Pagi itu berjalan dengan ritme yang tampak biasa, tapi mengandung banyak lapisan. Aluna melangkah memasuki halaman sekolah negeri tempat Rama, Raka, dan Rajen belajar. Sekolah itu tidak besar. Cat dindingnya sudah beberapa kali diperbarui, warnanya tidak lagi terang. Halamannya sederhana, tanpa lapangan luas atau bangunan tambahan yang mencolok. Tapi pagi itu hidup. Anak-anak berlarian kecil, menyebut nama temannya, tertawa tanpa beban. Suara bel belum berbunyi, namun udara sudah penuh energi. Aluna berjalan berdampingan dengan Tama. Mereka datang bersama, bukan karena diminta, bukan karena ingin dilihat, melainkan karena bagi mereka, pertemuan seperti ini penting. Tumbuh di lingkungan yang menganggap pendidikan sebagai fondasi membuat mereka terbiasa hadir di ruang-ruang seperti ini d

