Erina pun menceritakan kejadian yang ia alami pada Ryan,
"Apa kau melihat siapa pelakunya?"
Erina hanya menggelengkan
kepalanya.
****
Ryan yang merasa penasaran, mulai menyelidiki siapa pelakunya, Ryan pun mendatangi sekolah Erina dan menelusuri tempat kejadian berharap ia bisa menemukan sebuah petunjuk.
Ryan bahkan menanyai setiap murid yang berada satu kelas dengan Erina, hingga ia menemukan sesuatu yang mengejutkan, Namun Ryan berusaha untuk memastikannya terlebih dahulu.
****
Erina yang sudah kembali lagi ke rumah, mendapat perlakuan istimewa dari Billy, Billy menjadi lebih perhatian padanya, sehingga membuat Erina merasa aneh dengan sikap Billy.
Billy datang membawa kan makanan dan obat untuk Erina.
"Makan lah, agar kau cepat pulih!"
"Iya,"
Erina pun mulai memakannya perlahan, namun tiba tiba Billy merebut sendok yang sedang ia pegang dan menyuapinya,
"Tidak usah, Aku bisa sendiri!"
"Dengan cara seperti itu, Kau tidak akan menghabiskan makanannya dengan benar! Aku hanya ingin kau cepat sembuh, Agar Ibu tidak berpikir, jika aku tidak menjagamu dengan baik!" Imbuh Billy
Erina pun tidak punya pilihan lain selain menuruti Billy, ia sedang tidak ingin bertengkar dengan Billy karena masalah ini.
"Apa, Ibu tahu?" Tanya Erina
"Tidak, Aku tidak ingin ibu khawatir,"
Billy pun menyuapi Erina perlahan, sambil menatap dalam Erina, di dalam lubuk hati Billy ia merasa bersalah karena kejadian yang menimpa Erina.
'Maaf, aku tidak menjagamu dengan cukup baik.' Batinnya.
****
Erina kembali masuk ke sekolah, Arvin tersenyum lebar saat melihat Erina duduk di sampingnya, setelah dua hari ia tidak bertemu dengan Erina. Arvin sudah mencoba untuk menemui Erina, namun Billy menghalangi dan beralasan jika Erina butuh istirahat, karena tidak ingin berdebat Arvin memilih untuk mengalah.
"Bagaimana keadaanmu? Maaf, aku tidak menjengukmu,"
"Tidak apa apa, lagipula aku juga baik baik saja."
Mereka pun mulai mengobrol tentang pelajaran Erina yang tertinggal, Arvin memberikan sebuah buku catatan yang sudah ia tulis untuk Erina, Erina sangat berterima kasih pada Arvin.
****
Di Jam istirahat, Erina bersama Arvin sedang menikmati makan siang mereka di kantin,
"Erina, Aku pergi ke toilet dulu ya," Pamit Arvin.
Erina pun mengangguk diiringi senyuman.
Erina yang hendak mengambil cemilan, tanpa sengaja seseorang menabrak Erina.
"Eh, Maaf! Aku tidak sengaja,"
"Iya, tidak apa apa!"
Erina yang masih memilih cemilan, baru menyadari jika siswa siswi yang berada di kantin sedang memperhatikannya, bahkan ada beberapa orang yang menertawakannya.
Erina hanya menatap heran ke arah mereka, Tiba tiba Arvin pun datang dan melihat Erina yang kebingungan.
"Ada apa?" Tanya Arvin.
"Emm, Aku tidak tau, apa ada sesuatu yang salah? entah kenapa, Aku merasa mereka sedang menertawakanku."
Arvin pun menatap ke arah siswa siswi tersebut yang memperhatikan Erina, Lalu saat Erina berbalik, Arvin menyadari ada selembar kertas yang menempel di punggung Erina.
Arvin pun langsung mencabut kertas itu dan membaca tulisan yang ada pada kertas itu,
'Aku adalah Simpanan Om Om'
Arvin yang merasa kesal pun langsung merobek kertas tersebut agar Erina tidak membacanya.
"Katakan padaku! Siapa yang berani melakukan ini, Hah?!" Teriak Arvin.
Siswa siswi yang berada di kantin hanya terdiam dan tertunduk, tidak ada yang menjawab pertanyaan Arvin.
Karena sangat kesal, Arvin pun menarik tangan Erina dan membawa Erina pergi dari kantin, Erina hanya kebingungan dengan apa yang terjadi.
Arvin membawa Erina ke taman yang berada di dekat sekolah, dengan raut wajahnya yang masih kesal, Erina pun memegang lembut tangan Arvin, dan Arvin menatap lembut ke arah Erina.
"Apa isi tulisan nya?"
Arvin pun menghela nafas kasar,
"Aku simpanan Om Om,"
Pegangan tangan Erina pun terlepas, Erina terdiam sejenak.
"Kau tidak apa apa?"
Erina pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak apa apa,"
"Apa kau tau siapa yang menempelkan kertas itu padamu?"
Erina pun terdiam dan berpikir, ia teringat kejadian seseorang yang menabraknya saat sedang memilih cemilan.
"Apa mungkin gadis yang tadi?" Gumamnya.
"Gadis yang mana?" Tanya Arvin
"Tadi, saat aku sedang memilih cemilan, ada seorang gadis yang menabrak ku, Apa mungkin dia?"
"Itu mungkin saja,"
Arvin pun terdiam dan berpikir,
'Apa mungkin kejadian kemarin yang menimpa Erina juga ulah siswa di sekolah ini?' Batin Arvin.
****
Hari berikutnya, Terdengar suara keributan di dalam kelas, Erina pun menghentikan langkahnya sebelum masuk kelas karena terdengar namanya disebutkan.
Terdengar beberapa orang tua murid yang sedang berbicara dengan wali kelasnya menuntut agar Erina dikeluarkan dari sekolah, karena dianggap sudah menodai nama baik sekolah dengan menjadi simpanan om om.
Mendengar perkataan mereka, Buliran bening itu pun tiba tiba mengalir begitu saja, Arvin yang melihat Erina pun langsung menghampirinya dan menarik tangan Erina pergi dari sana.
Arvin membawa Erina untuk pergi ke taman, dan memberi Erina sekaleng minuman.
"Sebenarnya, Apa yang terjadi?" Tanya Erina.
"Gosip tentangmu sudah tersebar hingga ke telinga para orang tua siswa, foto foto mu yang sedang bersama paman mu itu juga tersebar, mereka menuntut untuk mengeluarkan mu dari sekolah, Aku sudah menjelaskan jika itu pamanmu, tapi entah mengapa mereka lebih mempercayai gosip murahan itu!"
Erina pun terdiam..
****
Erina mengurung diri di dalam kamar, gosip itu telah membuat Erina sangat sedih, ia juga berpikir bagaimana jika teman temannya tahu tentang pernikahannya.
Billy yang mendapat laporan dari asisten rumah tangga nya jika Erina belum makan dan mengurung diri di kamarnya, bergegas pulang untuk memastikan keadaannya.
"Apa Erina masih di dalam kamarnya?" Tanya Billy sesaat setelah ia tiba di rumah.
"Iya Tuan,"
Billy pun melangkah menuju ke kamar Erina, ia mengetuk pintu kamar Erina namun tidak ada jawaban dari Erina, Billy pun membuka pintu yang ternyata tidak dikunci oleh Erina.
Erina yang melihat Billy masuk, langsung menghapus kasar air matanya.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?"
"Aku sudah mengetuknya, Tapi kau tidak mendengar,"
Billy melangkah lebih dekat dan menatap lekat Erina.
"Apa sesuatu terjadi di sekolah?"
Erina pun terdiam..
****
Billy yang tidak mendapat jawaban dari Erina pun memilih untuk mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi, ia menghubungi kepala sekolah dan ia mengetahui ternyata Erina dituntut oleh orang tua siswa untuk dikeluarkan, Billy pun mengetahui jika Erina dirundung oleh teman temannya, Billy mengepalkan tangannya karena merasa sangat kesal setelah mengetahui yang terjadi di sekolah.
Pandangan Billy pun tertunduk, Ia merasa bersalah karena perjanjian itu, Erina tidak bisa menikmati masa masa remajanya.
Billy pun menghampiri Erina kembali ke kamarnya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu,"
Billy pun duduk disamping Erina
"Aku, akan mengakhiri perjanjian kita lebih awal,"
Erina pun terkejut mendengar perkataan Billy
"Kenapa tiba tiba?"
"Kau berhak untuk menjalani hidupmu dengan baik,"
"Tapi, bagaimana dengan ibu? Aku tidak mau ibu jadi membenciku, Aku baru saja merasakan kasih sayang seorang ibu, Aku tidak ingin kehilangan itu! Setidaknya, biarkan aku merasakan kasih sayang ibu sampai perjanjian ini berakhir."
Billy terlihat kebingungan dengan permintaan Erina, Hingga suara lembut seseorang memecahkan keheningan.
"Erina?" Panggil seseorang dari muka pintu.
Pandangan Erina dan Billy pun beralih ke asal suara, Erina pun mengukir senyuman melihat sosok Diana yang ternyata sengaja datang karena mendengar dari asisten rumah tangga mereka, jika Erina mengurung diri.
Erina berlari dan langsung memeluk erat Diana, Diana pun membalas pelukan Erina tak kalah erat.
****
Mereka bertiga duduk bersama di ruang tamu, Diana menanyakan pada Billy tentang apa yang terjadi
"Apa terjadi sesuatu?"
Billy dan Erina pun saling menatap,
"Jujurlah, katakan?" Desak Diana
Billy pun menceritakan tentang yang terjadi pada Erina, hingga penuntutan para orang tua siswa yang ingin agar Erina dikeluarkan.
Diana berdecak kesal mendengar penjelasan dari Billy.
****
Keesokkan harinya,
Erina masuk ke sekolah seperti biasanya, namun saat ia membuka pintu kelas dengan mengejutkan, sebuah ember berisi cairan putih dan lengket terjatuh tepat diatas kepalanya dan membuat seragamnya basah dan kotor.
Erina tertegun, sedangkan para siswa yang berada di dalam kelas menertawakan puas melihat jebakan mereka yang tepat sasaran.
Arvin yang baru tiba, melihat kondisi Erina yang seperti itu pun langsung murka, Ia menarik kerah baju salah seorang siswa yang sedang tertawa
"Apa kau yang melakukannya, Hah?!"
Siswa itu pun menggelengkan kepalanya.
"B-bukan aku!"
Erina pun pergi berlari dengan airmata yang mengalir membasahi pipinya, saat ia menuruni tangga menuju keluar gedung sekolah, seseorang dengan sengaja membuatnya jatuh tersungkur ke tanah, hingga lutut, siku dan pelipisnya pun terluka.
"Upss, Maaf! Aku tidak sengaja!" Ucap seorang siswi.
Seseorang pun membantu Erina berdiri, dan menatap tajam siswi yang mencelakai Erina, Ia menunjuk wajah siswi itu,
"Aku akan menghancurkanmu!" Ucapnya dengan tatapan mengintimidasi yang membuat merinding.
Siswi itu pun terlihat bergetar ketakutan dengan ucapan pria itu, kejadian itu membuat semua perhatian para penghuni sekolah beralih ke arah mereka.
Pria itu pun merangkul bahu Erina yang terlihat menundukkan pandangannya, Dengan suara lantang, Pria itu pun berteriak,
"ERINA BUKANLAH SIMPANAN SIAPAPUN!! DIA ADALAH ISTRIKU YANG SYAH!!"
Sontak semua orang yang berada disitu pun syok mendengar pengakuan Billy, tak terkecuali Arvin.