Beberapa saat kemudian Edward tiba di rumah sakit, pemuda berusia 20 tahun itu juga membawakan Cecilia seember ayam goreng restoran fast food terkenal.
"Ed. Terima kasih, ya. Nanti Kakak pasti makan, tapi Kakak jadi nggak enak sama kamu, uang saku kamu pasti terpakai banyak—"
"Kak Cecil nggak perlu cemas, aku tadi pagi baru gajian dan mau beliin Kakak sesuatu." Edward memotong ucapan Cecilia, membuat gadis itu memandang haru sang adik.
"Tapi tetap saja kamu harus nabung buat masa depan kamu," ucap Cecilia yang merasa matanya mulai memanas.
"Iya... aku tahu, Kak. Sekarang cepat Kakak makan ayamnya mumpung masih hangat." Edward pun membantu Cecilia duduk, sekaligus memastikan sang kakak makan dengan baik.
Cecilia mulai mengunyah ayam yang entah mengapa terasa enak di lidahnya, padahal setiap minggu dia memakannya. Apa ini rasanya dibelikan makanan oleh seseorang? Pikirnya di dalam hati.
Matanya mulai memanas dan tak lama buliran air mengalir deras.
"Kak Cecil sakit?!" Edward yang terkejut saat melihat Cecilia menangis langsung bertanya dengan nada suara meninggi.
Cecilia segera mengusap wajah dengan punggung tangannya, lalu menatap Edward
"Kakak nggak apa-apa, Ed. Kakak hanya terharu karena ayam yang kamu beli enak sekali," jawab Cecilia.
"Yang benar, Kak?" tanya Edward yang tak langsung mempercayai ucapan sang kakak.
Cecilia segera mengangguk cepat dan menghabiskan dua potong ayam. Suara sendawa yang keluar dari mulut Cecilia menjadi pertanda jika gadis itu sudah kenyang.
"Kak Cecil sabar ya, aku akan berusaha bantu Kakak biayain sekolah adik-adik," ucap Edward setelah sempat terdiam beberapa saat.
"Kakak nggak setuju, Ed. Kamu ini anak laki-laki, kamu harus mulai memikirkan masa depanmu sendiri. Memangnya kamu nggak mau punya finansial yang stabil saat menikah nanti?" tanya Cecilia.
"Bagaimana dengan Kakak sendiri? Sampai kapan Kakak mau jadi mesin pencetak uang buat keluarga kita?"
Pertanyaan dari Edward seketika membuat Cecilia terdiam, sebenarnya dia sudah lelah dan sakitnya ini adalah efek dari tanggung jawab yang harus dia pikul sejak lama.
"Kakak hanya nggak mau Mama anggap Kakak anak yang egois, Ed. Kamu tahu sendiri gimana tabiat Papa sejak dipecat 10 tahun yang lalu," ucap Cecilia setelah mengembuskan napas panjang.
"Tapi itu nggak membenarkan tindakan Mama yang nuntut Kakak terus menerus. Kakak itu punya kehidupan sendiri!" Edward yang kesal dengan pemikiran Cecilia akhirnya membentak sang kakak.
Keheningan yang canggung, tak lama tercipta di antara sepasang kakak beradik itu. Edward mengusap kasar wajahnya sebelum kembali berbicara.
"Maafkan aku, Kak. Aku cuma nggak mau lihat Kakak seperti ini terus. Sudah saatnya Kakak memikirkan masa depan Kakak. Aku akan mencoba membuat Papa dan Mama bekerja. Apapun itu!"
Edward menjeda ucapannya untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, juga menahan agar emosinya tidak kembali bergolak. Cecilia hanya diam saat melihat d**a sang adik memgembang kempis.
"Mau jualan online kek, makanan kek. Yang penting mereka harus berusaha sendiri dan nggak minta uang terus-terusan sama Kakak," imbuh Edward dengan nada final.
Cecilia lagi-lagi hanya terdiam, membenarkan ucapan Edward. Hanya air mata yang menjadi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Edward barusan.
Sementara Edward membiarkan Cecilia menangis untuk menumpahkan semua beban yang ada di dalam hati.
30 menit kemudian, Cecilia terlelap karena kelelahan menangis. Edward yang memang ingin menunggui sang kakak, segera mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja.
Setidaknya Edward ingin membuktikan kepada Cecilia, jika dia bukan adik kecil yang bisanya hanya meminta uang, tapi pria dewasa yang mulai mengambil sebagian besar beban yang dipikul oleh sang kakak sejak lama.
***
Sementara itu, Darren akhirnya berhasil keluar dari titik kemacetan paling parah. Mobilnya melaju perlahan di jalanan yang masih basah, lampu kendaraan memantul di genangan air seperti kilatan kecil.
Namun pikirannya tetap penuh. Pertengkarannya dengan Khatleen, Cecilia yang sakit dan ucapan Morgan terus berputar di kepalanya.
'Kamu bisa hancur nggak bersisa kalau terus bersikap seperti ini.'
"Sejak kapan dia peduli …," gumam Darren sembari tertawa kecil.
Tak lama ponselnya berbunyi lagi. Kali ini dari Giovanni dan tanpa ragu Darren segera menerima panggilan itu dan mengaktifkan mode pengeras suara.
"Iya, Yah."
"Kamu ada di mana sekarang?" tanya Giovanni dengan nada cemas.
"Lagi di jalan pulang, Yah. Macet banget," jawab Darren.
"Hati-hati bawa mobilnya, Nak. Jalanan pasti licin saat hujan deras seperti ini," ucap Giovanni yang masih belum dapat menghilangkan nada cemasnya.
"Iya. Aku pasti hati-hati, Yah. Aku belum mau mati muda sebelum menikah," seloroh Darren.
Namun setelah ucapannya itu, Giovanni tak merespon, membuat Darren seketika diliputi perasaan cemas.
"Yah. Ayah masih denger omonganku?" tanya Darren dengan sedikit berteriak, memastikan Giovanni mendengar suaranya di tengah hujan deras ini.
"Ayah masih denger, tadi sinyalnya jelek, makanya sempet gagu sesaat." Seharusnya ucapan Giovanni dapat menentramkan hati Darren, tapi entah mengapa dia semakin merasa resah.
Ucapan Giovanni terdengar normal, tapi Darren mengenal ayahnya lebih dari siapa pun. Nada jeda suara sang ayah terlalu panjang dan berat. Seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan tapi ditahan.
Ingatan mengenai ucapan Morgan yang bertemu dengan kedua orang tuanya seketika menyeruak di dalam benaknya, tanpa sadar memaksa Darren menajamkan intuisinya.
Gerak gerik Giovanni yang mencurigakan beberapa hari lalu kini membanjiri benak Darren, segala hal yang dia anggap janggal berubah menjadi kecurigaan atau mungkin firasat buruk yang tak mendasar.
"Yah. Sudah dulu teleponnya, mungkin dalam satu jam aku sudah sampai di rumah," ucap Darren yang memilih mengakhiri panggilan itu dan segera melempar ponselnya ke kursi sebelah.
Wiper mobilnya bergerak cepat, menghapus rintik hujan yang terus membasahi kaca depan.
"Apa lagi sekarang …?" gumam Darren pelan sembari menginjak pedal gas sedikit lebih dalam.
Otak Darren tiba-tiba melayang pada pertengkarannya dengan Khatleen, besok dia harus dapat membujuk sang kekasih.
Namun tak lama Darren tersentak, karena bayangan Cecilia yang sakit dengan cepat menggantikan Khatleen. Refleks pria itu menginjak rem, sebuah tindakan ceroboh.
Untung saja mobil Darren berhenti dengan mulus pada jalanan licin di tengah guyuran hujan deras. Dan juga tidak ada kendaraan lain yang berada di sekitar mobil pria itu.
Darren segera mengusap kasar wajahnya, dan mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya yang berpacu cepat.
"Ada apa denganku? Kenapa aku tiba-tiba teringat sama Cecilia?" tanya Darren yang masih merasa bingung.
Hujan deras mulai berganti menjadi rintik halus, udara dingin mulai menusuk kulit Darren. Dia mematikan AC mobil dan menggosok kedua tangannya, berharap menemukan kehangatan.
Namun apa yang dilakukan Darren tak berhasil, pria itu semakin menggigil kedinginan.
Tak lama terdengar suara ketukan pada kaca mobilnya, membuat Darren menoleh. Di luar mobil dia melihat dua orang pria menatapnya dengan cemas.
Tak lama kedua pria itu memberi kode agar Darren menurunkan kaca mobilnya. Dan tanpa curiga pria itu melakukannya.