Darren terdiam setelah Khatleen membentaknya, pria itu bahkan tak mengejar sang kekasih yang sudah memasuki bangunan kost-nya. Karena dia berpikir untuk memberikan waktu kepada gadis itu untuk menenangkan diri.
Suara petir yang kembali menggelegar menarik Darren dari lamumannya, dia melihat awan hitam yang siap menurunkan hujan. Dia segera menyalakan mesin mobil, berharap akan tiba di rumah sebelum hujan deras turun. Alasannya tentu saja karena tak mau terjebak macet akibat genangan air yang tercipta di mana-mana.
Namun sayang, harapan Darren harus pupus karena curah hujan yang turun dalam intensitas tinggi. Dugaannya benar, lalu lintas tiba-tiba menjadi padat karena banyak pengendara roda dua yang menepi di bawah jalan layang ataupun tol.
Wiper mobil bergerak cepat, berusaha menepis derasnya hujan yang mengguyur kaca depan. Namun jarak pandang Dareen tetap terbatas.
Saat sedang menunggu kendaraan di depannya bergerak, mata Darren tanpa sadar melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain banjir dengan raut wajah riang.
"Apa-apaan mereka itu? Bukannya di rumah, malah main banjir-banjiran seperti ini," ucap Darren dengan nada tak percaya.
Kepala Darren terasa berat, bukan hanya karena macet, tapi juga karena pertengkarannya dengan Kathleen yang terus terngiang-ngiang di benaknya.
“Lengkap sudah,” gumam Darren kesal.
Lampu rem kendaraan di depannya menyala berderet, nyaris tak bergerak. Darren melirik jam tangannya yang menunjukkan angka 19.00.
Ponsel Darren yang tergeletak di dasboard berdering, nama Morgan tertera pada di layar ponselnya. Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Ada apa lagi?” tanya Darren dengan nada datar.
"Aku cuma mau kirim video syuting kita kemarin," jawab Morgan.
"Untuk apa kamu kirim aku video itu?" tanya Darren yang mulai menjalankan mobilnya saat melihat mobil di depan bergerak.
"Anggap saja kenang-kenangan dariku kalau kita pernah syuting berdua," ujar Morgan dengan suara tawanya yang khas.
Suara petir kembali terdengar, membuat kedua pria muda itu terdiam di tempatnya masing-masing. Beberapa detik berlalu, dan Morgan yang lebih dahulu memecah keheningan.
"Kamu sedang ada di luar?" tanya Morgan.
"Iya dan aku terjebak macet hampir satu jam! Semua ini karena genangan air sialan yang ada di mana-mana," jawab Darren dengan ketus.
Morgan tertawa terpingkal-pimgkal saat mendengar gerutuan Darren, membuat pria itu semakin kesal.
"Aku tutup sekarang teleponnya kalau kamu masih mau bercanda," ucap Darren dengan nada tajam.
"Kamu tahu nggak, Darren? Kalau sifat kamu pemarah seperti ini terus, kamu bisa hancur nggak bersisa," sahut Morgan yang kini mulai serius.
Darren menegakkan punggungnya, kewaspadaan tiba-tiba muncul. Sejak dulu Morgan tak dapat diprediksi, selalu ada kejutan yang tak terduga jika sang sepupu mulai bertindak.
"Dan kamu adalah orang yang paling pertama bersemangat jika aku hancur," sahut Darren yang kini memutus panggilan secara sepihak.
Hembusan napas berat keluar dari bibirnya, Darren memijit pelipisnya mencoba mengurangi ketegangan pada pundaknya.
"Sial! Seharusnya aku nggak boleh lengah hanya karena Morgan bersikap santai kemarin," gumam Darren yang kembali memukul kuat kemudi.
***
Sementara itu di rumah sakit, Cecilia duduk setengah bersandar, menatap ke arah luar jendela dengan resah. Hujan deras yang mengenai jendela kaca terdengar seperti ketukan tanpa henti. Tetesannya memanjang, lalu pecah dan mengalir turun, seolah menggambarkan kegelisahan yang sedang Cecilia rasakan.
Gadis itu menarik napas pelan, tangannya menggenggam erat ujung selimut rumah sakit. Bau antiseptik yang khas memenuhi ruangan, membuat suasana terasa dingin dan sunyi.
"Untung aja hujan, jadi Mama nggak bisa datang ke mari," gumam Cecilia setelah mengembuskan napas lega.
Tatapan Cecilia kembali jatuh pada ponsel yang tergeletak di meja kecil. Layar ponsel itu terus menerus berbunyi, menampilkan nama Rebecca di urutan teratas, disusul pesan dari beberapa orang.
Pintu ruang perawatan perlahan terbuka, dua orang perawat masuk sambil mendorong troli berisikan berbagai alat kesehatan dan obat-obatan.
Kedua perawat itu memeriksa pasien lainnya, baru beralih pada Cecilia sebagai pasien terakhir di ruangan itu yang mereka periksa.
"Sudah selesai makannya, Mbak?" tanya seorang perawat berusia awal 50-an dengan nada ramah.
Cecilia mengangguk pelan. "Sudah, Ners. Cuma nggak habis karena perut saya kembung."
Perawat lainnya yang lebih muda segera memeriksa kondisi perut Cecilia dengan menekannya, ringisan tak lama keluar dari bibir gadis itu.
"Mbak Cecil pasti banyak pikiran ini sampe maag-nya kumat lagi," ucap sang perawat.
"Iya. Ners. Soalnya pekerjaan saya sudah menanti begitu saya keluar dari sini," ucap Cecilia dengan raut wajah canggung.
"Mbak Cecil ternyata orang yang sangat berdedikasi sama pekerjaannya. Tapi Mbak Cecil juga harus mementingkan kesehatan daripada pekerjaan," sahut perawat senior dengan nada menasehati.
Cecilia tak dapat membantah karena perawat itu memiliki umur yang sama dengan Rebecca. Jadilah dia hanya diam saat perawat senior itu memberikan wejangan tambahan.
"Nanti panggil perawat saja kalau perutnya masih ngerasa nggak enak," ucap perawat muda yang kini membereskan peralatan medisnya.
Setelah kedua perawat meninggalkan ruang perawatan, Cecilia mencoba berbaring dan memejamkan mata. Namun perasaannya tak enak, seakan-akan kedatangan Rebecca seperti bom waktu yang mengusik ketenangannya selama dua hari ini.
Ponselnya berdering, menarik kesadaran Cecilia. Dia segera meraih benda pipih itu dan melihat nama Edward tertera pada layar.
"Ada apa, Ed?" tanya Cecilia begitu selesai mengusap tombol terima.
"Kakak masih di rumah sakit?" tanya Edward.
"Masih. Memangnya kenapa?" Cecila balik bertanya sembari mengerutkan dahi, merasa heran dengan pertanyaan sang adik.
"Aku ke sana sekarang, ya. Kakak dirawat di rumah sakit apa?"
"Ed. Kamu nggak perlu ke mari, hujannya deras banget. Kakak nggak mau kamu kenapa-napa saat bawa motor."
"Aku naik taksi online, Kak. Ini mumpung aku lagi di luar rumah, Kak. Jadi aku mau jenguk Kakak."
Cecilia otomatis menarik napas pasrah saat mendengar sang adik yang bersikeras untuk menjenguknya.
"Edward. Kenapa kamu sampai bohong seperti ini?" tanya Cecilia lirih.
"Karena mulai sekarang aku nggak mau nyusahin Kakak," jawab Edward dengan penuh ketegasan.
Cecilia terdiam beberapa detik setelah mendengar jawaban adiknya. Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat baginya.
Jantung Cecilia tak lama seperti diremas pelan. Selama ini dia selalu berusaha terlihat kuat di depan semua orang, menyembunyikan semua kesulitan yang dia hadapi, terutama tentang Rebecca yang selalu merongrongnya.
Namun ternyata, Edward menyadari kerapuhan dirinya.
"Kamu ini masih kecil, Ed," ucap Cecilia pelan, suaranya melembut. "Nggak ada istilah nyusahin. Kamu itu adik Kakak."
“Tapi Kakak selalu kerja keras sendirian. Dan apa Kak Cecil lupa kalau anak kecil ini sudah bisa membuat anak kecil," sahut Edward yang membuat Cecilia terdiam.
Dia tidak pernah bercerita, tapi rupanya Edward memperhatikan semuanya.
"Hujannya deras, Ed. Kakak khawatir kalau terjadi apa-apa di jalan," ucap Cecilia pelan.
"Aku juga khawatir sama Kakak, makanya mau memastikan aja kalau Kakak baik-baik aja," sahut Edward tanpa ragu.
Kalimat itu membuat Cecilia tak bisa berkata apa-apa lagi. "Baiklah,' akhirnya Cecilia mengalah. "Kakak kirim alamat rumah sakitnya."
Senyum kecil perlahan muncul pada wajah Cecilia, meski matanya terasa hangat. Ternyata masih ada keluarganya yang peduli.