18. Ada yang Rindu

1106 Kata
Cecilia menatap layar ponsel beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. Dia menarik napas panjang, menahan emosi agar suaranya tetap terdengar normal. "Iya, Mah," ucap Cecilia pelan. "Kamu sudah transfer belum?" tanya Rebecca dengan nada dingin. "Barusan aku transfer, Mah," jawab Cecilia sembari menggigit bibir menahan agar isak tangisnya tidak pecah. Dia sedang sakit dan ingin Rebecca mengerti kondisinya, tapi sang ibu malah tetap memaksakan kewajiban yang seharusnya sejak awal tak dibebankan kepadanya. Dan lagi ejak dulu Rebecca tidak menyukai jika Cecilia menangis. Bahkan waktu kecil sang ibu pernah menghajarnya habis-habisan saat dia merengek menginginkan sesuatu. "Bagus. Kamu memang selalu bisa Mama andalkan," ucap Rebecca dengan dingin. Keheningan pun tercipta sebelum Rebecca kembali berbicara. "Apa kamu masih di rumah sakit?" "Masih Mah. Kata dokter aku harus diopname minimal sehari lagi," jawab Cecilia yang merasa tenggorokannya mulai kering. "Makanya kalau sakit jangan terlalu dirasa. Kamu sendiri yang susah 'kan. Pokoknya minta pulang aja besok. Kayak nggak tahu akal-akalan dokter aja buat nahan kamu lebih lama di rumah sakit," sahut Rebecca ringan. Jantung Cecilia seperti ditikam saat mendengarnya. Dia menarik nafas panjang sebelum menyahuti Rebecca. "Aku dirawat karena kondisiku drop, Mah. Tekanan darahku rendah sekali dan magh aku juga kumat." "Susah memang kalau ngomong sama anak zaman sekarang yang lebih percaya dokter daripada pengobatan alternatif," sindir Rebecca. Cecilia menelan saliva dengan susah payah. Tangannya yang memegang ponsel bergetar tipis, tapi dia memaksa suaranya tetap stabil. "Ini bukan soal percaya atau nggak percaya, Mah. Dokternya juga jelasin kondisi tubuhku masih lemah," ucap Cecilia pelan. "Halah, kamu itu kok mau aja dibohongi sama dokter," potong Rebecca cepat. "Dulu waktu muda Mama juga sering drop, tapi tetap kerja. Nggak manja kayak kamu." Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Cecilia perkirakan. Dadanya terasa nyeri, bukan karena sakit, melainkan karena perbandingan yang tak pernah usai. "Aku bukan manja, Mah," jawab Cecilia lirih. "Aku cuma—" "Kamu cuma terlalu memanjakan diri sendiri," sela Rebecca lagi. "Ingat adik-adikmu masih butuh banyak biaya. Jadi kamu nggak boleh sakit." Cecilia memejamkan mata. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh juga, menetes ke bantal. Dia segera mengusapnya, seolah Rebecca bisa melihat kelemahannya dari seberang sana. "Iya, Mah," sahut Cecilia yang memilih jawaban aman. "Oh iya," lanjut Rebecca, nadanya berubah seolah sedang membicarakan hal sepele. "Nanti sore Mama mau ke rumah sakit." Cecilia terperanjat. "Ke… ke sini, Mah?" "Iya. Mama sekalian mau ketemu dokter yang nanganin kamu. Mama mau dengar langsung kenapa kamu harus dirawat lama-lama," ujar Rebecca tegas dan nyaris terdengar seperti perintah. Jantung Cecilia berdetak semakin cepat. "Mah, nggak usah repot-repot. Aku baik-baik aja—" "Sudahlah," potong Rebecca. "Mama nggak mau dengar alasan. Mama datang sore ini. Cepat kasih tahu di rumah sakit mana kamu dirawat." Telepon pun ditutup sepihak oleh Rebecca. Cecilia menurunkan ponsel perlahan. Tangannya terasa dingin, sementara kepalanya mulai berdenyut pelan. Alih-alih merasa diperhatikan, dia justru dilanda kecemasan yang menyesakkan. Beberapa menit kemudian, seorang perawat wanita masuk untuk mengecek kondisi Cecilia. Saat selesai dengan tugasnya, perawat itu menatap Cecilia dengan dahi berkerut. "Tekanan darah Mbak Cecil masih rendah. Mbak terlalu banyak pikiran, ya? Rileks aja, Mbak," tanya perawat itu dengan senyum lembut. Cecilia tersenyum tipis. "Iya, Ners. Saya coba buat rileks." Namun bahkan Cecilia sendiri tahu, itu bukan janji yang mudah ditepati. *** Sementara Darren yang sedang bekerja merasa aneh dengan suasana kantornya. Biasanya sejak pagi Cecilia sudah sibuk mondar-mandir membawa map, mengingatkan jadwal atau yang paling sering ... membalas ucapannya dengan nada ketus dan tatapan dingin. Hari ini meja yang biasanya di gunakan Cecilia di ruangannya kosong. Darren sesekali mencuri pandang ke meja itu, seolah Cecilia berada di sana. Tak lama ponselnya yang ada di meja berdering, Darren mengulas senyum lebar saat mengetahui Kathleen yang menelepon. "Babe. Kamu jadi 'kan bantuin aku pindah ke kost sore ini?" tanya Khatleen dengan nada tersengal. "Jadi, dong. Tapi Kenapa kamu kedengaran ngos-ngosan?" tanya Darren dengan dahi berkerut. "Ekh... aku lagi di gym hotel, Babe," jawab Kathleen terlalu cepat. "Gym?" Darren mengulang singkat, matanya masih menatap kosong ke meja yang tak berpenghuni itu. "Iya," jawab Kathleen cepat, lalu terdengar suara benda jatuh ringan. "Ini habis treadmill. Capek banget." "Jangan dipaksain, nanti kamu sakit," ujar Darren dengan nada cemas. "Oke, Babe. Kamu kok perhatian banget, sih? Oh iya. Aku tunggu kamu sore ini, ya," kata Kathleen manja sebelum menutup panggilan. Darren meletakkan ponselnya kembali ke meja. Senyum di wajahnya memudar pelan. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Bukan cemburu ataupun curiga, tapi lebih seperti pikirannya sedang terbelah. Separuh ada pada Kathleen dan rencana pindahan sore nanti, separuh lain entah kenapa kembali pada sosok Cecilia yang sedang terbaring di rumah sakit. Dia mendecak pelan, lalu kembali menatap layar laptop dan mensugesti dirinya untuk fokus. Namun sayangnya sampai menjelang makan siang, fokus itu tak juga utuh. "Kamu kenapa dari tadi kelihatan nggak fokus?" tanya Giovanni saat memasuki ruangan Darren. "Aku lagi banyak pikiran, Yah," jawab Darren dengan nada pelan. Giovanni menatap nanar meja kosong di sudut ruangan. "Apa karena Cecilia masuk rumah sakit? Ayah ingin menjenguknya, tapi dokter melarang. Katanya banyak virus dan bakteri yang berbahaya buat kesehatan Ayah." "Ikuti aja apa kata dokter, Yah. Lagian Ayah juga masih dalam masa pemulihan," ucap Darren. "Kamu sebaiknya meluangkan waktu untuk menjenguk Cecilia. Dia sakit pasti karena kalian sering bertengkar, dan kamu yang kadang keras kepala," ucap Giovanni yang sedikit menyentil sudut hati Darren. "Yang mulai Cecilia, Yah. Mana mungkin aku marah tanpa ada sebab yang jelas. Beda sama Cecilia yang emang hobinya marah-marah." Darren berusaha menyangkal mati-matian perasaan cemas yang sejak tadi bergelayut di dalam dadanya. Giovanni menatap putranya lama, seolah menimbang sesuatu. "Ayah tahu Cecilia memang keras. Tapi percayalah ... Cecilia itu sekretaris paling kompeten dan paling lama Ayah miliki," ucap Giovanni dengan pandangan menerawang. "Ayah sadar nggak sih, kalau terlalu membela Cecilia," sahut Darren spontan. "Ayah bukan membela Cecilia, tapi itu memang kenyataannya," sanggah Giovanni pelan. Darren terdiam. Jemarinya tanpa sadar mengepal di atas meja. Dia ingin menyangkal lagi, tapi kata-kata sang ayah memang nyata adanya. Selama bekerja dengan Cecilia, gadis itu memang membuktikan kapasitasnya sebagai seorang sekertaris dan mentor pribadi Darren. "Aku cuma… capek ribut terus sama Cecilia. Ayah tahu sendiri 'kan kalau pertemuan pertama kami tidak mengenakkan," ucap Darren setelah mengembuskan napas panjang. Giovanni mengangguk pelan. "Ayah tahu, Nak. Dan Ayah merasa kalau kalian berdua belum berbicara dari hati ke hati mengenai kejadian itu." "Ayah... bukannya aku nggak mau bicara baik-baik sama Cecilia. Dianya aja yang selalu ngajakin ribut," keluh Darren yang membuat Giovanni tersenyum. "Nanti Ayah bilang sama Cecilia biar dia nggak ngajakin kamu ribut. Sekarang Ayah pulang dulu, mau istirahat." Setelah mengatakan itu, Giovanni menepuk pundak Darren sebentar, lalu keluar dari ruangan meninggalkan sang putra dengan pikiran yang semakin kusut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN