Perjodohan

2191 Kata
Sepulang dari kantor, Billy disambut oleh diana, namun perbedaan sikap Billy sangat terasa oleh Diana semenjak kejadian itu, Diana hanya menatap sendu sang putra. Pribadi Billy yang kini menjadi pemurung dan tertutup, membuat diana mengkhawatirkan kondisi sang putra, bahkan diana pernah memergoki Billy tengah meneteskan air matanya saat ia sendirian. Diana pun mulai bertanya tanya, apakah ini keputusan yang tepat yang sudah ia ambil? **** Erina malam ini lembur, Ia harus membantu para tukang masak menyiapkan makanan untuk acara pernikahan esok hari, Terlihat langkah Erina yang terburu buru kesana kemari karena harus menyiapkan bahan bahan yang diminta oleh para tukang masak, karena terburu buru tanpa sengaja Erina tergelincir dan terjatuh, hingga membuat bahan masakan yang ia pegang pun berhamburan, semua mata pun menatap tajam ke arah Erina. Bahkan seorang tukang masak disana merasa sangat marah karena keteledoran Erina, ia membanting spatula yang tengah ia pegang, ia meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, dengan sorot mata tajam tukang masak itu pun berteriak "Apa kau tidak bisa berhati hati!! Kau ini ceroboh sekali!! Cepat rapikan!!" Bentaknya. Erina pun menundukkan pandangannya, dan mulai memunguti bahan makanan yang berserakan, sedangkan para tukang masak memulai kembali melanjutkan masaknya. Selesai merapikan semuanya, Erina pun membuangnya ke tempat sampah yang berada diluar dapur.  Erina terlihat duduk di tangga dengan menundukkan pandangannya dan memegang kepalanya. **** Dilain sisi, Billy terlihat sedang menatap ke arah luar jendela memikirkan sesuatu, lamunannya pun buyar saat sang ibu diana datang membawakan secangkir coklat hangat untuknya. “Apa yang sedang kau pikirkan, nak?” mendengar suara sang ibu yang memanggilnya Billy pun berbalik dan tersenyum menatap sang ibu. “Tidak ada Bu, hanya memikirkan tentang meeting tadi.” Billy pun meraih cangkir tersebut dan duduk di birai kasur diikuti oleh sang ibu yang juga ikut duduk disampingnya. Billy menyeruput coklat hangat itu, “Emm, Ibu ingin mengenalkanmu pada seseorang, bagaimana? Apa kau mau?” Tanya Diana setelah beberapa saat ia berpikir. Billy terdiam sesaat, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Terlihat senyuman berkembang di wajah Diana. **** Sepagi ini Erina sudah disibukkan dengan kegiatannya merapikan dapur dan juga peralatan masak yang belum sempat ia cuci semalam. Dilain sisi, Amanda mendapatkan sebuah laporan jika mereka kekurangan pelayan dikarenakan pelayan yang lain sedang membantu di acara pernikahan yang menyewa team memasak dari restoran tersebut. “Bagaimana ini? Aku tidak mungkin menutup restoran, karena akan  ada pertemuan penting disini,” Gumamnya Hingga pandangannya pun beralih pada Erina yang tengah mengelap meja dan kursi yang berada di restoran itu. “Erina!” Panggil Amanda Erina pun menghampiri Amanda “Iya, Bos?” “Bisakan kau menjadi seorang writer? Setidaknya untuk hari ini, kebetulan kita kekurangan staff hari ini karena sebagian ikut ke acara pernikahan itu.” “Baik,” Erina pun mulai melayani para pelanggan dengan cukup baik. **** “Bos, Maaf Tamu Bos sudah datang!” Ucap salah seorang karyawan. “Baik, Suruh Mereka menunggu di ruang VIP,” “Baik.”’ Amanda pun terlihat mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan tamu nya. **** Amanda tersenyum lebar saat memasuki ruangan VIP, dan nampak seorang wanita paruh baya yang tengah duduk sendiri membaca sebuah majalah, raut wajahnya pun sedikit berubah, ia melihat sekitar seolah sedang mencari sesuatu, Hingga wanita paruh baya itu pun menyadari kehadiran Amanda. “Amanda, apa kabar?” Tanya wanita paruh baya itu. Amanda pun menghampirinya, “Baik bu, bagaimana keadaan ibu?” “Aku juga baik,” “Oh ya Dimana Billy?” Tanya Amanda “Billy sedang ke kamar kecil,” Jawab Diana yang ternyata menjadi tamu special Amanda. orang tua amanda adalah teman baik keluarga Billy, Sedangkan Amanda sudah lama menyukai Billy, namun Billy tidak terlalu memperhatikannya, bahkan Billy tidak mengenalnya. Saat masih kecil, Amanda seorang anak yang pemalu, karena itu ia tidak berani untuk berkenalan lebih dulu.  Sementara itu, Billy yang baru saja keluar dari kamar kecil mendapatkan panggilan dari Ryan. Saat ia sedang Asyik menelpon, Billy yang tidak memperhatikan jalan yang ada di hadapannya pun tanpa sengaja menabrak seorang gadis yang sedang sibuk membawa sebuah nampan berisikan piring-piring kotor menuju dapur. “Praanggg” Piring pun berjatuhan dan bahkan ada yang pecah, Gadis itu langsung memungutnya, dan Billy pun juga langsung membantu memunguti pecahan pecahan piring tersebut. “Maafkan Aku, aku tidak sengaja!” Ucap Billy Namun tiba tiba tangan Billy terhenti memunguti pecahan beling itu, matanya membulat sempurna saat menatap sosok yang berada di hadapannya kini. “E-Erina?” Erina pun berpaling menatap ke arah Billy, Ia langsung berdiri dan hendak pergi, namun Billy menghalanginya dengan memegang lengan Erina “Tunggu!” “Apa kau baik baik saja?” Imbuh Billy. “Seperti yang kau lihat, Aku masih hidup! Maaf mengecewakanmu!” Erina pun melangkah pergi meninggalkan Billy, Dilain sisi,  “Hallo Billy?” Terdengar suara dari ponsel Billy, Billy tidak menyadari jika ia tidak menutup telepon dari Ryan. Karena tidak ada jawaban, Ryan pun menutup telponnya. ‘Jadi Billy menemui Erina? Aku akan melacaknya.’ Batin Ryan. **** Billy terlihat murung saat ia masuk ke ruang VIP,  Amanda menyambut kedatangan Billy dengan menyodorkan tangannya, “Halo, Apa kabar Billy? Aku Amanda!” Sapa Amanda dengan tersenyum lebar. “baik,” Jawab singkat Billy sambil menyambut uluran tangannya. Billy pun duduk berhadapan dengan Amanda. “Billy, Amanda ini adalah putri dari sahabat ibu, dia adalah seorang gadis yang mandiri, cantik, dan juga terbilang sukses dalam karirnya di bidang kuliner. Billy pun hanya mengangguk pelan. Di Tengah perbincangan mereka, dua orang datang dengan salah satunya mendorong sebuah troli makanan. Diana terlihat sama terkejutnya seperti Billy saat melihat Erina yang mendorong troli makanan tersebut. Koki restoran yang bersama Erina pun menghidangkan makanan untuk mereka, sedangkan Erina hanya berdiri di belakang troli tersebut dengan pandangan tertunduk dan terdiam. “Jadi, Rencananya kapan kita akan mulai pertunangannya?” Tanya Diana Tiba tiba Billy dan Amanda terlihat terkejut dengan pernyataan Diana yang tiba tiba, meskipun pertemuan ini memang bertujuan untuk menjodohkan mereka. “Aku terserah Ibu saja,” Jawab Amanda. Diana pun menatap ke arah Billy. “Bagaimana denganmu Billy?” tanya Diana Billy hanya mengangguk pelan tanpa berkata apa apa. Amanda terlihat sangat senang melihat respon Billy yang sama sekali tidak menolak perjodohan ini. Berbeda dengan Erina, pandangannya terus saja tertunduk, Hingga setelah koki menyelesaikan tugasnya menata makanan diatas meja, mereka pun melangkah pergi.   Erina yang sudah tidak mampu menahan air mata yang memenuhi kedua bola matanya pun langsung berpamitan untuk kembali ke gudang tempat yang ditinggali selama ini, dengan alasan ia sedang tidak enak badan. Erina menutup rapat rapat pintu gudang, ia pun terduduk lemah di lantai, tangisannya pun pecah, ia menangis sejadi jadinya, setelah ia mendengar semuanya. “Kau jahat Billy!!! Kau membuatku jatuh cinta padamu sedalam ini, dan pada akhirnya kau yang membuatku sepatah ini,” Ungkap Erina dengan sesenggukan. **** Billy terlihat sedang melamun di kamarnya, ia melihat foto foto kebersamaannya dengan Erina, Selama ini Billy menyembunyikan foto-foto tersebut di file tersembunyinya. Billy menatap nanar dan mengelus foto Erina yang tengah tertawa bersamanya, ia pun kembali teringat bagaimana raut wajah Erina saat mendengar rencana pertunangan Billy dengan Amanda.    Billy pun berpikir untuk menemui Erina, Ia kemudian melangkah pergi tanpa sepengetahuan sang ibu. **** Sesampainya di depan restoran, Billy melihat Erina yang masih terlihat sibuk melayani para pelanggan, Billy pun memilih untuk menunggu restoran tutup. Selama hampir dua jam Billy menunggu, Restoran pun akhirnya akan tutup, terlihat Amanda yang keluar dari restoran. “hari ini aku akan pulang, untuk memberitahu kabar bahagia ini, kau tidak apa apa kan sendirian?” Tanya Amanda. “Tidak apa apa,” Amanda pun hendak melangkah pergi, “Selamat untuk pertunanganmu,” Ucap Erina. Amanda pun tersenyum menatap Erina, ia pun masuk kedalam mobilnya dan melaju pergi, Erina yang hendak masuk ke dalam restoran pun dikejutkan dengan panggilan seseorang. “Erina?” Erina pun membalikkan tubuhnya, “Billy?” **** Billy dan Erina pun duduk bersama di sebuah kedai kopi, “Bagaimana kabarmu?” tanya Billy. “Aku sudah menjawab pertanyaan itu tadi, Apa aku harus menjawabnya sekali lagi?” Billy pun tersenyum tipis, “Selamat untuk pertunangan kalian,” Ucap Erina tanpa menatap Billy. Billy yang menatap lekat Erina pun menjawab “Itu bukan keinginanku, Kau tau siapa gadis yang benar benar ku cintai, dan itu bukanlah Amanda!” Erina pun terdiam, “Ini sudah malam, Aku harus pergi.” Erina yang tidak ingin merasa lebih sakit lagi karena ucapan Billy, ia memilih untuk pergi namun Billy mencoba untuk menahan Erina, Billy mencoba untuk mendahului langkah Erina. “Erina dengar! Sampai detik ini, hanya kamu yang aku cintai! dan kita masih belum resmi bercerai, secara hukum kita masih sah sebagai suami istri!” “Jika begitu, cepat urus perceraian kita! Aku tidak ingin masih ada ikatan denganmu!” Ketika Erina kembali melangkah, Billy tiba-tiba menarik Erina ke dalam pelukannya dan memeluk Erina sangat Erat seolah ia tidak ingin melepas Erina. Erina mencoba untuk memberontak, “Lepaskan!”  “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu! Tiba tiba Erina pun berhenti memberontak setelah mendengar ucapan Billy. “Aku benar benar sangat mencintaimu!” Billy terlihat meneteskan air mata nya saat ia mengatakannya, perasaannya yang tulus pada Erina, membuat Erina mampu merasakannya, dan membuatnya terdiam untuk beberapa saat. **** Hari ini, Erina terlihat lebih ceria daripada sebelumnya, Ia lebih  bersemangat mengerjakan pekerjaannya. Begitupun dengan Billy yang terlihat lebih ramah dan murah senyum setelah pertemuan mereka semalam. Amanda yang melihat Erina Ceria pun ikut tersenyum melihatnya. “Erina?” Panggil Amanda. Erina pun menghampiri Amanda, “Iya, Ada apa bos?” “Emm, bisakah kau menemaniku ke suatu tempat,” Erina pun mengangguk dan menyetujui ajakan amanda. **** Amanda rupanya membawa Erina ke sebuah toko perhiasan, “Kenapa kita kemari?” Tanya Erina, Amanda pun tersenyum, “Bantu aku untuk memilih cincin pertunanganku.” Seketika raut wajah Erina pun langsung berubah, “Ada apa?” Tanya Amanda. Erina pun menggelengkan kepalanya pelan, mereka pun mulai melihat lihat cincin yang berada di etalase. “Bagaimana menurutmu, dengan yang ini?” Tanya Amanda sambil menunjuk salah satu cincin mewah bermata berlian. “Aku rasa Tuan tidak akan menyukai Cincin yang seperti itu, Dia lebih menyukai cincin yang sederhana dengan makna yang ada didalamnya.” “Oh, Begitu ya? Eh, Dari mana kau tau Billy akan menyukai hal seperti itu?” Erina terlihat gugup, “Ah, I-itu karena…” Ucapannya terpotong oleh seorang pelayan toko yang datang  menghampiri mereka. “Selamat siang Nona, ada yang bisa kami bantu?” Tanya si pelayan, Pelayan itu pun menatap Erina dan mengenalinya, “Bukankah Nona yang waktu itu membeli cincin pernikahan disini?” Tanya Pelayan. Amanda terkejut mendengar pengakuan si pelayan. “Cincin pernikahan?” Ucap heran Amanda Amanda pun menatap curiga ke arah Erina. “Kau sudah menikah? Dengan Siapa? Apa jangan jangan?”  Erina memotong perkataan Amanda, “Eh, Tidak tidak, waktu itu aku memang berencana untuk menikah, tapi tidak jadi,” “Sayang sekali Nona, padahal Cincin yang anda pilih saat itu memiliki makna yang sangat dalam untuk hubungan kalian.” Imbuh si pelayan “Makna yang dalam?” Gumam Amanda, Karena kecurigaan Amanda, ia pun mengambil ponselnya di tas dan membuka isi galeri ponselnya, disitu terlihat ada beberapa foto Billy. “Apa gadis ini membeli cincin pernikahan bersama dengan pria ini?” Tanya Amanda penasaran. Pelayan itu pun memperhatikan wajah dalam foto itu, “Oh, Bukan Nona! Bukan Pria ini!” Amanda terlihat bernafas lega dan tersenyum setelah mendengarnya, sedangkan Erina terlihat canggung dan tersenyum tipis. ‘Karena saat itu, Kak Ryan yang menemaniku membeli cincin bukan Billy.’ Batin Erina. **** Selesai membeli cincin, dalam perjalanan Amanda kembali bersuara “Maaf ya untuk yang tadi? Aku mencurigaimu yang tidak-tidak.” Erina pun mengangguk pelan “Tidak apa apa!” “Oh ya, bagaimana dengan pernikahanmu? Kenapa bisa gagal?” Erina terlihat menatap sendu Amanda, “Karena ibunya tidak merestui kami,” “Apa? Tapi kenapa?” “Ceritanya terlalu panjang untuk diceritakan,” “Baiklah, tidak apa apa! Semua sudah berlalu bukan, aku yakin kau pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik darinya.” Erina hanya tersenyum tipis mendengarnya. Dilain Sisi.. Ryan terlihat mengikuti langkah Billy terus menerus dan mendesak Billy untuk memberitahu keberadaan Erina, namun Billy terus saja menolak dengan alasan tidak tahu menahu. “Kau tidak perlu bohong! Aku mendengar dengan sangat jelas suara Erina di ponselmu! Katakan, Dimana dia?” Billy pun memutarkan bola matanya, “Jika aku tau, aku tidak akan memberitahu keberadaan Eria saat ini, karena ulahmu itulah yang membuat kami terpisah dan Erina diusir oleh ibu!” “Harus berapa kali lagi aku meminta maaf atas kesalahanku?” “meskipun kau berlutut dan menyembah ku, aku tetap tidak akan memaafkanmu!” Ryan terdiam dan terpaku, Billy pun melangkah pergi meninggalkan Ryan yang mematung. ****      Billy menghubungi Erina yang baru saja tiba di restoran, Erina pun meminta izin untuk mengangkat telepon pada Amanda. In Call “Hallo, Ada apa kau menghubungiku?” Tanya Erina. Billy pun tersenyum dan menghela nafas panjang “Aku merindukanmu!” Erina tersenyum mendengar perkataan Billy “Sudahlah jangan merayu! bekerja lah yang giat dan jaga kesehatanmu!” End Call Erina pun mematikan telponnya sepihak, “kenapa dimatikan? Apa dia sedang sibuk di restoran?” Gumam Billy.  **** Erina pun melanjutkan pekerjaannya di restoran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN