bc

Belenggu Dendam Sang CEO Dingin

book_age18+
130
IKUTI
1.6K
BACA
HE
friends to lovers
boss
blue collar
sweet
bxg
campus
city
office/work place
childhood crush
enimies to lovers
love at the first sight
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Setelah hampir putus asa karena ditolak di Mahendra Group, Rindu pun akhirnya diterima sebagai sekretaris pribadi CEO, namun di saat perkenalan dengan CEO itu, Rindu yang sangat terkejut pun jatuh pingsan, karena ternyata CEO itu adalah musuh bebuyutannya saat SMA.Rindu pernah salah paham sama Leon di masa lalu, dan ia berniat meminta maaf padanya namun melihat ekspresi Leon yang dingin dan seolah tak mengenalnya, Rindu pun ragu dan takut akan dipecat jika mengingatkan masa lalunya.Bagaimana cara Rindu menghadapi sang bos yang sombong dan dingin itu?.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Diusir Ibu Kos Baik.
Saat itu kegiatan PENSI di sekolah, Rindu sedang menyusun bunga. Namun, tangga yang digunakannya tiba-tiba bergeser. Tubuhnya pun kehilangan keseimbangan. Sebelum terjatuh, sebuah tangan menarik pinggangnya dengan cepat. Leon. Namun karena dorongannya terlalu kuat, Leon dan Rindu justru sama-sama terjatuh dengan posisi gadis itu di atas tubuh Leon. Dan dalam kekacauan itu, bibir mereka bertemu sesaat. Hening. Seluruh aula seakan membeku. Rindu yang tersadar langsung mendorong Leon dan bangkit dengan wajah merah. "Dasar m***m!" Rindu mencak-mencak sambil menepuk-nepuk kedua tangannya. Leon yang sebenarnya juga kaget langsung membalas dingin. "Kalau mau terima kasih, billing saja," jawab Leon sambil berdiri menepuk-nepuk celananya. Rindu mendelikkan matanya. Dan tentu saja, mereka kembali bertengkar. "Lo sengaja, kan, narik gue?" Amarah Rindu meledak saat menyadari itu adalah ciuman pertamanya. Leon menghela napas. "Gadis gila, masih untung gue tolongin." Cowok itu melangkah pergi, meninggalkan Rindu yang saat ini sangat marah. "Dasar b******k! Gue nggak minta lo tolongin!" Leon mengabaikannya. Ia terus melangkah menjauh dengan tatapan dingin pada siswa-siswa lain yang melihat mereka. "LEON!" teriak Rindu. Ia semakin marah karena cowok itu mengabaikannya. "BALIKIN CIUMAN PERTAMA GUE!" ____________________________ Sore itu, di sebuah kampus ternama di kota Jakarta, acara wisuda kelulusan baru saja selesai. Rindu langsung berencana pulang ke kostnya. Teman-temannya yang lain berniat mengadakan pesta kelulusan di bar malam ini, tetapi gadis itu memilih untuk tidak ikut. Walaupun hari sudah menuju sore dan matahari tidak lagi tepat di atas kepala, hawa ibu kota masih terasa hangat. Angin bercampur polusi yang berembus pelan terasa gerah, membuat wajah gadis itu sedikit memerah. Anak rambut yang tak terikat sesekali melambai menghalangi pandangan. Ditambah peluh yang mulai membasahi tubuh, Rindu merasa sangat tidak nyaman. Ia ingin segera sampai di rumah daripada mengikuti teman-temannya. Ia dan Nabila, sahabatnya, berdiri di halte untuk menunggu ojek yang sudah dipesan. Sementara itu, Nabila sendiri sedang menunggu kekasihnya, Damar, yang sedang mengambil mobil di parkiran. Mereka semua akan pergi ke bar bersama rombongan yang lain. "Kamu beneran nggak mau ikut, Rin?" tanya Nabila pada Rindu, memastikan sekali lagi. "Nggak Bil. Aku masih harus kerja malam ini, terus besok mau ke Mahendra Group," jawab Rindu. "Oh iya, kalau gitu lain kali aja kita makan deh. Tenang aja, aku yang traktir!" ucap Nabila penuh semangat. "Oke, Bil, aku tunggu traktirannya ya. Aku duluan!" Rindu melambaikan tangan sambil tersenyum manis saat ojek pesanannya tiba. Rindu memilih naik ojek agar bisa cepat sampai ke rumah. Sore ini jalanan lumayan ramai tetapi untungnya masih lancar. Di sepanjang jalan, gedung-gedung pencakar langit berdiri megah di kota Metropolitan ini, beradu dengan suara deru kendaraan yang saling bersahutan. Tak lama kemudian, ojek motor itu berbelok memasuki sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Rumah kost sederhana milik Bu Rina tampak begitu kontras di tengah-tengah kemegahan kota Jakarta. Rumah minimalis tersebut terdiri dari dua kamar, ruang tamu, dapur kecil, dan kamar mandi. Di samping kanan dan kirinya, deretan rumah sewa dengan desain dan ukuran yang sama berjajar dengan rapi. Setelah lulus kuliah, Rindu tahu ia harus segera mencari pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih tinggi. Dengan kemampuan yang dimilikinya, ia sangat yakin banyak perusahaan yang akan menerimanya. Rindu begitu percaya diri dengan masa depannya. Waktunya tinggal tiga hari lagi untuk menerima gaji terakhir di *coffee shop Empire Roast*, dan setelah itu ia berencana untuk mengundurkan diri. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang langsung mengadakan pesta setelah wisuda, Rindu sungguh berbeda. Ia adalah gadis yang sederhana dan pekerja keras. Ia harus mencari uang demi menghidupi orang tua dan adik-adiknya di kampung agar bisa makan dan sekolah. Rindu sudah biasa melakukan kerja keras ini sejak SMA, bahkan kadang ia harus menahan lapar demi bisa menabung. "Terima kasih, pak," ucap Rindu pada tukang ojek sambil mengulurkan selembar uang dua puluh ribu rupiah saat mereka sampai di depan pagar. "Iya neng, sama-sama," jawab tukang ojek sambil menerima uang tersebut. Ia lalu menunduk, merogoh tas selempang bututnya untuk mengambil uang kembalian. Namun, saat bapak ojek itu mengangkat kepalanya kembali, ternyata gadis itu sudah melangkah cepat menuju gerbang kostnya. "Loh, nak, ini kembaliannya belum!" teriak tukang ojek. Rindu menoleh lalu mengulas senyum tulus. "Udah, pak, ambil saja kembaliannya." Tukang ojek itu tertegun, lalu mengangguk penuh rasa syukur. "Terima kasih banyak ya, neng," balasnya dengan senyuman lebar. *Semoga hidupmu selalu bahagia, nak,* ucap tukang ojek itu tulus di dalam hati. Rindu memang seperti itu. Setiap kali menaiki kendaraan umum ataupun belanja, ia pasti selalu melebihkan uangnya untuk berbagi. Berbagi tidak harus kaya, itulah prinsip yang selalu ibunya ajarkan sejak kecil. Rindu bergegas masuk ke dalam rumah. Sebenarnya ia ingin sekali merebahkan diri, tetapi hal itu tidak ia lakukan karena ada tanggung jawab yang sudah menunggu di *Empire Roast*. Setelah melepas sepatu dan menggantung tasnya, ia pun segera melangkah ke kamar mandi kecil itu. Air dingin mengalir membasahi tubuhnya, sejenak menghilangkan semua rasa lelah dan gerah yang menyiksa sejak siang. Selesai mandi, Rindu langsung bersiap-siap untuk berangkat lagi ke *coffee shop*. Namun, saat ia hendak melangkah keluar, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan beberapa kali. "Sebentar," jawab Rindu dari dalam. Ia berjalan menuju pintu lalu membukanya. Sosok wanita paruh baya dengan tubuh gemuk kini berdiri di depannya. Wajah wanita itu menyiratkan kecemasan yang mendalam. Dialah bu Rina, sang pemilik kosan. "Eh, bu Rina. Silakan masuk, bu," sambut Rindu ramah. Bu Rina melangkah masuk sambil tersenyum tipis, lalu mendudukkan diri di sofa abu-abu yang ada di ruang tamu. "Maaf sebelumnya ya, dek Rindu. Ibu mau bicara sesuatu," ucap bu Rina ragu. "Loh, bu, kenapa harus minta maaf? Nggak apa-apa, bu, silahkan," balas Rindu sambil ikut duduk di hadapannya. Bu Rina menarik napas pelan. "Begini, dek Rindu. Ibu mau tanya, kira-kira kapan ya bisa bayar tunggakan kost ini?" ucap bu Rina lembut, berusaha menjaga perasaan Rindu. Mendengar hal itu, Rindu sejenak menundukkan kepala. "Bukannya Ibu memaksa ya, dek. Cuma Ibu sudah ditanyain terus sama bapak. Kalau nggak dibayar lunas bulan ini, terpaksa dek Rindu harus cari kost lain dulu. Ibu nggak tega kalau nanti bapak sendiri yang datang ke sini, dia pasti marah-marah," lanjut bu Rina lagi dengan hati-hati. Ia terpaksa melakukan ini demi menghindari amukan suaminya. Bu Rina memang ibu kost yang sangat baik. Jika di tempat lain, Rindu mungkin sudah dimaki dan diusir secara kasar karena sudah dua bulan ini belum bisa membayar biaya sewa. Suami Bu Rina-lah yang terkenal kejam. Kalau pria itu sudah naik pitam, marahnya melebihi wanita dan suaranya bisa terdengar sampai satu RT. Inilah yang dihindari bu Rina, ia takut melukai hati anak-anak kostnya, sehingga memilih untuk datang dan berbicara sendiri secara baik-baik. Kepala Rindu rasanya mau pecah memikirkan semua beban ini. Ibu Rindu di kampung beberapa bulan terakhir ini sering kambuh penyakit asmanya, sehingga harus bolak-balik membeli obat. Belum lagi biaya sekolah adik-adiknya yang duduk di bangku SMP dan SMA harus segera dilunasi karena sebentar lagi akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Ditambah lagi dengan biaya makan sehari-hari. Hal-hal inilah yang membuat keuangan Rindu kewalahan, padahal biasanya pembayaran kostnya selalu lancar. Baru kali ini saja Rindu mengalami masalah. Rindu menunduk dalam-dalam sambil menarik napas panjang. Ada rasa malu yang begitu kuat menyergap dadanya. "Maafin Rindu ya, bu. Rindu jadi telat-telat gini bayarnya. Tiga hari lagi Rindu gajian kok, bu. Minta tolong sekali lagi ya, bu, jangan usir Rindu dulu," ucap Rindu memohon pasrah. Ia benar-benar bingung harus pergi ke mana jika diusir dari tempat ini. Bu Rina menatapnya dengan rasa iba, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah, dek. Kalau gitu nanti Ibu sampaikan pelan-pelan sama bapak, ya. Sekali lagi ibu minta maaf." "Iya, bu. Maafin Rindu juga ya, bu," jawab Rindu yang masih tertunduk. "Ibu pergi dulu, ya. Kamu juga mau berangkat kerja, kan?" pamit bu Rina sembari berdiri. "Iya, bu. Terima kasih banyak sudah mau mengerti kondisi Rindu." Rindu mengantar pemilik kost itu sampai ke depan pintu. Setelah bu Rina pergi, ia bergegas mengunci rumah dan kembali memesan ojek untuk menuju ke *Empire Roast*. *Coffee shop* tempatnya bekerja terletak di pinggir pantai. Sore itu matahari mulai turun ke ufuk barat, membuat hembusan angin tidak sepanas siang tadi. Namun, perjalanan sore ini terasa begitu lambat di mata Rindu. Waktu seakan sedang mempermainkan perasaannya yang kian gelisah. Ia merasa seperti sedang mengejar sesuatu yang besar namun tidak pernah bisa sampai, seperti terjebak di dalam lorong yang gelap gulita dan hanya bisa berharap ada secercah cahaya di ujung sana. Pikirannya benar-benar kacau. Bagaimana cara keluar dari situasi pelik ini? Jika saja ayahnya masih ada di dunia ini, hidupnya pasti tidak akan seberat saat ini. Namun, takdir memang telah memilihnya untuk menjadi gadis yang mandiri dan kuat.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
1.9K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.2K
bc

Orang Ketiga

read
36.6K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
12.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.0K
bc

Babysitter Canduku

read
19.8K
bc

Ranting Yang Patah

read
40.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook