Pernikahan Anes dan TakaHari ini di tangannya, Anes menerima akta cerai yang dia nantikan selama dua bulan. Beberapa lembar surat itu sangat berarti bagi masa depan yang akan dia bangun bersama Taka. Sudah tak sabar rasanya menjadi pengantin dan istri sesungguhnya dari pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Anes memotret beberapa lembar kertas itu, lalu mengirimkannya pada Taka. Dia tahu, calon suaminya itu pasti akan sangat lega dengan hal ini. Ada banyak hal yang perlu disiapkan dengan cepat agar niatan mereka segera terlaksana dengan lancar. Tok! Tok! “Nes, boleh Bunda masuk?” seru Laili dari balik pintu. Anes menoleh, lalu menjawab, ”Boleh, Bun, masuk saja.” Anes merapikan kembali berkas itu untuk dimasukkan ke dalam amplop cokelat besar. “Surat dari siapa tadi?” tanya Laili

