Daddy

1325 Kata
* *   "Hai boy." Dan ucapan Raffa itu hanya dijawab tatapan datar dari Angga.   "I am, not your boy." Alis Raffa naik sebelah mendengarnya, ada apa dengan anak ini.  "Hmm, okey hai siapa nama mu?" Ujar Raffa kembali, mengalah dengan anak kecil tidak akan membuatnya bangkrut kan, batin Raffa. "Angga," jawab Angga datar, sedatar wajahnya yang menggemaskan. Bagaiman bisa, anak sekecil ini bisa memiliki tampang dan aura yang menurut Raffa sangat jarang ia temukan pada anak kecil. Siapa sih orang tuanya, batin Raffa bertanya. "Who are you?" pertanyaan Angga membuyarkan penilain Raffa pada bocah itu. Dengan sedikit menegakkan badannya, Raffa menjawab pertanyaan Angga dengan suara dibuat seramah mungkin. "Okey my name is Raffa, and you can call me om, maybe?" "Okey, Om Fa." Putus Angga sepihak, dengan kepalanya yang mengangguk kecil. Tanpa berkata lagi, bocah kecil itu mencoba turun dari kursi tempatnya duduk sedari tadi dan mengambil tas miliknya yang berada di meja kerja Raffa. "Om Fa?" tanya Raffa tidak mengerti. Kenapa bocah itu bisa menyingkat namanya seenaknya sendiri, batin Raffa. Angga menghentikan gerakannya, lalu menatap Raffa. "Yup, you dont like it?" tanya Angga datar, yang membuat Raffa terkejut bukan main dengan sikap dan sifat anak di depannya ini. "No, I like it." Jawab Raffa, Angga kembali berbalik dan dengan menggemaskan bocah itu menyeret tasnya kearah sofa hitam, tanpa memperdulikan sang pemilik ruangan yang masih terkejut mendapati sikap acuh dari bocah ajaib itu. Raffa memandangi bocah yang sekarang sedang membuka tas kecil yang dibawa Revon tadi, dan mengeluarkan sekantung permainan yang ia tahu adalah lego. Tanpa sungkan dengan orang dewasa yang sedang menatapnya, Angga mulai memasang dan merakit balokan lego dengan serius. Akhirnya, Raffa pun juga tidak memperdulikan Angga yang juga tidak peduli dengannya. Entahlah, sikap acuh bocah itu mengingatkannya dengan abangnya, Raffi Soetaja. Oh God!! batin Raffa menggerutu. Bukan karena proposal yang ia baca mengalami kesalahan, tetapi karena ia dianggap tidak ada oleh seorang bocah kecil itu. Apa yang salah pada dirinya? baru saja kenal, tetapi kenapa anak itu menatapnya selayaknya musuh bebuyutan. Dengan menghela nafas panjang, Raffa berdiri dan mendekati bocah tersebut yang masih serius merakit mainannya. "Sedang apa?" tanya Raffa ketika sudah duduk disamping Angga yang masih merakit entah membentuk apa. Angga yang mendengar suara disebelahnya hanya menatap sebentar, dan melanjutkan pekerjaannya. Tanpa memperdulikan Raffa terbengong dibuatnya. "Airplane." Jawabnya kemudian, dan membuat Raffa mengangguk mengerti lalu melihat Angga yang yang sibuk melihat cara merakitnya di buku panduan. "Kenapa?" Tanya Raffa kemudian, ketika melihat Angga mulai kebingungan dalam merakit bagian sayap. Tidak mendapat jawaban, akhirnya Raffa berinisiatif untuk membantu merangkainya. "Om bantu ya." Kepala Angga mendongak, matanya mengedip lucu lalu memberikannya begitu saja pada Raffa. "Ini." Raffa memperhatikan, lalu mulai membongkar rakitan itu. "Oh yang ini bukan disini, tapi bagian yang panjang yang harusnya begini, nah kan." Jelas Raffa yang merubah letak dari lego yang di buat Angga, bocah kecil itu akhirnya tersenyum karena apa yang menjadi kebingungannya sedari tadi bisa terselesaikan. "Thank you." Ujar Angga dan membuat Raffa tersenyum dibuatnya. Akhirnya dia bisa juga membuat anak itu memperhatikan dirinya. "Sama-sama, kamu menyukai lego?" tanya Raffa kemudian sambil melihat Angga yang mulai asik kembali dengan legonya. "Hmm, om suka?" tanyanya, dan perhatian Angga beralih pada Raffa yang sedang menatapnya itu. Deg Jantung Raffa sedikit terkejut, ketika bola matanya bertemu dengan bola mata kecil milik Angga. Entah kenapa, tetapi ada yang salah dengan hatinya ketika melihat bola mata Angga. "Daddy?" kata Angga sambil mengedip polos pada Raffa yang masih agak linglung dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut kecil Angga. "Daddy?" tanya Raffa memastikan, jantungnya berdebar kuat sekali. Hingga untuk bernafaspun ia sedikit sesak. "Who is Daddy?" kata Angga tidak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti. Kening Raffa berlipat, "Kamu baru saja memanggil saya Daddy." Terang Raffa bingung sendiri, karena ia yakin jika Angga baru saja memanggilnya Daddy. "No, I am not call you Daddy!" setelah mengatakan itu, Angga dan melanjutkan merangkai pesawat yang tertunda. Sedangkan Raffa tidak mungkin salah dengar kan, telinganya masih berfungsi dengan baik dan dirinya tidak mungkin berhalusinasi di siang hari seperti sekarang. "Om," Angga memberikan lego tersebut kepada Raffa yang sedari tadi menatapnya tanpa henti. Raffa melihat lego tersebut dan mulai melihat rangkaian yang dibuat oleh bocah kecil di depannya yang juga menatap serius kearah rangkaian itu. Dengan pelan Raffa mulai membenarkan tata letak lego yang salah dan memasang yang belum dirangkai. Dan tanpa mereka sadari, posisi Angga sudah duduk di pangkuan Raffa yang masih sibuk merangkai dan melihat pada buku panduan. "Maaf, permisi pak." Suara lain mengagetkan mereka berdua yang sedari tadi serius dan tidak mendengar ketukan pintu. "Ya Ben, ada apa?" tanya Raffa melihat kearah Beny yang terpaku melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak, ruangan bosnya yang biasanya sangat rapi sekarang terlihat sangat berantakan dengan berbagai mainan lego di meja dan sofa. Belum lagi sepatu kecil bocah yang sedang duduk di pangkuan bosnya yang sekarang ia injak. "Oh, saya hanya mengingatkan bahwa meeting dengan seluruh devisi sudah siap pak." Jelas Beny mengingatkan. Dan wajah Raffa menjadi dingin seperti semula. "Tolong tunda besok pagi saja Ben, dan juga pesankan pizza sekarang." Kata Raffa sambil kembali fokus terhadap bocah di pangkuannya yang masih diam tak terganggu. "Tapi pak..." "Tolong tutup pintunya, Ben!" potong Raffa cepat. Tanpa memperdulikan sekertarisnya yang menghela nafas panjang meninggalkan bossnya itu. Setelah membutukan waktu yang lama, yaitu satu jam. Akhirnya dua orang beda usia itu menyelesaikan satu buah pesawat lego yang sesuai dengan gambarnya. "Selesai," seru Raffa senang. Mata Angga berbinar, dengan senyum yang kecil yang menghiasi wajah tampannya. Tok Tok "Masuk." Raffa menjawab, dan bersandar memperhatikan tingkah lucu bocah di depannya. "Ini pizzanya pak." Kata Beny, sambil menenteng satu box besar pizza dengan dua minuman soda di tangan satunya. "Makasih, Ben." Ujar Raffa sambil memindahkan Angga ke sebelah kirinya dan mulai membuka box pizza. "Wow pizza!!!" Angga berseru kesenangan melihat begitu banyak pizza di depannya membuat matanya berbinar bahagia. Padahal Bundanya selalu melarangnya untuk makan-makanan junk food seperti pizza padahal ia sangat menyukainnya. "Kamu menyukainya?" tanya Raffa, "IYA!!!" dan dijawab anggukan cepat oleh Angga. Dengan tidak sabar, bocah kecil itu langsung mencomot satu buah pizza. "No, kita cuci tangan dulu tanganmu kotor." Ujar Raffa menahan laju tangan Angga yang sudah mencomot pizza. "Yaah, tapi..." "No, ayo kita cuci tangan dulu." Ujar Raffa berdiri dan melihat Angga yang masih menggunakan satu sepatunya. "Ada apa?" tanyanya yang melihat raut bingun dari Angga. "Sepatunya kulang satu." Jawabnya cadel, sambil celiukan melihat keberadaan satu sepatunya. "Om gendong aja ya, nanti kita cari sepatumu." Kata Raffa langsung mengangkat Angga dalam gendongannya dan membawanya ke kamar mandi. Selesai mecuci tangan, Raffa dan Angga kembali kearah sofa yang sudah diduduki oleh pria dewasa lainnya yang tak lain adalah Revon. "Sudah selesai?" tanya Raffa melihat temannya yang sudah duduk manis dan meminum soda yang juga dibawakan oleh Beny tadi. "Sepuluh  menit yang lalu, hay boy dari mana?" tanya Revon melihat ponakannya yang nyaman dalam gendongan sahabatnya itu. "Cuci tangan Om," Angga berujar senang, sambil turun dari gendongan Raffa dan dengan sigap mengambil pizza yang tadi ia ambil. "Wow clam down boy, nanti kamu tersedak." Seru Revon khawatir melihat tingkah Angga yang langsung melahap satu potong pizza. Raffa yang melihat itu hanya tersenyum geli dan juga ikut menikmati sepotong pizza tersebut. "Bukankah ada rapat dengan semua devisi ya, Raff?" tanya Revon disela menikmati pizza di mulutnya. "Cancel," jawabnya enteng. Sedangkan Angga yang mulai menghabiskan sepotong pizza kembali mencomot satu potong pizza lagi. Revon yang melihat itu langsung menyela tangan mungil yang akan membawa potong pizza itu ke dalam mulutnya. "Just two okey, not more!!" tegas Revon pada Angga yang membuat dua orang tersebut menatap tidak suka. "Please Om," rengek Angga memelas dan dijawab gelengan tegas oleh omnya. "Yes or no, atau Bunda akan marah padamu." Revon berujar tegas pada bocah yang menatap memelas pada dirinya. Raffa yang melihat itu merasa tidak setuju karena apa salahnya makan pizza. "Jika lo tutup mulut, pasti Bundannya tidak akan tahu." "Tidak Raff!" tegas Revon pada sahabatnya itu. "Kenapa?" "Mother always do the best for her cildren, remember?" jawab Revon sambil melihat Angga yang sudah selesai menikmati dua potong pizza. Setelah menikmati makan pizza bersama Revon mengajak Angga berpamitan pada Raffa. "Thanks udah jaga Angga buat gue. Ayo, boy say to thank you sama om Raffa." Kata Revon pada Angga yang berdiri di sebelahnya. "Thank you, om." Ujar Angga sambil menjabat tangan Raffa, 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN