Akhir pekan datang dengan cara yang tidak istimewa. Tidak ada rencana besar. Tidak ada janji yang jauh-jauh hari disusun. Pagi itu hanya dimulai dengan Tama yang menutup ponselnya sebentar dan berkata, “Kita ke mall saja, yuk.” Kalimatnya terdengar ringan. Hampir santai. Aluna menoleh dari dapur, sendok masih di tangannya. Ia ragu—bukan karena tidak ingin, tapi karena tubuhnya masih terbiasa dengan ritme rumah yang sunyi di siang hari. Namun ia melihat ke arah anak-anak. Triplets langsung bereaksi, mata mereka berbinar seolah pintu dunia baru baru saja dibuka. “Mall?” “Yang ada mainannya?” “Yang banyak lampu?” Aluna tersenyum kecil. Ia tahu, belakangan ini mereka jarang pergi bersama. Terlalu banyak hari yang lewat begitu saja, masing-masing sibuk dengan versinya sendiri. Mungkin in

