16. Mulai Khawatir

1049 Kata
Khatleen semakin tersenyum lebar saat mengetahui Darren sudah terperangkap dalam hasratnya. Gadis itu semakin berani menyentuh bagian sensitif sang kekasih. Namun sayang, rencana Kathleen tidak berjalan mulus sebab ponsel Darren berdering amat nyaring, membuat pria itu melepaskan pelukan keduanya. Dengan napas terengah-engah, Darren mengambil ponselnya dan melihat Giovanni yang menghubunginya. "Darren. Kamu di mana? Kenapa belum pulang, ini sudah larut malam," suara Giovanni yang cemas langsung terdengar saat Darren menerima panggilan itu. "Sebentar lagi aku pulang, Pah. Aku sedang bersama dengan pacarku," jawab bareng dengan napas yang mulai stabil. "Kamu sekarang sedang ada di hotel?" tanya Giovanni dengan nada curiga. Darren meneguk saliva dengan susah payah, meski tak bertatapan langsung dia tahu jika sang ayah sedang melayangkan tatapan tajam. "Iya. Aku memang sedang di hotel, cuma bertemu Khatleen sebentar terus pulang," jawab Darren yang memutuskan untuk jujur. "Ya sudah, cepat pulang. Oh iya, barusan Papa dapat kabar dari Danu kalau Cecilia diopname. Mungkin beberapa hari ini kamu harus bekerja sendirian." Napas Darren tercekat ketika Giovanni mengungkit Cecilia. Kekhawatiran yang sempat menghilang, kini mencuat kembali dan terasa lebih hebat daripada sebelumnya. "Pah. Aku tutup dulu teleponnya mau pamitan sama Khatleen terus pulang," ucap Darren yang semakin merasa tak nyaman. Darren segera menoleh ke arah Kathleen dan melayangkan tatapan menyesal. Meskipun sedang dibakar amarah, gadis itu memutuskan untuk berpura-pura mengerti dengan kondisi sang kekasih saat ini. "Cepat pulang nanti ayahmu semakin khawatir," ucap Khatleen. "Kamu cepat tidur, jangan lupa kunci pintunya. Besok sore aku ke sini buat bantuin kamu pindahan," sahut Deren sembari mengusap lembut rambut Khatleen. "Sial! Pria tua bangka itu merusak rencanaku." Khatleen langsung meluapkan amarah ketika Darren menutup pintu kamarnya. Sebenarnya 30 menit sebelum Darren tiba di hotel, dia meminum 3 gelas wine. Ditambah dengan udara kota Jakarta yang panas menyengat, membuat tubuh Khatleen terasa panas. Di tengah amarah yang membuncah, Khatleen mendapatkan telepon dari nomor yang tak dikenal. "Halo. Siapa ini?" tanya Kathleen dengan nada jutek. "Sinis sekali suaramu, Khat. Masa kamu nggak tahu siapa aku," ucap sang penelepon yang membuat Kathleen terkejut. "Kamu ...." *** Sementara di rumah sakit, Cecilia terbangun karena ingin pergi ke kamar mandi. Namun dia terkejut saat melihat kru wanita itu tertidur dengan kedua tangan menumpu kepala. Dia menggeser tubuh perlahan, berjaga-jaga agar tidak membangunkan kru wanita itu. Rasa tak nyaman pada kantung kemihnya, membuat Cecilia menyadari jika ingin ke kamar mandi. Namun Cecilia lupa jika tubuhnya masih lemah, karena itu dia terjatuh saat baru akan melangkah. Kru wanita yang mendengar suara berisik langsung terbangun, dia otomatis terkejut ketika melihat Cecilia yang terduduk di lantai. "Mbak Cecilia!" Teriakan kru wanita itu sontak membangunkan semua orang yang berada di ruangan rawat inap kelas 2 itu. Para penunggu pasien bergegas menuju sumber suara, dan ikut membantu membangunkan Cecilia yang masih terlihat lemas. "Mbak Cecil kenapa nggak bangunin saya kalau mau ke kamar mandi? Untung nggak terjadi apa-apa sama Mbak." Omelan kru wanita itu langsung terdengar ketika Cecilia menyelesaikan urusannya di kamar mandi. "Maaf. Saya nggak bangunin Mbak karena nggak mau membangunkan tidur Mbak yang nyenyak," ucap Cecilia dengan nada bersalah. Kru wanita itu membantu Cecilia kembali ke ranjang, lalu merapikan selimut hingga menutupi tubuh gadis itu dengan rapi. "Lain kali kalau mau ke mana-mana, jangan ragu untuk panggil saya. Kondisi Mbak masih belum stabil buat dibawa jalan," ucap kru wanita itu dengan nada khawatir, tapi penuh perhatian. "Iya… maaf. Saya juga nggak kepikiran kalau badan saya bisa selemah ini," balas Cecilia lirih dengan wajah memerah karena malu. "Justru itu. Mbak terlalu sering maksa diri," sahut kru wanita itu sambil menarik kursi dan duduk kembali di samping ranjang. "Sebagai manusia kita nggak bisa hidup sendirian." Ucapan itu membuat Cecilia terdiam. Tangannya menggenggam ujung selimut erat-erat. "Terima kasih. Kalau nggak ada Mbak, mungkin saya benar-benar sendirian malam ini," ucap Cecilia pelan. Kru wanita itu tersenyum tipis. "Mbak istirahat lagi aja, biar cepat sembuh." Cecilia mengangguk pelan, matanya kembali terpejam, meski dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Rebecca dengan tuntutan meminta uang, serta Darren yang mungkin saja tidak dapat menjadi CEO Sanjaya Group, silih berganti memenuhi pikiran Cecilia. Penyesalan pun muncul dalam benak gadis itu, seharusnya dari awal Cecilia menolak permintaan Giovanni untuk mementori Darren. Akan tetapi, saat mengingat imbalan yang dijanjikan oleh Giovanni, membuat Cecilia mencoba menguatkan hati. 'Selalu harus ada pengorbanan demi mencapai tujuan,' gumam Cecilia yang mencoba menguatkan hati. *** Darren akhirnya tiba di rumah tepat jam 11 malam. Langkahnya melambat saat rumah sudah gelap dan sunyi. Namun ketenangan itu justru membuat pikirannya semakin berisik. Nama Cecilia kembali terlintas dalam benak Darren. Tanpa sadar dia mengeluarkan ponselnya dan membuka kontak Cecilia. Jari pria itu sempat ragu sebelum akhirnya mengetik singkat. 'Bagaimana keadaanmu, Cecilia,' Pesan terkirim dan Darren menatap layar beberapa detik, lalu menghela napas panjang. "Kayaknya dia udah tidur," ucapnya dengan nada kecewa. "Ya sudahlah. Besok sebelum membantu Khatleen pindahan, aku ke rumah sakit jenguk Cecilia" gumam Darren setelah berpikir beberapa saat. Suasana rumah sunyi ketika Darren melangkah masuk, rasa haus membawa pria itu menuju dapur. Namun Darren berhenti saat melewati kamar orang tuanya. Samar-samar terdengar rintihan kesakitan dibalik pintu yang tertutup itu. Terdorong rasa penasaran, membuat Darren menempelkan telinganya ke pintu. Suara rintihan yang awalnya pelan kini terdengar semakin jelas. Dia mengerutkan dahi saat mengenali rintihan itu berasal dari bibir Giovanni. "Apa sakit Ayah kumat lagi sampai kesakitan seperti anak kecil? Besok pagi aku aku harus bertanya sama Ayah" gumam Darren yang segera menuju dapur. Dia mengambil segelas air dan meneguknya perlahan, berusaha menenangkan pikirannya yang kusut. Namun bayangan rintihan Giovanni tadi masih mengusik. Ada rasa tak nyaman yang sulit dijelaskan, seakan ada sesuatu yang disembunyikan sang ayah darinya. "Mulai besok aku harus benar-benar memperhatikan kondisi Ayah," gumam Darren pelan. Dia menaruh gelas di wastafel lalu berjalan menuju kamarnya. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya enggan diajak beristirahat. Ponsel di genggamannya kembali menyala, membuat Darren refleks menoleh. Satu pesan masuk dari Cecilia. 'Maaf baru balas pesan Bapak. Saya sudah agak mendingan. Terima kasih atas perhatiannya, Pak.' Tatapan Darren melembut tanpa sadar. Dan untuk alasan yang tidak dia tahu, dadanya terasa sedikit lega daripada tadi. 'Syukurlah. Istirahat yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri.' Darren mengirim pesan itu, tanpa banyak pertimbangan seperti sebelumnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja nakas, lalu menjatuhkan tubuh ke atas ranjang. "Kenapa aku jadi khawatir begini sama Cecilia. Apa yang terjadi sama aku …," gumam Darren sembari menatap langit-langit kamar dengan tatapan hampa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN