Pagi itu sudah terasa berbeda bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Aluna menyadari saat suara rumah tidak langsung meledak seperti biasa. Tidak ada teriakan berebut kamar mandi. Tidak ada kaki kecil berlari tanpa arah. Suara-suara itu tetap ada tapi tidak terdengar bising. Raka memanggil adiknya, Rama tertawa terlalu keras, dan Rajen mengeluh soal sepatunya. Tapi semuanya terdengar lebih teratur, lebih hati-hati. Seperti anak-anak yang tahu hari ini bukan hari biasa. Seragam mereka sudah rapi sejak malam. Kemeja putih yang masih kaku, celana yang belum sepenuhnya mengikuti bentuk tubuh kecil mereka. Tas-tas yang tergantung di punggung, tampak terlalu besar untuk bahu yang masih sempit. Sepatu hitam mengkilap, solnya bersih, belum banyak mengenal jalan. Aluna berdiri di depan mereka

