Malam datang lebih cepat dari yang Aluna sadari. Setelah mandi dan makan malam, triplets kembali menjadi diri mereka yang biasa. Mereka bercanda kecil, saling menyela, lalu mengantuk hampir bersamaan. Rutinitas malam berjalan seperti biasa tanpa hambatan yang berarti. Seolah kejadian sore itu tidak pernah ada. Aluna membantu mereka naik ke tempat tidur. Ia membacakan cerita singkat, dongeng malam yang menjadi rutinitas. Suaranya pelan dan sedikit serak. Tapi tidak membuat triplets protes, bahkan mereka masih mendengarkan dengan tenang. Tidak berselang lama, mata mereka setengah terpejam dengan tangan kecil mereka yang masih menggenggam erat ujung selimut. “Besok boleh main lagi?” tanya Rama memastikan, suaranya hampir tertelan kantuk. “Kita lihat besok, ya,” jawab Aluna lembut. Ia mem

