Potongan 6.....
Riana membantu Dion, memapah dengan hati-hati masuk ke dalam rumahnya. Jika dilihat-lihat lagi, tubuhnya dan pemuda itu bahkan tak sepadan, baik tinggi tubuh maupun berat badan mereka.
Setelah sampai di ruang tamu, Riana memosisikan Dion untuk duduk di atas sofa. Wanita itu segera saja berjalan ke arah kamar, mengambil kotak P3K. Sedangkan, Dion masih meringis kesakitan karena lebam-lebam di wajah. Bahkan, pemuda itu merasakan jika beberapa bagian tubuhnya juga remuk.
.............
"Auwhh." Sebuah ringisan lolos keluar dari mulut Dion tanpa disengaja saat Riana mengobati luka-luka pemuda itu.
Sebenci-bencinya Riana terhadap seseorang, ia tak akan tega melihat orang tersebut berada dalam situasi tidak mengenakan. Misalkan seperti apa yang Dion alami kini. Riana juga bukan tipe yang akan kehilangan empati atau belas kasihan hanya karena orang itu pernah menyakiti dirinya.
"Terima kasih," ucap Dion dengan nada pelan. Pemuda itu tampak tidak mengurangkan intensitas matanya menatap sang lawan bicara, ibu dari calon anak mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi hingga wajahmu begini?" tanya Riana ingin tahu, namun ekspresi datar terpasang di wajahnya. Wanita itu sebenarnya sangat risih kala menerima sorot yang dalam dari sepasang mata Dion.
"Hadiah dari kakakku."
"Maksud kamu apa?" tanya Riana balik karena jawaban pemuda itu baginya masih ambigu. Padahal, ia tidak suka basa-basi.
Sementara, salah satu sudut bibir Dion terangkat menyadari mimik tak paham yang ditunjukkan wanita itu. Terlihat lucu. Walau, momennya sedang tidak tepat. "Hadiah spesial yang diberikan Kakakku. Bentuk rasa kecewa dan marahnya padaku."
"Maksudmu? Jangan bicara tentang sesuatu yang tidak bisa dimengerti olehku." Riana masih tak paham. Menurutnya, mana ada hadiah yang menyebabkan hingga luka lebam. Kecuali, pertengkaranlah yang terjadi.
"Tadi, aku menemui kakakku. Aku mengatakan padanya jika aku telah menghamili seseorang," cerita Dion to the point kali ini. Memberi tahu secara jujur.
Riana langsung menghentikan aktivitasnya membersihkan luka di wajah Dion. Tubuh Riana kemudian menegang. Kedua mata wanita itu pun membelalak lebar dan mengarah tepat kepada pemuda yang sedang duduk di sampingnya.
"Lalu aku dipukul," lanjut Dion tetap berusaha untuk tersenyum. Meski, wajahnya terasa kaku untuk sekadar membentuk sebuah ekspresi.
"Kenapa bisa?" tanya Riana guna mengetahui alasan mengapa kakak Dion tega menghajar adiknya sendiri. Tatapan mereka berdua tengah saling bersinggungan kini.
"Dia marah dan kecewa. Kayak yang aku bilang tadi, " jawab Dion apa adanya. Senyum pemuda itu tampak lebih tipis.
"Aku telah membuat banyak pihak kecewa. Aku mungkin cuma orang yang tak berguna," imbuhnya dengan suara pelan. Dion mulai kembali menyalahi dirinya sendiri.
Sementara itu, Riana tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya kelu. Ada perasaan iba menyelusup masuk ke dalam d**a. Walau, ia tidak pernah memikirkan sebelumnya. Riana pun seolah bisa sedikit memahami apa yang membuat Dion terganggu.
"Maafkan aku, Riana. Maaf atas perbuatan b******k yang aku lakukan padamu. Maaf karena dirikulah kamu harus menderita. Maafkan aku."
Dion mengubah posisi. Kini pemuda itu berlutut di depan Riana sembari menundukkan kepala. Tangan Dion tanpa sadar menggenggam kedua tangan milik Riana. Dan ajaibnya, tak ada penolakan dari wanita itu seperti sebelum-sebelumnya.
Riana seakan terhipnotis dengan apa yang dilakukan Dion. Dapat Riana rasakan kain celana panjangnya basah oleh air mata Dion. Ia tidak menyangka pemuda itu menangis di hadapannya. Perasaan tak enak hati semakin menghinggapi Riana
"Bangunlah, Dion," kata Riana dengan suara pelan terkesan sedikit lembut.
Dion mendongakkan wajahnya guna menatap wanita itu. Kedua matanya masih tampak berkaca-kaca. Ia benar-benar menyesal atas perbuatannya pada Riana. Apalagi, sangat jelas terlihat jika wanita itu membencinya.
Dion merasa frustrasi akan penolakan yang selalu ditunjukkan Riana, dia kehabisan kata-kata dan cara untuk meyakinkan Riana, memperbolehkan dirinya bertanggung jawab dengan cara menikahi wanita itu, sehingga ia dapat memberikan status hukum dan agama secara sah pada anak mereka. Dion juga ingin membesarkan anak itu bersama dengan Riana, menjadi orangtua yang sesungguhnya.
"Aku sadar aku memang berengsek dan tidak pantas mendapat maaf darimu. Tapi, jujur. Jauh dari dalam lubuk hatiku aku ingin menembus kesalahanku," kata Dion serius. Tak ada kebohongan di dalam sorot matanya.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? batin Riana bimbang.
"Lalu apa maumu?" tanya wanita itu dengan nada yang tetap dingin.
"Mungkin ini sudah sekian kalinya. Tapi, aku masih sangat berharap jika kau mengizinkanku untuk bertanggung jawab. Maukah kamu menikah denganku?"
Bagaimana ini Tuhan? Riana bergelut dengan keraguannya sendiri. Ia tidak ingin mengikat janji suci dengan seorang pria yang sudah secara tega menghancurkannya. Riana berpikir sejenak. Larut dalam pikirannya sendiri.
Hening melanda mereka hingga beberapa menit ke depan, sebelum akhirnya Riana berucap. "Baiklah. Aku akan memikirkan lagi. Aku butuh waktu. Jangan mendesakku terus."
Riana sedang menimbang-nimbang keputusan untuk menikah dengan Dion, dan melakukan ini semata-mata demi anak dalam kandungannya. Ia tidak boleh bersikap egois, hanya karena dirinya membenci Dion.
"Apa? Kamu benar bersedia menikah denganku Riana?" tanya pemuda itu tak percaya.
"Beri aku waktu memikirkannya kembali. Kamu tidak bisa mengerti perkataanku? Sudah aku katakan, jangan terus mendesakku," peringat wanita itu sedikit sarkasme.
"Baik," balas Dion pelan disertai senyuman. Setidaknya, ia bisa sedikit bernapas lega. "Terima kasih," ucap Dion dengan tulus kemudian.
"Aku hanya tak ingin bersikap egois yang nantinya akan berdampak pada anak ini," jelas Riana apa adanya. Mengutarakan isi kepalanya secara langsung.
"Akan tetapi, aku juga membutuhkan sedikit waktu untuk berpikir. Tidak mudah bagiku memutuskan menikah dengan orang penghancur masa depanku," lanjut Riana dengan kata-kata tajamnya yang secara tidak langsung mampu menusuk hati Dion lagi.
"Maafkan aku, Riana,"
"Sudahlah. Lebih baik obati lukamu dulu." Riana lantas mengalihkan pembicaraan. Wanita itu masih membantu Dion membersihkan luka.
.....................
Riana membiarkan Dion beristirahat di rumahnya. Dan, tidak akan bisa menyuruh pemuda itu pergi dalam keadaan yang cukup menurutnya memprihatinkan. Sedangkan, Dion sendiri tampak tertidur pulas . Secara tal sengaja Riana memandang wajah Dion yang penuh luka lebam, muncul rasa kasihan dalam dirinya lagi.
Tuhan, beri tahu aku bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan dia. Aku tak ingin membenci seseorang terlalu dalam. Doa Riana tulus.
Beberapa menit kemudian, terdengar dering nada dari handphone Dion. Pemuda itu terbangun dari tidurnya dan segera mengangkat telepon yang masuk. Raut wajah Dion pun berubah seperti sedang takut dan was-was.
".............."
"Apa yang dikatakan oleh Kak Adi memang benar," Dion menjawab pertanyaan dari si penelepon.
".............."
"Aku salah. Aku tidak berguna untuk keluarga," balas Dion dipenuhi keseriusan dan rasa sesal yang dalam.
".............."
"Aku akan bertanggung jawab. Aku tidak mungkin lari begitu saja," lanjut Dion lagi. Dapat Riana dengar, suara si penelepon sedang marah. Entah apa penyebabnya, wanita itu juga tak dapat mengetahui secara jelas.
"..........."
"Iya, aku segera ke sana sekarang dan menjelaskannya pada kalian. Maaf karena telah membuat kalian kecewa. Maafkan aku." Pemuda itu terus menampakkan penyesalan. Namun, sepertinya sambungan telepon sudah terlebih dahulu ditutup.
Apa yang terjadi? Riana masih tetap bertanya-tanya dalam hati.
Dion mengacak-acak rambutnya. Pemuda itu kian terlihat bingung dan gelisah. Akan tetapi detik berikutnya, ketika mata Riana menatap ke arahnya, Dion tersenyum dengan tulus.
"Semua akan baik-baik saja. Benar 'kan?" Dion berharap wanita di depannya bisa memberikan sedikit semangat.
Riana hanya menganggukkan kepala. Ia juga sebenarnya tak mengerti akan maksud perkataan Dion. Tetapi naluri membuat Riana mengangguk cepat tadi.
"Terima kasih," ucap Dion tulus. Walaupun demikian, raut kegelisahan begitu kentara di wajahnya.
"Bolehkah aku memegang perutmu sebentar? Beberapa detik saja. Bolehkah?" tanya Dion meminta izin, sungguh membutuhkan dukungan dari Riana maupun calon anak mereka.
"Baiklah." Sejujurnya Riana ragu. Ia sama sekali tak biasa. Tetapi, wanita itu juga tak tega menolak. Entah apa penyebabnya. Riana menjadi bingung.
Senyuman Dion mengembang seketika. Ia segera kembali berlutut di hadapan Riana. Tangan kanannya sedikit bergetar ketika hendak mendarat di perut wanita itu yang masih rata. Ada sensasi berbeda yang ia rasakan.
"Hei, Nak. Baik-baik di dalam sana. Jangan buat Ibumu kesusahan lagi. Maafkan, Ayah. Ayah sayang kamu, Nak," kata Dion penuh kasih.
Riana mematung dan memang hanya bisa diam tanpa berkata sepatah kata pun.
"Terima kasih," ucap Dion kemudian seraya melepas tangan kanannya dari perut wanita itu.
"Aku harus pergi dulu. Jaga dirimu dan anak ini. Aku akan kembali untuk melindungi kalian," katanya sambil tersenyum. Riana mencegah Dion dengan memegang tangan pemuda itu.
Dion lalu menoleh ke arah Riana. "Ada apa?"
"Apa yang sebenarnya terjadi, Dion?"
......................................................................