Tifa POV “Dasar gendeng.” “Sapa yang gendeng, Tif?” Kulepas sedotan yang ujungnya baru saja kumasukkan ke dalam mulut. Aku menoleh cepat. Kutegakkan posisi duduk, lalu berdehem. Aku sampai lupa kalau sekarang aku tidak sedang sendirian. Ada Hikmah yang kini berdiri di samping meja. Hikmah meletakkan piring berisi nasi campur ke atas meja di depanku. “Siapa yang gendeng?” tanya Hikmah lagi. Teman semasa biru putihku yang sekarang sudah menikah dan punya satu putri itu menarik punggung kursi di depanku, lalu duduk. “Lo nggak ada kerjaan?” tanyaku sambil menoleh ke arah etalase makanan. Temanku yang satu ini punya warung nasi campur, atau nasi rames. “Ada si Yuli. Dia bisa ngurus pelanggan,” jawab Hikmah. “Jadi, siapa yang tadi lo bilang gendeng? Si Arda?” Astaga … kok bisa Hikmah neba

