*
*
Raffa mematung melihat wanita itu, wanita cantik yang sedikit familiar di pikirannya. "Maaf pak Raffa, liftnya sudah terbuka." Sebuah suara mengintrupsi apa yang sedang menjadi fokus utama Raffa sedari tadi.
"Ben, kamu tahu siapa gadis yang bersama Revon itu?" tanya Raffa yang masih memperhatikan Revon dan Disa yang berjalan keluar dari perusahaannya.
"Bukankah itu Disa, kekasih dari pak Revon pak?" jawab Beny bingung sendiri. Karena bagaimana bisa seorang Raffa yang notabennya sahabat Revon, tidak mengetahui jika wanita itu adalah tunangan sahabatnya sendiri.
"Bukan, tapi sudahlah." Ujar Raffa sambil berlalu dan masuk ke dalam lift, akan tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti.
"SHIIIT!!" umpatnya, dan berbalik pegri meninggalkan Beny yang masih terbengong melihat kelakuan bosnya itu.
Dengan terburu-buru, Raffa menyusul kepergian Revon dan wanita asing itu. Sambil tetap fokus ke depan Raffa mencoba menghubungi ponsel Revon tapi tidak dijawab.
"Dimana mereka!!" geram Raffa tak tertahan, sedangkan wajahnya tampak cemas memikirkan sesuatu.
***
Di tempat berbeda, Revon, Disa dan juga Aira sedang menikmati makan siangnya di sebuah restoran dekat kantor Revon. Terlihat Angga sedang berjongkok didekat kolam ikan, menikmati sesuatu yang belum ia pernah lihat di Amerika.
"Kasian amat sih anak lo Ai, liat ikan koi kayak liat berlian aja." Ujar Disa ketika melihat tingkah lucu Angga yang sedang asyik sendiri dengan apa yang dilihatnya.
Aira hanya terkekeh mendengarnya. "Emang lo kira ikan koi bisa hidup di Amerika. Walaupun ada sih beberapa, tapi Angga tidak pernah lihat yang kayak gitu."
"Om ikannya walnanya kok jelek gitu sih?" tanya Angga tiba-tiba yang sudah nangkring di samping Revon. Tiga orang dewasa yang sejak tadi sedang berbicara satu dengan lainnya, menatap bingung dengan apa yang ditanyakan Angga tentang ikan jelek.
"Ikan jelek? Emang Angga lihatnya dimana?" tanya Revon ingin tahu.
Dengan sigap Angga langsung menarik tangan Revon kearah kolam sambil menunjuk ikan koi. Pria dewasa itu tersenyum gemas pada ponakannya itu lalu dengan sabar ia menjelaskan.
"Itu namanya ikan koi boy, dan bukan jelek tapi warnanya banyak macamnya, indahkan." Jelas Revon, tetapi sepertinya Angga tampak tidak puas dengan penjelasan omnya itu. Anak kecil itu melirik pada Disa yang juga ikut berjongkok bersama mereka.
"Gini sayang, Angga tau ikan hiu warnanya abu-abu, kan? Nah kalau ikan koi itu warnanya ada empat ada orange, merah, hitam dan putih. Seperti jerapah yang punya warna putih sama coklat." Jelas Disa yang membuat bocah kecil itu akhirnya mengangguk mengerti, walaupun entah benar mengerti atau tidak.
"Oleh sebab itu ikan koi bukan jelek, tapi sangat cantik warnanya." Tambah Disa lagi sambil mencium gemas pipi Angga yang tembam itu.
"Shark Onty?" tanya Angga kemudian, karena hiu termasuk ikan terkeren di lautan menurutnya.
"Cool fish like you, buddy." Dan membuat Angga tersenyum senang mendengarnya. Tawanya berderai hingga membuat orang di sekitarnya ikut tertular.
"Gila anak lo Ai, masalah ikan aja harus butuh penjelasan begitu ribet. Lo kasih makan apa sih ni anak, punya otak kritis banget." Gerutu Disa karena untuk kesekian kalinya, ia harus memutar otak tentang pertanyaan dari anak sahabatnya itu.
"Jangan kan lo, gue aja kadang bingung kalau dia tiba-tiba tanya sesuatu yang di luar ambang batas gue dalam berfikir." Ujar Aira berlebihan, membuat Revon yang melihat dua sahabat itu sedang mengeluh satu dengan lainnya, hanya menggelengkan kepalanya geli.
"Oh ya Rev, beneran gak apa-apa gue nitip Angga sama lo. Gak ngerepotin?" tanya Aira lagi, karena ia dan Disa akan melakukan meeting dengan pihak WO pernikahan.
Karena sedari tadi Angga selalu merengek meminta diantar ke tempat om kesayangannya itu. Sehingga dari pada Angga rewel, Disa meminta sang kekasih untuk menjaga Angga sementara waktu, ketika ia dan Aira sibuk mengurus segala sesuatu menyangkut pernikahannya.
"Sudahlah Ra, gue yang harusnya terimakasih karena lo mau bantu mengurusi pernikahan gue. Lagian Angga gak pernah ngerepotin gue kok, tenang aja." Ujar Revon menenangkan Aira yang terlihat tidak enak jika harus menitipkan putranya itu. Walaupun Aira tahu, Revon dapat dipercaya untuk menjaga Angga dengan baik.
"Baiklah, aku titip Angga ya sayang. Kalau ada apa-apa telfon aku aja." Kata Disa tenang sambil melahap makan siangnya. Berbeda dengan Aira yang memiliki perasaan yang mengganjal jika meninggalkan Angga dengan Revon.
***
Dua laki-laki beda usia itu memasuki area lobby kantor dengan sesekali tertawa bahagia dan membuat perhatian beberapa orang yang berada disana tertarik untuk melihatnya.
"Pak Rev," panggil wanita berusia 25 tahunan menghampiri pria yang dipanggil tersebut. Revon berbalik dan mendapati sang sekertaris menatapnya dengan raut wajah tidak enak.
"Ada apa, Alena?" tanya Revon ketika sang sekertaris cantik bernama Alena itu mendekat padanya. Angga hanya diam melihat wanita asing yang berdiri di depan Omnya.
"Capa?" tanya Angga pada Revon ingin tahu, tangannya menunjuk kearah wanita yang terlihat mengatur nafasnya yang memburu akibat berlari menghampiri Revon. Revon tidak menjawab pertanyaan Angga, hanya menciumnya sekilas sebelum menjawab peryataan sekertarisnya.
"Kenapa, Al?"
Alena menghela nafas panjang sebelum berkata, "Pihak dari HT sudah menunggu bapak sekarang untuk melakukan tinjauan ulang tentang kontrak proposal mereka."
"HT? kapan?" tanya Revon sambil membenarkan letak gendongan Angga yang mulai kurang nyaman dalam gendongannya. Anak itu terlihat tidak sabar untuk turun dari gendongan om Revonnya.
"Sekarang, mereka sudah menunggu di ruangan bapak." Membuat Revon melihat kearah Angga yang sadari tadi memainkan dasinya.
Bagaimana dengan Angga jika dirinya meeting sekarang, karena tidak mungkin jika ia harus membawa Angga dalam meeting dengan kontrak ratusan juta itu. Apalagi jika dia harus menitipkan Angga pada Alena yang dipastikan harus ikut dengannya dalan meeting ini, batin Revon.
"Raffa, apakah dia ada di ruangannya?" tanya Revon kemudian. Jika sahabatnya itu ada di tempat, ia bisa menitipkan Angga padanya.
"Iya, pak Raffa baru saja masuk ke ruanganya setelah meeting dengan devisi pemasaran, pak." Jawabnya Alena lugas, membuat Revon mengangguk mantap.
"Baiklah Al, persiapkan semuanya. Lima menit lagi saya kesana." Ujar Revon kemudian, dan berjalan menuju lift para petinggi yang akan membawanya ke lantai paling atas gedung ini. Tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dahulu, Revon memasuki ruangan yang didominasi warna putih dan abu-abu yang terkesan dingin tak tersentuh.
"Bisa tidak jika lo ngetuk pintu dulu, Rev." gerutu Raffa yang masih sibuk membaca berkasnya, dan sedikit terganggu dengan kedatangan sahabatnya itu. Angga yang sejak tadi masih dalam gendongan Revon mulai terlihat bosan.
"Sorry, tapi gue butuh bantuan lo." Kata Revon langsung tanpa memperdulikan gerutuan sang sahabat.
Sedangkan Raffa masih tidak memperhatikan sahabatnya yang masih menggendong Angga yang sekarang memperhatikan Raffa di depanya. Wajah anak itu terlihat tidak suka, ketika melihat pria asing yang tidak menghiraukan keberadaannya.
"Apa yang.." kata-kata Raffa langsung terhenti ketika ia melihat anak kecil yang menatapnya penuh dengan alis menukik di usianya yang masih kecil sekali. Siapa anak ini? batin Raffa bertanya.
"Gue mau nitip Angga, dia ponakan Disa dan sedang dititipin ke gue. Dan masalahnya, gue sekarang sedang ada meeting mendadak dengan pihak HT, jadi terpaksa gue harus nitipin Angga ke lo." Jelasnya sambil mendudukan Angga di kursi depan meja Raffa yang langsung menghadap kearah pria yang sejak tadi tidak melepaskan tatapan dari bocah kecil itu.
"Lo tenang aja, Angga bukan anak yang rewel kok. Hanya biarkan dia duduk aja tanpa gangguan apapun." Jelas Revon kemudian, sambil meletakkan tas kecil yang banyak terisi oleh mainan Angga.
"Tapi gue juga..." omongan Raffa disela cepat oleh Revon.
"Gue tau lo sibuk, tapi jika pihak HT membatalkan proposal itu maka proyek kita yang sudah berjalan 25% , akan berhenti mendadak dan lo pasti tau kan akibatnya apa."
Dan setelah segala paksaaan akhirnya Raffa, mau menjaga Angga yang sejak tadi diam melihatnya. Raffa, dan anak kecil bukanlah sebuah kecocokan yang dapat disatukan dan Raffa tahu itu. Tapi melihat bocah kecil itu yang sejak tadi diam membisu, membuat Raffa mulai penasaran juga.
"Hai boy." Dan ucapan Raffa itu hanya dijawab tatapan datar dari Angga.
"I am, not your boy."