ruangannya. Wanita itu tengah menyantap makanan dengan lahap sambil mengelus perutnya lembut. Dion tersenyum penuh makna. ...................... Beberapa hari belakangan ini, Riana tidak merasakan mual dan muntah yang terlalu parah. Nafsu makannya pun sudah mulai meningkat, meski tidak terlalu signifikan. Berada di luar kota dengan keadaan yang belum stabil bukanlah perkara mudah. Tetapi, Riana tetap bersyukur karena sudah mampu melewatinya tanpa kelelahan yang berarti. Untung besok hari Sabtu, jadi ia memiliki cukup banyak waktu untuk istirahat di rumah. "Terima kasih, Sayang. Ibu akan selalu berusaha merawatmu dengan baik ya," ucap Riana pada janin yang tumbuh di dalam rahimnya dengan tulus. Ting Tong! Ting Tong! Bel rumah Riana berbunyi, menandakan ada seseorang tengah menunggu untuk dibukakan pintu di luar sana. Pasti dia lagi. Kenapa dia suka sekali mengganggu hidupku? gerutu Riana kesal. Ia sangat yakin orang yang bertamu itu tak lain adalah Dion. Riana sengaja tak menanggapi suara bel yang hampir berbunyi beberapa kali, begitu malas melihat wajah Dion. Emosinya pasti tak akan terkendali jika berhadapan dengan laki-laki itu nanti. Dan tanpa terasa, kedua mata Riana mulai terpejam dengan posisi terlentang di atas sofa. Sementara itu, Dion masih setia menunggu wanita itu membukakan pintu untuknya. ........................ Baru jam sebelas malam. Batin Dion ketika melihat jarum pendek pada jam tangannya menunjukkan angka 11. Tak disangka hujan turun begitu deras. Tubuh Dion pun mulai kedinginan. Walau, suara petir mengganggu indra pendengarannya, Dion memilih untuk bertahan di sana sampai dapat melihat wanita itu. Tak apa, dirinya akan menunggu. Di sisi lain, Riana langsung terbangun oleh suara petir yang cukup keras ditambah derasnya hujan di luar sana. Dion. Tiba-tiba Riana teringat dengan nama laki-laki itu, ia juga tak paham apa alasan yang tepat menggambarkan semua. Riana segera bangkit dari sofa, kemudian berjalan dengan langkah cepat ke arah pintu utama rumahnya. "Apa dia masih berada di luar? Tidak mungkin," gumam Riana pelan dan ragu untuk membuka pintu. Tetapi, setelah beberapa detik berpikir, Riana akhirnya memutuskan menarik knop pintu utama rumah. Astaga. Riana membatin karena kaget. Di depannya, tampak seseorang tengah duduk di atas kursi dengan mata terpejam. Udara di luar begitu terasa dingin hingga menusuk kulit Riana. Dia pasti kedinginan. Riana merasa sedikit iba melihat keadaan Dion yang menggigil. Sosok di depannya kini mulai tampak membuka kedua kelopak matanya. Pemuda itu kemudian menatap ke arahnya sambil tersenyum. "Terima kasih." Dion secara spontan mengeluarkan kata-kata tersebut karena Riana telah bersedia membukakan pintu untuknya. "Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Riana dengan nada sinis seperti biasa. Ekspresi datar tercetak di wajahnya juga. "Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu," jawab Dion jujur. Tidak pernah melepas tatapan dari sosok Riana, sejak matanya terbuka tadi. "Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanyanya tak sabaran. Riana tidak menyahut. "Masuklah. Di sini dingin." Persila wanita itu walau dengan nada dingin yang mengiringi perkataannya. Hujan masih turun dengan deras, jadi tidak mungkin rasanya menyuruh Dion untuk pergi. Riana masih punya hati dan empati. Dion lantas mengikuti Riana dari belakang, masuk ke dalam rumah wanita itu. Setelah menginjakkan kaki di ruang tamu, Riana lantas mempersilakan tamunya untuk duduk di sofa. Dion pun menuruti. Sedangkan, Riana melangkah menjauh dan berjalan ke arah kamar guna mengambil selimut dan bantal untuk tamu tak pernah diundangnya tersebut. Tak butuh lama, ia sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa benda-benda tersebut untuk tamunya. "Pakai ini," ucap Riana. "Terima kasih," balas Dion sopan yang disertai senyuman tulus. Hati pemuda itu menghangat karena setidaknya Riana masih memiliki rasa peduli, meski membenci dirinya. Dan ketika Riana hendak berjalan meninggalkan ruang tamu. Namun, Dion dengan cepat meraih tangannya. Riana menoleh ke arah pemuda itu dan mendelik tak suka. "Bisa kita bicara? Sebentar saja. Aku mohon," pinta Dion kemudian. "Apa?" Riana bertanya dengan nada sinis. Kini, ia sudah duduk di samping tamunya yang menyebalkan. Dion pun tampak menarik napas sejenak, sebelum mengeluarkan kata-kata, "Tolong izinkan aku untuk menikahimu." Pemuda itu berujar dengan mantap. "Sepertinya aku sudah pernah mengatakan jika aku tidak berniat meminta pertanggungjawaban darimu. Apa kamu lupa?" kata Riana dingin dan berusaha mengontrol emosi tak meledak demi janin dalam kandungannya. "Aku tidak akan bisa membiarkanmu membesarkan anak itu kelak sendirian," balas Dion bersikeras. "Aku juga berhak membesarkan anak kita karena aku ayahnya," lanjut Dion mencoba memberi pengertian pada Riana. "Tenang saja. Aku akan memberi kebebasan untukmu menemui anak ini kapan pun kamu mau nanti kalau dia sudah lahir," Riana berjanji. Dan akan menepati semua. Wanita itu kemudian berdiri, enggan terlibat percakapan lebih lanjut dengan Dion. "Bagaimana dengan status hukum anak kita kedepannya?" Pertanyaan Dion sukses menghantam kesadaran Riana akan fakta yang mungkin harus dihadapinya. "Ini sudah malam. Besok kita bicarakan lagi. Tidurlah," kata Riana sambil berjalan menuju kamar, tidak menjawab pertanyaan Dion dan menyudahi topik pembicaraan serius di antara mereka. ..................... Riana bangun dari tidurnya ketika sinar matahari yang masuk melalui celah gorden menyilaukan kedua matanya. Wanita itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30 pagi. Morningsickness kembali menyerang secara tiba-tiba, Riana langsung berlari ke kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya lagi dan lagi. Setelah merasa cukup baik. Riana keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Tak tampak sosok Dion di sana. Selimut dan bantal telah tertata dengan rapi. Dan juga terdapat sebuah surat di atas meja. Dengan segera Riana membacanya. 'Terima kasih karena telah memperbolehkanku menginap tadi malam. Maaf aku tak berpamitan denganmu. Ada urusan mendesak yang harus segera aku selesaikan. Maaf atas perbuatan yang aku lakukan malam itu. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku.' Riana tertegun membaca surat yang ditulis oleh Dion. "Apa selama ini aku bersikap keterlaluan padanya?" tanya Riana pada dirinya sendiri. "Tidak. Itu memang pantas dia terima karena telah berani menghancurkan hidupku," ucap Riana membela diri. Ia masih menyimpan rasa benci yang begitu kuat pada Dion. ................... Riana tengah memeriksa beberapa berkas dokumen saat bel rumahnya berbunyi. Jarum pendek pada jam dinding baru menunjukkan pukul satu siang. Tanpa menaruh curiga jika yang datang adalah Dion. Riana pun langsung membuka pintu. "Hai!" sapa Dion sambil tersenyum walau kini wajahnya penuh dengan luka dan lebam. Riana tentu syok. "Kamu kenapa?" tanya wanita itu terlihat sangat terkejut. "Aku tidak apa-apa," jawab Dion tetap dengan senyuman terbaik yang dia miliki. Namun satu detik berselang, tubuhnya telah ambruk menerjang Riana. "Dion, kamu kenapa?" tanyanya lagi dengan nada histeris. Posisi laki-laki itu kini berada dalam pelukannya. ..............................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN