Aku bersedia menikah siri dengan mas Akbar dan menjadi istri kedua Mas.... Ucapan itu terus saja terngiang di kepala Akbar. Ada rasa bahagia di dalam hatinya, tetapi ada rasa sakit juga yang tak bisa ia jelaskan. Sakit yang mampu menyesakkan jiwanya. Akbar baru saja sampai di rumahnya tepat pukul 1 dini hari. Ia berjalan menuju kamar tamu yang sudah sepekan ini ia gunakan untuk beristirahat. "Aku sudah menghangatkan makanan, makanlah dulu sebelum tidur." Ucapan itu menghentikan langkah Akbar, ia melirik ke arah dapur dan meja makan, Rima tampak sedang menata makanan yang masih mengepulkan asap di atas meja makan. Rima berucap dengan datar dan tanpa menoleh ke arah Akbar. Akbar berjalan mendekati Rima, dan ia melepaskan jaket kulitnya sebelum akhirnya duduk di kursi meja makan. R

