Tifa POV “Mih ... kenapa sih, Mamih bikin keputusan tanpa ngomong dulu sama aku? Yang mau nikah itu sebenarnya aku atau Mamih?” Aku benar-benar emosi. Mamih yang sedang berdiri membelakangiku, kini menoleh. Tangan wanita itu masih memegang piring dan lap. Ternyata mamih sedang mengelap piring. Aku mencoba mengatur tarikan dan hembusan napas yang sudah beberapa kali lebih cepat. Degup jantungnya tak lagi normal. Setelah mendengar ocehan Topan soal pernikahan kami, aku tidak mengikuti keinginannya pergi ke butik untuk memesan pakaian pengantin. Aku langsung pulang. Dan di sinilah aku sekarang. Berdiri di ambang pintu ruang makan yang menyambung dengan dapur. Mamih ada di sana, di dekat wastafel. “Kamu itu kayak jelangkung. Tiba-tiba datang. Nggak pakai salam. Apa itu yang Mamih ajarkan

