Hari demi hari Bayu tak kunjung lelah menjemput cinta mantan istrinya kembali. Dia sepenuh hati menyesal dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Aida.
Tidak dia pedulikan sikap Aida yang hambar dan membatasi diri. Bayu tidak ingin Aida takut dan menjauhinya lagi.
Dia pun mencari pekerjaan serabutan asal bisa tetap dekat dengan mantan istrinya.
Aida sebetulnya menyimpan kekhawatiran dengan Bayu. Tapi selama ini masih dia rasa aman tingkah mantan suaminya itu .
Sehingga dia tidak ambil pusing meski terkadang dia kasihan dan tersentuh dengan perjuangan Bayu untuknya.
Tok..tok..tok..
Setelah Aida menunaikan sholat Magrib, terdengar bunyi ketok pintu di rumahnya.
Aida hati hati mengintip sebelumnya siapa yang datang. Ternyata Firman. Lega hatinya.
" Assalamualaikum , sedang repot Da ?" kata Firman setelah dipersilahkan masuk.
" Enggak..habis sholat santai saja ini tadi ", Aida enggan bercerita kalau Bayu sudah menemukannya .
" oh..maaf mampir tidak kasih kabar. Kebetulan pas ada urusan dekat sini. Jadi aku sekalian mampir.
Bagaimana keadaanmu ?" tanya Firman.
" Seperti yang kau lihat, aku tambah gemuk disini sekarang ", Aida membuat lelucon garing agar terlihat lebih santai berinteraksi dengan Firman.
" Syukurlah kalau begitu. Shakira pingin oleh oleh Bandeng asap waktu tahu aku ke Gresik. Bisa antar aku Da ?" kata Firman.
" Ehmm, baiklah. Tunggu sebentar ya aku ganti pakaian dulu ", Aida segera masuk ke dalam kamarnya .
Dengan baju terusan selutut dan sedikit tambahan bedak dan lipstik Aida sudah siap untuk keluar mengantar Firman.
Firman buka pintu mobil penumpang depan dan mempersilahkan Aida masuk. Aida bergetar hatinya dengan perlakuan manis Firman.
Mereka pun melaju menembus malam ke pusat kota.
Sepanjang perjalanan mereka berbincang dengan akrabnya. Akhirnya kekakuan itu perlahan mulai mengikis dari keduanya. Aida merasa nyaman bersama Firman.
Setelah belanja oleh oleh Firman mengajak Aida makan malam.
" Masih sama ya seleramu ayam goreng kremes . Padahal banyak lho menu lainnya yang patut dicoba ", Firman tertawa melihat pesanan Aida.
" Iya Fir, dan Bu Dyah adalah juaranya kalau bikin ayam kremes. Aku ingat dulu kalau ibumu bikin ayam kremes aku sering main di rumahmu agak lama biar aku ditawarin makan.ha..ha..ha..", Aida tertawa lepas mengingat kelakuannya dulu.
" Kapan kapan main ke ibuku, biar dimasakin ayam kremes lagi ".
" InsyaAllah Fir, aku usahakan kapan kapan mengunjungi ibumu ".
Mereka pun makan dengan lahap dengan diselingi obrolan nostalgia masa kecil mereka.
Firman melihat Aida sudah tidak sekaku kemarin. Dia banyak cerita dan sesekali tertawa lepas yang membuat Firman merasakan Aida sahabat kecilnya itu sudah membaik kondisi hatinya.
Dia perhatikan wajah manis Aida yang terlihat agak tua dari umur dia sebenarnya. Mungkin tekanan hidupnya dahulu yang membuat dia seperti itu.
Syukurlah kalau Aida sudah menikmati hidupnya yang sekarang.
Pukul 9 malam Firman mengantar Aida pulang ke kontrakannya.
Di depan pagar ternyata sudah ada seseorang yang menunggu kedatangan mereka.
" Kenalkan saya Bayu ", Bayu mengulurkan tangan menjabat tangan Firman.
Firman kaget dan menerima uluran tangan Bayu.
" Sudah Fir..kamu balik dulu. Ntar kemalaman ", Aida menyuruh Firman pulang. Dia takut kalau Bayu bertindak kasar.
Firman bingung mau pergi meninggalkan Aida. Dia tahu Bayu orangnya temperamental menurut Aida.
" Sudahlah, kamu pulang saja. Dia sudah hampir sebulan ini mendekatiku. Tapi masih bisa kuatasi kok tenang saja ", Aida berkata lirih kepada Firman. Sedang Bayu menggeletukkan gigi menahan marah. Dia menahan amarah melihat Aida diajak pergi laki laki yang tidak dikenalnya.
Firman agak tenang ketika Aida bilang bahwa dia sudah berkomunikasi selama itu dengan mantan suaminya. Berarti aman saja kan keadaannya ?
" Kabari aku ya ?" kata Firman.
" Mari mas Bayu, saya pulang dulu ", pamit Firman yang disambut anggukan kecil dari Bayu.
Setelah Firman pulang, Bayu bergegas mendirong Aida masuk ke rumah.
" Siapa dia hah..!" Bayu bertanya dengan nada agak tinggi.
" Temanku dulu mas. Waktu aku masih kecil dan tinggal di Surabaya "., Aida berusaha menjawabnya dengan tenang meski sebetulnya dia takut setengah mati.
" Jangan bergaul dekat dengan lelaki lain. Aku tak suka. Kamu hanya milikku Aida ", geram Bayu.
" Kita sudah berpisah mas, sadarlah ", Aida berusaha menekan amarahnya.
" Tapi aku masih mencintaimu Aida. Aku mau kembali denganmu !", Bayu menatap tajam mata Aida.
" Iya mas, maafkan aku ", Aida berpura pura meminta maaf dan menyuruh Bayu pergi karena sudah malam.
" Awas Aida, aku mengawasimu !" Bayu kemudian pulang setelah sebelumnya memaksa mencium pipi Aida.
Aida menutup pintu rapat rapat dan menguncinya. Tubuhnya bergetar akibat menahan rasa takut yang luar biasa.
" Tenang Aida, kamu pasti bisa mengatasinya ", bisik hati kecil Aida.
Aida pun segera ambil air wudhu untuk sholat. Dia menengadahkan tangan memohon doa untuk kesulitan yang dihadapinya.
Firman di rumah ibunya gelisah. Dia telpon Aida setelah dia sampai rumah.
" Aida, bagaimana kamu ? suamimu tidak mengamuk kan ?" berondong pertanyaan Firman ketika Aida sudah mengangkat telponnya.
" Alhamdulillah Fir, dia hanya mengancamku kalau aku sampai dekat dengan laki laki lain ". Dan Aida pun menceritakan semua kejadia sebulan terakhir ini.
" Sepertinya dia masih mencintaimu Da ", kata Firman.
" Iya Fir, aku tahu dia berusaha berubah demi kembali denganku lagi. Tapi terus terang aku trauma dan takut dengannya. Ini tadi aku berusaha mengelabuinya agar dia tidak marah dan menyakitiku. Tapi aku berpikir untuk pindah atau pulang saja. Terus terang aku agak resah setelah dia mengetahui kamu mengajakku keluar ", kata Aida.
" Maafkan aku ya Da. Tapi kenapa kamu tidak bercerita padaku selama ini?"
" Aku tidak mau merepotkanku Fir. Sudah cukup banyak bantuan yang kau berikan padaku selama ini ".
" Sudahlah Da, jangan seperti itu. Kamu sudah kuanggap saudaraku sendiri. Jangan sungkan minta tolong padaku ".
" Baiklah Fir. Terimakasih sebelumnya ", Aida tak ingin berpanjang kata.
Firman pun menutup telponnya dengan lega.
Sungguh sebetulnya dia kepikiran Aida terus selama perjalanan pulang. Syukurlah dia baik baik saja.
Aida memasukkan baju dan keperluan pentingnya dalam 1 koper. Besok sepagi mungkin dia akan keluar dari sini. Entahlah, mungkin pulang saja ke Jogja sementara. Dia takut disini sendirian dekat dengan Bayu. Sejak bertemu Firman tingkah Bayu menakutkan dia lagi.
" Jangan mas, ampun mas , sakit hu..hu..hu.. sakit..", Aida terbangun dalam tidur sesaatnya. Ternyata dia menangis dalam tidurnya.
Kejadian lalu ternyata masih menghantuinya dikala hatinya sedang resah dan gelisah.
Dia lihat jam dinding sudah menunjukkan 03.45.
Dia segera ke kamar mandi untuk mandi sebentar dan begitu selesai sholat subuh, dia berencana meninggalkan rumah ini.
" Mau lari kemana kau Aida ?" suara berat menyambut telinganya ketika dia hendak menutup pintu rumah.
Aida terjengkit kaget hampir pingsan rasanya.