*
*
Sudah seminggu ini Raffa tidak bisa tidur dengan nyenyak, bukan karena perusahaannya mengalami masalah atau ia bertengkar dengan keluarganya.
Tetapi hanya karena satu panggilan "Daddy" dia dibuat uring-uringan setiap harinya. Ia bingung kenapa anak itu memanggilnya seperti itu. Dirinya bukan seorang ayah dan juga belum menikah, tidak mungkin jika ia menghamili anak orang terus ia tinggal begitu saja.
"Tunggu dulu apa jangan-jangan," Raffa berfikir sejenak sebelum seseorang masuk dan membuatnya semakin ingin menyekik orang yang sekarang sedang berdiri di depannya dengan senyum lebarnya.
"Darimana saja lo!" bukan sapaan yang ramah dari Raffa. Tetapi kemarahan yang tidak tersalurkan seminggu ini, akhirnya pecah juga.
"Wo, wo sabar kenapa gue disambut pake otot? Ada yang salah, bukankah kita menang tender." Ujar pria tersebut yang tak lain adalah Revon yang melangkah mendekat kearah sahabatnya itu. Dan duduk dengan tenang di depannya.
Raffa menghela nafas panjang tidak memperdulikan Revon yang menatapnya bingung. Ia memejamkan mata sejenak menenangkan hatinya yang sudah ingin bertanya tentang bocah kecil yang sudah membuatnya putus asa untuk berfikir.
"Kenapa telfon gue gak lo angkat?" walaupun nadanya tak semarah tadi, tetapi tatapan matanya masih menyiratkan keresahan yang begitu dalam.
"What’s wrong?" tanya Revon to the point.
"Siapa sebenarnya Angga?" pertanyaan yang membuat Revon mengernyit bingung, matanya menatap penuh selidik pada Raffa yang menunggu jawabannya.
"Ponakan gue, tepatnya ponakan Disa. Kenapa?"
"Lo yakin? Bukannya Disa anak tunggal?" tanya Raffa menuntut.
"Terus kalau anak tunggal dia gak boleh punya ponakan gitu?" jawab Revon tenang, melihat gelagat Raffa yang tampak kecewa dengan jawabannya.
"Kenapa?"
Raffa hanya menggelengkan kepalanya. "Sudalah, bagaimana kilang minyak di Aceh?" tanya Raffa mengalihkan topik yang membuat Revon semakin mengerutkan dahi melihat perubahan sahabatnya itu.
"Kita bisa tenang karena pipa yang kemarin sempet trouble sudah dibenerin, mangkanya lo gak bisa menghubungi gue seminggu ini karena gue ada di laut lepas. Ah gue gak tau Disa bakal ngamuk gimana padahal dua minggu lagi kami menikah." Curhat Revon yang hanya ditanggapi datar oleh Raffa.
"Kan bonusnya lo cuti sebulan," balas Raffa yang hanya diangguki oleh sahabatnya itu.
"Yah tapi sama aja kalau Disa ngambek sampe acara H, bisa mati gue." Kata Revon kembali, membuat Raffa menggelengkan kepalanya melihat sifat sahabat.
"Sudahlah gue mau meeting, lo bisa keluar kalau lo mau." Ujar Raffa yang mulai memilih proposal yang akan dibawanya dalam meetingnya siang ini.
"Baiklah, gue mau keluar dulu nemuin Disa dan Angga." Seru Revon melewati Raffa yang berhenti melangkah ketika mendengar nama Angga disebut. Matanya menatap Revon yang pergi menjauh dari pandangannya.
"Ah sial," gerutu Raffa dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Angga, ya ampun kenapa berantakan seperti ini!"
Aira sedikit histeris melihat ruang tv apartemen Disa sudah seperti terkena gempa bumi. Lihat saja mainan Angga ada dimana-mana, apalagi lego yang berceceran membuat Aira mendengus siap mengomel.
"Angga mau ke om Evon, Nda." Angga tidak memperdulikan Bundanya yang sedang mengomel dan memungut mainan yang berantakan karena ulahnya. Merasa tidak diperhatikan Angga berdiri di atas sofa hitam.
"Bunda, Angga mau om Evon!!" rengek Angga semakin keras, yang membuat sang Bunda berhenti dan melihat kearah anaknya itu.
"Tidak ada ke kantor om Revon okey, sebelum Angga jadi anak yang baik, nurut sama Bunda gak rewel dan satu lagi minum susunya sekarang!" ujarnya tegas.
Angga memang sangat manja pada semua orang terutama pada Revon dan Disa. Dan hal tersebut membuat Aira sedikit takut ketika dua sahabatnya itu sudah menikah dan memiliki anak. Angga akan merasa diabaikan karena bagaimanapun, dirinya dan Angga adalah orang asing.
"I dont like milk, Bunda!" seru Angga keras kepala. Baiklah, sepertinya Aira harus lebih bersabar menghadapi bocah kecil di depannya ini.
"Baiklah, jangan ikut Bunda dan Onty makan siang dengan om Evon!!" kata Aira meninggalkan Angga yang langsung meloncat mengejar sang Bunda yang sudah melenggang kearah dapur. Dengan cepat bocah kecil itu memanjat kursi dan duduk nyaman menghadap meja makan sambil mengambil segelas s**u putih yang ada di hadapannya.
"Eeuy," erang Angga ketika mencium bau s**u putih, dan dengan terpaksa ia menutup hidungnya dan mulai meneguk dengan cepat segelas s**u itu. Aira yang melihat itu hanya menggeleng pelan.
"Bunda," panggil Angga menunjukan gelas yang sudah kosong.
"Good, sekarang bereskan mainanmu!" titah Aira yang langsung dijawab anggukan oleh Angga.
Aira memang membiasakan Angga untuk mandiri bukan manja seperti kebanyakan anak seusianya. Mungkin sangat keterlaluan menurut orang yang melihatnya, apalagi dia sempat bersitegang dengan Disa dalam mendidik anak itu. Tapi Aira melakukan hal itu untuk melindungi Angga sendiri, melindungi dan dari Bundanya sendiri.
***
"Hallo ladies, dan jagoan om." Kata seorang pria yang mengalihkan pembicaraan dua wanita yang terlihat sibuk berbicara, dan anak kecil yang duduk di depannya yang juga sibuk dengan mainannya.
"Om Evon!!" teriak Angga girang dan tanpa babibu bocah kecil itu langsung meloncat kearah pria dewasa itu.
"Astaga kau bisa jatuh, sayang!" tegur Disa marah ketika melihat Angga yang hampir jatuh karena melocat kearah om kesayangannya itu. Angga yang melihat itu hanya tertawa cekikikan tanpa memperdulikan tantenya yang sedang mengelus d**a.
"Sudahlah sayang, dia tidak apa-apa." Sela Revon cepat ketika Disa akan mengomel kembali.
"Sayang-sayang, masih ingat punya tunangan disini!" seru Disa marah bukan pada bocah kecil yang sedang bermain dasi om nya itu, tetapi pada tunangannya yang sudah meringis melihat kemarahannya.
Aira yang melihat itu, hanya tersenyum geli dan mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Sudahlah Dis, gak enak dilihat orang."
Aira mencoba menenangkan Disa yang siap menyembur murka pada sang kekasih yang tidak memberi kabar selama seminggu dan membuat Disa khawatir bukan main.
"Maafin aku honey, kamu tau sendiri kerjaan ku sedang dirapel oleh Raffa untuk acara pernikahan kita." Revon menjelaskan sambil menatap tunangannya yang masih tidak mau menatapnya itu.
"Tapi bisakan sms, jika tidak bisa menelfon ku. Heran deh jaman udah modern, teknologi sudah canggih sms aja gak bisa!!" sebal Disa membuat Aira semakin menggelengkan kepalanya.
"Sudah-sudah gue laper, sebaiknya kita pesan makanan dulu." Aira menengahi perdebatan dua pasang kekasih itu. Sedangkan Angga sudah turun dari pangkuan Revon. Dan berjalan tanpa memperdulikan orang-orang dewasa itu.
"Loh Angga, dimana?" tanya Aira ketika tidak mendapati keberadaan anaknya disamping Revon. Seolah tersadar, Disa dan Revon juga mulai melihat kesana-kemari, tetapi tidak menemukan bocah kecil itu.
"Gue cari dulu, kalian tetap disini." Revon bergerak cepat mencari keberadaan ponakannya itu.
"Om Faa!"