31

1987 Kata

Adelia menarik diri untuk tidak kembali meneteskan airmata. Saat Aksa membuka mata, menatapnya dengan ragu bercampur resah. Mata itu tidak lagi bisa berbohong. Aksa selayaknya serupa seperti buku terbuka yang menampilkan beragam tulisan dan makna yang menyala terang. "Apa ibuku bermimpi buruk?" Adelia menggeleng. Dia tidak berniat membangunkan pria itu dari tidur. Menjadi atasan penting yang ada di perusahaan bukan perkara mudah. Aksa tampak lelah dan bingung. Semua beban itu ia pikul sendiri. "Kenapa kau tidak datang rapat hari ini?" Aksa menarik napas. Menunduk untuk melihat selimut yang membungkus punggungnya dalam tatapan berbayang. Kemudian, menghela napas panjang. "Mencari udara segar." Adelia terdiam. "Pergi ke taman?" Aksa menggeleng. "Bukan." "Berkunjung ke tempat-tempat b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN