Prolog
"Adit bisa jemput aku? mang dirman gabisa kesini,lagi gak enak badan" ucap diana yang kebingungan bagaimana bisa pulang karena supirnya sedang sakit dan ojek onlinenya yang dipesannya juga tidak datang datang.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.40. Yang mana sebentar lagi akan malam, Suasana pun juga terasa semakin dingin. Meski hujan tak deras lagi, namun tetap saja Diana yang tak memakai baju tebal sangat terasa dinginnya.
"Oke aku kesana sekarang. tunggu ya" Adit segera bangkit mengambil jaket dan kunci mobil namun belom sampai gerbang, ponselnnya berdering.
Diana kembali melihat jam dan kini sudah pukul 18.20 Perasaannya mulai tak enak karena Adit yang di tunggu juga belum datang ditambah ojek online di cancel.
Mau tak mau jika Diana tidak menerobos hujan akan semakin malam ia bisa pulang.
Namun belum sempat melangkahkan kaki tiba tiba mobil berhenti di depannya
"Ini neng diana ya?" ucap orang tersebut
"iya Pak kenapa ya?" tanya diana yang keheranan sebab tak mengenal sosok lelaki di depannya.
"tadi mas Adit nyuruh saya jemput neng diana. Mas Adit gabisa kesini karena harus kerumah neng putri" ucap mang ujang yang ternyata supir Adit.
Diana pun langsung naik ke dalam mobil tersebut, walaupun pun banyak yang ingin dia tanyakan mengenai Adit kenapa kerumah putri. Namun ia memilih untuk menanyakan saja langsung ke Adit.
Sebenarnya Diana memilih diam selama ini karena mungkin memang putri lebih butuh Adit, karena Adit salah satu sahabat putri di jakarta dan keluarga putri tidak disini hal hasil putri hanya bisa bergantung pada Adit.
Bagaimana pun Diana ia tetap perempuan biasanya ia juga bisa merasakan sakit dan cemburu.
Meskipun Diana suka mengatakan jujur bahwa ia cemburu tetap saja Adit tidak merespon apa apa dan tetap saja berlebihan mengkhawatirkan putri.
Ditengah kegelapan malam, mobil yang di kendarai mang ujang menembus perjalanan yang lapang.
-
"Mang makasih ya udah anter Diana" ucap Diana sebelum masuk ke dalam rumah
Melihat mang ujang yang kembali melanjutkan perjalanan ia segera masuk kerumah untuk mengganti pakaian
"assalamu'alaikum mah" salam Diana usai memasuki rumah
"Walaikumsalam aduh sayang kenapa baru pulang mama nungguin kamu dari tadi mama telfon juga ga aktif" ucap mama Diana khwatir yang melihat putrinya baru pulang.
"maaf mah batre Diana abis barusan aja" ucap Diana yang hanya bisa cengengesan melihat mamanya khwatir.
"mah Diana ke atas ya mau mandi biar seger"
"Yaudah sana, nanti turun ya makan. mama udah masak" Ucap mama yang langsung bergegas duduk melanjutkan menonton TV
-
Ternyata setelah mandi Diana merasa tenang dan segar walaupun masih tetap memikirkan tingkah Adit yang menurutkan Agak kelewatan
Biarpun Diana memilih diam agar tak menimbulkan masalah dengan Adit namun tetap saja ia merasa cemburu jika Adit lebih mengkhawatirkan putri dibanding dirinya.
Setelah mengeringkan rambut dan menatanya. Diana mencari HPnya dilihatnya ternyata HPnya benar benar habis daya ia langsung mencari charger dan
mengecasnya.
teringat pesan mamanya Diana kembali turun untuk makan, pikirnya lebih baik ia makan dari pada terus memikirkan Adit.
Makan malam berjalan khidmat mama dan papa Diana makan dengan tenang. dan sekarang tugas Diana membereskan semuanya yang dibantu bi lia.
ditengah kesibukanya merapihkan meja makan belom rumah Diana bunyi menandakan ada tamu yang datang.
"Non bibi permisi dulu ya, mau buka pintu dulu" ucap bibi yang berjalan ke arah pintu.
ternyata Adit yang datang, sekarang perasaan Diana binggung serta heran buat apa Adit datang malam begini.
"Kenapa aku telfon ga aktif" tanya Adit tiba tiba setelah hadir di depan Diana.
"HP aku mati lagi aku cas di kamar emang kenapa?" Balas Diana sedikit jutek.
"kamu marah aku gak jemput" Tanya Adit penasaran sebab tak biasanya Diana jutek padanya.
"Buat apa aku marah, bikin cape doang. kamu juga ga bakal respon apa apa. lagian aku udah terbiasa kok sama kelakuan kamu yang kayak gini"
Entahlah melihat wajah Adit, Diana merasa sangat kesal bukan karena kelakuannya tapi karena hal yang menjadi kebiasaannya.
"Harus berapa kali aku kasih tau kamu aku tuh gak ada apa apa sama putri, tadi tuh putri chat aku, bilang kakinya sakit abis jatoh jadinya aku kerumah dia dulu buat lihat keadaannya" ucap Adit yang berusaha meredam emosi berbicara dengan Diana.
"Iya aku tau mau aku marah kayak gimana pun putri tetep prioritas kamu, gini aja deh Adit dari pada aku terus ngerasa berjuang sendiri buat hubungan ini lebih baik kita akhirin semua"
Adit yang mendengar Diana kaget, karena semarah apapun Diana dia tak pernah seberani ini mengucapkan putus.
"kok kamu malah ngebesarin masalah si. Niat aku baik loh kesini ngejelasin ke kamu kenapa aku kerumah putri dulu"
"Aku cape Adit. Sekarang gini deh pacar kamu itu Aku atau Dia" ucap Diana dengan nada yang lebih tinggi.
"Jelas kamu, kamu pacar aku Diana" ucap Adit tegas.
"sayangnya aku ga ngerasa gitu. Malah sekarang aku merasa sebenernya aku penghalang hubungan kamu sama putri"
Nada bicara putri kembali melemah dan air matanya mulai turun membasahi pipinya.
"Aku minta maaf. Oke aku salah" Ucap Adit yang tidak tega melihat Diana menangis.
"Aku cape"
setelah mengucapkan itu Diana langsung naik ke lantai atas meninggalkan Adit yang menatapnya dengan kesal.
Melihat Diana yang marah, Adit juga kesal kepada Diana kenapa ia tak pernah paham posisi putri di kehidupan Adit dan setelahnya Adit juga memilih pulang membiarkan Diana untuk menenangkan dirinya sendiri.