Arda POV Akhirnya hari ini tiba juga. Saat aku tidak punya ruang untuk bersembunyi lagi. Tatapan Tifa menuntutku untuk menjawab dengan sebenar-benarnya. Rasanya ruangan besar yang kami huni perlahan mengecil. Semakin kecil dan kecil hingga menghimpitku. Membuatku tidak bisa berlari. Membuatku merasa kesulitan hanya untuk memasukkan oksigen ke dalam paru-paru yang mengempis. “Ya … gue gai.” Akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutku. Jangan tanya seperti apa yang saat ini kurasakan. Aku tidak bisa menggambarkan secara persis. Aku hanya bisa mengepal telapak tangan sekuat mungkin. Berharap perasaan yang tidak karuan itu tersalurkan. Sepasang mata Tifa membulat. Mulutnya menganga. Kutekan katupan rahangku. Aku sudah siap akan segera mendengar kalimat cacian, atau melihat tatapan menjijik

