Tok! Tok! Tok!
“Sebentar,” jawab Rani saat mendengar suara ketukan pintu.
Ceklek!
“Ngapain kamu kesini?” tanya Rani ketus.
“Di mana Viana? Aku mau ketemu sama dia.”
“Buat apa? Buat menyakiti dia lagi? Jika iya, sebaiknya kamu pergi dari sini,” usir Rani.
“Aku tanya sekali lagi di mana Viana, Rani?”
“Heh, Ar. Kenapa sih kamu masih gangguin Viana? Apa salah dia sama kamu?” ucap Rani.
“Baiklah, aku titip ini. Permisi,” ucap Ariana dan ia pun langsung pergi meninggalkan Rani yang masih melongo.
“Siapa, Ran?” tanya Viana.
“Ish, kamu mengagetkan orang yang tidak kaget,” ucap Rani.
“Ya kalau sudah kaget tak mungkin aku kageti lagi, Ran. Lagian ngapain juga sih bengong di situ?” ucap Viana.
“Nih, buat kamu dari seseorang yang tidak menginginkan kamu,” ucap Rani ketus seraya memberikan undangan berwarna hijau pada Viana.
Viana pun menerima benda tersebut dan ia membelalakkan mata saat membaca tulisan yang tergores di sana. Namun tak lama kemudian ia tersenyum.
“Syukurlah kalau Mbak Ariana mau tunangan, setidaknya dia sudah ada yang jaga in,” ucap Viana.
“Apa kamu mau datang, Vi?” tanya Rani.
“Entahlah Ran, jika aku datang nanti Ibu marah, dan jika aku tidak datang tidak enak sama Mbak Ariana,” jawab Viana.
“Serba salah banget jadi kamu, tapi sebaiknya kamu tidak usah datang deh Vi,” ucap Rani.
“Kenapa?” tanya Viana.
“Bisa jadi ini hanya akal-akalan Ariana saja, biar kamu datang dan untuk mempermalukan kamu di hadapan semua orang,” ucap Rani.
Viana hanya terdiam akan ucapan Rani, bisa jadi yang Rani bilang itu benar, tapi apa setega itu Ariana padanya? Dan apa yang akan terjadi jika ia datang ke pertunangan Kakak tirinya itu? Semua pertanyaan berkecamuk di kepalanya ia bingung harus bagaimana, berkali-kali ia menghela nafas panjang, dan Rani hanya menggelengkan kepalanya melihat Viana.
“Biasa saja Vi, napasnya!” ucap Rani.
“Bingung, Ran aku.”
“Gak usah bingung, ayo siap-siap kita ke dokter, habis itu ikut aku ke rumah, Mama ingin bertemu denganmu,” ucap Rani.
“iya.”
**
Viana dan juga Rani sampai di rumah sakit setelah mereka mengkonfirmasi ada janji temu dengan sang dokter mereka menuju ruangan dokter.
“Assalamualaikum, Dokter,” ucap Rani.
“Waalaikumsalam! Hai Vi,” sapa sang Dokter.
Mereka pun menyalami Dokter secara bergantian dan kemudian pemeriksaan pun di mulai. Setelah selesai melakukan pemeriksaan Viana kembali duduk di sebelah Rani.
“Bagaimana keadaan Viana, Dok?” tanya Rani.
“Mungkin ini mukjizat atau apa, tapi ini nyata adanya,” ucap Dokter.
“Maksud Bu Dokter?” tanya Viana.
“Ini hasil lab yang dua hari lalu, menyatakan jika ginjal kamu masih normal keadaannya meskipun hanya satu,” ucap sang Dokter seraya menunjukkan sebuah kertas hasil lab.
“Alhamdulillah,” ucap Viana dan Rani bersamaan.
“Tapi, keadaan tulang belakang kamu masih belum stabil, dan masih membutuhkan pendonor secepatnya, Vi.” Senyum Viana dan Rani tiba-tiba hilang saat mendengar penuturan Dokter.
“Iya, Dok saya masih berusaha mencari pendonor yang tepat,” ucap Viana.
Sang Dokter juga tahu keadaan keluarga Viana bagaimana kehidupannya dan keadaan dirinya, jujur saja tanpa sepengetahuan Viana Dokter yang menanganinya ini adalah sahabat almarhum Ayahnya, namun Dokter tersebut tidak memberitahu tentang semua itu karena takut Viana akan merasa dikasihani, oleh sebab itu Viana mendapatkan pelayanan bagus meskipun dia tidak memiliki cukup biaya, karena separuh dari pengobatannya di tanggung oleh Dokter itu.
“Ya sudah kalau begitu, ini resep obatmu, dan jangan lupa hari Sabtu sore waktumu untuk kemoterapi,” ucap sang Dokter.
“Baik Dokter, kalau begitu kami permisi,” ucap mereka berdua pada Dokter.
Setelah mereka menebus obat Rani membawa Viana menuju kediaman orang tuanya, karena hari ini tanggal merah Rani di minta pulang oleh Mamanya dan harus membawa Viana juga. Keluarga Rani juga sangat mengenal Viana, mereka sangat salut pada Viana karena ia anak yang baik sopan dan juga tangguh sebab itulah orang tua Rani mengizinkan anak perempuan satu-satunya untuk tinggal di kostan. Setelah mereka sampai di kediaman orang tua Rani, mereka segera masuk ke rumah karena satpam sudah membukakan pintu gerbang.
“Mama! Rani pulang!” teriaknya saat sampai di dalam rumah.
“Ran! Pulang itu ya ucap salam kek, ngapain teriak-teriak seperti itu,” ucap Viana.
Rani menyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Lupa, Vi.”
Viana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.
“Dasar anak nakal, pulang bukannya ucap salam malah teriak-teriak seperti tukang jualan gorengan depan rumah saja,” ucap seorang pria paruh baya yang turun dari lantai atas.
“Assalamualaikum, Papa Sayang,” ucap Rani seraya mencium punggung tangan Papanya.
“Assalamualaikum, Om,” ucap Viana seraya mencium punggung tangan Papanya Rani.
“Waalaikumsalam.”
“Mama mana, Pa?” tanya Rani.
“Masih mandi sebentar lagi selesai.”
“Oh! Vi kamu duduk dulu ya, aku mau ke belakang dulu,” ucap Rani dan ia pun berlalu ke belakang.
“Bagaimana kabar kamu, Vi?” tanya Papanya Rani yang bernama Hadi tersebut.
“Alhamdulillah baik, Om. Kalau Om sendiri bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik juga.”
“Loh, Vi! Kamu sudah sampai? Mana Rani?” tanya Bu Maya Mamanya Rani.
“Rani tadi lagi ke belakang Tan,” ucap Viana seraya menyalami Maya.
“Tuh anak kalau tidak disuruh pulang tidak akan pulang, Vi. Jadi tolong kamu marahi dia suruh pulang jika libur kuliah,” ucap Maya.
“Mana ada, aku hari minggu kemarin pulang, tapi Mama sama Papa tidak ada di rumah,” ucap Rani dari arah belakang.
“Ya kamu tidak bilang dulu sama kami kalau mau pulang,” ucap Hadi.
Rani cemberut menerima jawaban Mamanya. Sementara Viana ia hanya tersenyum melihat keakraban dan kehangatan keluarga ini, terbesit rasa iri di hatinya ketika melihat betapa sayangnya Rani kepada kedua orang tuanya dan juga sebaliknya kedua orang tuanya pun sangat menyayangi Rani. Andai Ibunya bisa seperti itu pasti bahagia hidup Viana dan ia tidak akan menanggung kesepian hati seperti ini, namun apalah daya Tuhan telah memberikan jalan takdir seperti ini, maka Viana harus ikhlas dalam menjalaninya.
Malam hari pun tiba, Viana menginap di kediaman orang tua Rani mereka akan kembali ke kostan esok pagi. Sebenarnya Maya meminta Viana dan Rani tinggal di rumah ini namun Rani menolak dengan alasan kampus lebih dekat dari kostan nya, Maya dan Hadi harus pasrah dengan keputusan sang putri, biar bagaimanapun kebahagiaan putri mereka adalah yang utama, mereka membebaskan Rani untuk bergaul asal dalam batas wajar, mereka juga yakin jika Viana tidak akan memberikan pengaruh buruk pada Rani.
“Vi, aku lupa tanya,” ucap Rani di saat mereka sedang duduk di balkon kamar Rani.
“Tanya apaan sih Ran?” tanya Viana.
“Kapan pertunangan Ariana di adakan?”
“Hari Jumat malam, jam tujuh kalau tidak salah,” jawab Viana.
“Kamu beneran mau datang?” tanya Rani.
“Entah aku mau melihat dulu, jika Ibu mengizinkan aku datang, ya aku akan datang jika tidak, ya mau bagaimana lagi?” jawab Viana.
“Nanti jika kamu datang aku juga akan datang,” ucap Rani.
“Emang kamu diundang?” tanya Viana.
“Tidak sih, tapi besok aku mau minta undangan sama Ariana,” ucap Rani.
“Dasar.”
“Tidur yuk, ngantuk nih,” ajak Rani.
Pagi hari mereka berdua pamit pada Maya dan Hadi, setelah berpamitan mereka pun kembali ke kostan dan mempersiapkan diri untuk beraktivitas seperti biasa di mana Viana akan ke restoran dan Rani akan ke kampus.
“Ar?” panggil Rani pada Ariana saat ia sampai di kampus.
“Ada apa?” tanya Ariana.
“Kamu gak ngundang aku?”
“Ngapain aku ngundang kamu?” tanya Ariana.
“Aku akan datang menemani Viana, aku takut jika nanti dia datang sendiri ke sana dia akan kamu permalukan apalagi Ibumu pasti dia akan menganggap Viana akan mengacaukan acara mu,” ucap Rani.
“Heh! Jaga ya ucapan mu itu. Aku mengundang dia karena aku masih menganggap dia keluarga, bukan karena hal lain. Lagi pula aku juga tidak peduli dia datang atau tidak itu urusan dia,” ucap Ariana.
“Aku berharap semoga kamu akan merasakan apa yang Viana rasakan!” ucap Rani dan berlalu meninggalkan Ariana.
“Kamu pikir kamu siapa? Berani mengancam ku seperti itu,” gumam Ariana.
Ariana pun berjalan menuju kelas, saat di dalam kelas pandangannya melihat Rani yang tengah menatapnya dengan tatapan tidak suka, Ariana tidak peduli. Bukannya ia tidak mau mengundang Rani hanya saja acara pertunangan itu hanya di hadiri beberapa keluarga saja, Ariana memang meminta Ragarta agar mereka melangsungkan pertunangan secara tertutup, namun jika nanti Rani datang bersama Viana itu tidak masalah baginya.
“Ini undangan buat kamu, jangan lupa ajak Viana untuk datang,” ucap Ariana seraya memberikan sebuah undangan.
“Kenapa undangannya berbeda, bukannya yang lusa itu warna hijau?” tanya Rani heran.
“Jangan banyak tanya deh, mau datang atau tidak sih?” ucap Ariana kesal.
“Aneh aja nih undangan beda, katanya tunangan sama orang kaya tapi undangan aja beda,” cibir Rani.
“Kamu nyebelin banget sih Ran! Aku memang tidak menyebar undangan karena acara ini tertutup itu tadi aku buat di depan kampus sana, biar kamu gak neror aku terus,” ucap Ariana.
“Oh, gitu. Ngapain juga repot-repot mendadak buat tinggal bilang aku suruh datang aja kan gampang,” ucap Rani.
“Pingin jambak kamu aku jadinya,” ucap Ariana seraya pergi dari hadapan Rani.
“Gitu aja marah, dasar sensian. Kasihan banget sih yang jadi tunangannya mau-maunya sama cewek modelan Ariana, sensian ketus gak peduli lagi sama saudarinya,” gumam Rani.
Setelah itu Rani pun meninggalkan pelataran kampus dan menuju ke area parkir, namun saat ia baru akan mengambil motornya ia melihat Ariana tengah di jemput oleh seseorang yang dia yakini adalah calon tunangannya yang bernama Ragarta.
“Aku harap Viana juga akan menemukan kebahagiaan nya, dan semoga ia bisa mendapatkan seorang yang mau mendonorkan sum-sum padanya.” Batin Rani seraya mengusap air mata yang tiba-tiba menetes saat memikirkan tentang kesehatan sang sahabat.
Rani pun segera pergi dari parkiran setelah ia berhasil mengeluarkan motornya dari area parkir, namun sebelum pulang ia akan menjemput Viana terlebih dahulu dan akan mengajak Viana untuk belanja keperluan wanita.