Bab. 7

1755 Kata
Pagi yang cerah, mentari mulai menampakkan rona jingganya di cakrawala timur, udara yang mulai menghangat membuat Ragarta lebih bersemangat di saat ini, namun bukan suasana pagi yang membuatnya bersemangat, tapi janji mau mengantar Ariana ke kampus yang membuatnya bersemangat, entah mengapa suasana hatinya sangat baik pagi ini pengaruh Ariana menerima perasaannya sangat kuat, hingga Ragarta sangat antusias dan tidak sabar untuk menjemput Ariana. Setelah selesai dengan urusan paginya ia segera menghubungi Ariana untuk sarapan bersama di luar dan Ariana pun menyetujuinya, hal itu malah membuat hati Ragarta semakin berbunga-bunga. Ragarta segera turun dan menghampiri Mama dan Papanya. “Pagi Ma, Pa,” sapa nya pada kedua orang tuanya. “Pagi juga sayang,” jawab keduanya. “Sini duduk dulu sarapan sebentar lagi siap,” ucap Diandra. “Wah, maaf banget Ma. Aku sarapan di luar,” ucap Ragarta. “Idih, sok banget mau sarapan di luar, sudah kaya kamu? Sudah tidak butuh lagi sama makanan rumah?” cerca Diandra. “Ish, Mama ini, bukan begitu Mama Sayang. Aku hari ini mau antar Ariana ke kampus, dan sekalian saja sarapan di luar,” jelas Ragarta. “Lah, kok gitu?” “Gitu apanya sih, Ma? Kan tadi malam Mama sendiri yang bilang kalau aku harus giat dekat in Ariana, sekarang aku lagi usaha Mama malah ngomel, gimana sih Ma?” ucap Ragarta. “Maksud Mama itu kenapa kamu tidak bilang sama Mama, terus kamu kan harus jaga pola makan dan makanan kamu juga, ingat jangan makan sembarang,” ucap Diandra. “Kalau itu aku tahu, Ma. Tenang saja aku pasti akan menjaga asupan makananku,” terang Ragarta. “Kamu nanti langsung ke kantor, gantikan Papa untuk rapat antar direksi, soalnya Papa mau ada pertemuan penting dengan pimpinan dari Marina Group,” ucap Danang. “Iya, Pa. Ya sudah aku berangkat dulu, assalamualaikum,” pamit Ragarta seraya menyalami kedua orang tuanya. “Waalaikumsalam.” Di sepanjang perjalanan Ragarta tampak sangat bahagia, ia selalu tersenyum. Mungkinkah ia mulai gila karena senyum-senyum sendiri? Bisa di bilang seperti itu, rasa suka dan bahagianya yang membuat seorang Ragarta bisa bertindak seperti itu. Setelah menempuh perjalanan tiga puluhan menit, akhirnya ia tiba di rumah Ariana, ia memarkirkan mobilnya di depan rumah itu. Dengan langkah lebar Ragarta berjalan menuju pintu rumah Ariana dan segera memencet tombol bel di samping daun pintu berwarna coklat tersebut, tak berselang lama pintu terbuka menampilkan sosok wanita tua seraya tersenyum. “Selamat pagi, Mas. Silahkan masuk,” ucap wanita bernama Bik Nani itu. “Terima kasih, Bik.” “Silahkan duduk dulu Mas, saya panggilkan Non Ari dulu,” ucap Bik Nani dan diangguki oleh Ragarta. Seraya menunggu Ragarta kembali menelisik kembali sebuah lemari yang ada di dekat sofa tempat duduknya, namun ia tidak menemukan foto yang kemarin malam ia lihat. “Mungkin sudah di pindahkan ke tempat lain,” gumam Ragarta. “Pagi, Gar. Sudah lama?” tanya Ariana. “Eh! Belum baru saja,” jawab Ragarta. “Mau berangkat sekarang?” tanya Ariana. “Boleh, tapi Ayah dan Ibumu ke mana?” “Mereka pergi dari pagi, katanya mau jalan-jalan pagi, tapi aku sudah ijin kok sama mereka,” ucap Ariana. “Ya, sudah kalau begitu, ayo kita berangkat,” ajak Ragarta. “Bik, aku berangkat dulu ya?” pamit Ariana pada Bik Nani. “Iya Non, hati-hati di jalan,” ucap Bik Nani. “Andai kata, Non Ariana dan Non Viana akur pasti sangat bahagia aku melihatnya, malang sekali nasib Non Viana, kenapa Bu Rita sangat pilih kasih? Andai kata Pak, Ahmad masih ada Non Viana tidak akan seperti ini keadaannya,” ucap Bik Nani seraya mengusap bulir air matanya. Bik Nani dulunya adalah asisten rumah tangga keluarga Viana, namun setelah meninggalnya Pak Ahmad ayah Viana, mereka pindah ke Surabaya dan Bik Nani sempat berhenti bekerja pada Bu Rita, namun setelah Bu Rita menikah dengan pak Andika, beliau kembali di minta bekerja di kediaman pak Andika. Namun Bik Nani sangat menyayangi Viana layaknya anak sendiri, ia tahu suka duka Viana dan ia juga sangat sedih saat Viana keluar dari rumah Pak Andika. ** Sementara pagi ini Viana bangun agak kesiangan Rani sudah beberapa kali membangunkan dia namun entah efek kelelahan atau apa, Viana tampak, susah untuk membuka mata, bahkan ia melewatkan waktu subuh nya. “Ya, ampun, Ran!” pekik Viana. “Apa? Mau ngomel? Mau marah? Tak ada waktu ya, tuh tengok jam sekarang jam berapa?” ucap Rani. “Kok aku bisa ngebo sih hari ini?” gerutu Viana seraya mempersiapkan diri. “Tak usah buru-buru, nanti aku antar,” ucap Rani. “Hah!” Viana menoleh ke arah Rani. “Ngapain ‘Hah’?” tanya Rani menirukan Viana. “Ya, maksud aku kamu mau ngantar aku gitu?” tanya Viana memastikan. “Gak tuh aku mau ngantar orang kesiangan aja, bukan kamu,” jawab Rani. “Ish, nyebelin.” “Gak usah dandan menor deh, lama banget, nih sejam lagi buka loh restoran itu,” ucap Rani mengingatkan Viana. “Iya, bawel,” jawab Viana. “Sudah?” tanya Rani saat Viana sudah selesai dengan urusannya. “Iya, kamu mau langsung ngampus atau gimana?” tanya Viana. “Iya, sekalian aja. Malas mau bolak balik,” jawab Rani. “Ya sudah, yuk,” ajak Viana. Keduanya pun berjalan ke luar rumah setelah motor siap dan pintu sudah di kunci, keduanya berangkat, dengan hati-hati Rani melajukan motor miliknya. Lima belas menit kemudian Rani sudah menghentikan motornya di depan restoran tempat Viana bekerja. “Noh, sudah sampai, bawa saja helm itu, kalau aku bisa jemput kamu nanti aku kabari,” ucap Rani. “Iya, sana berangkat ini sudah hampir jam tujuh,” balas Viana. “Ya, sudah aku berangkat assalamualaikum,” pamit Rani. “Waalaikumsalam.” Viana pun berjalan masuk ke dalam restoran, ternyata teman-temannya sudah berkumpul di loker untuk berganti pakaian, Viana pun melakukan hal yang sama. Sementara Rani ia sudah sampai di parkiran kampus setelah menstandarkan motornya ia berjalan menuju kelasnya namun sebelum ia benar-benar meninggalkan area parkir netranya melihat sosok Ariana yang baru turun dari sebuah mobil tepatnya mobil yang sama dengan yang semalam ia lihat. “Apa benar itu pacarnya Ariana, tumben banget di antar?” gumam Rani. “Tapi, bodo amat lah siapa peduli, dia pacaran atau tidak,” ucap Rani seraya berbalik dan meninggalkan area parkir. “Ran?” sebuah suara menghentikan langkah Rani ia menoleh dan mendapati Ariana tengah berlari menuju arahnya. “Ada apa?” tanya Rani. “Ran, bagaimana kabar Viana?” tanya Ariana. “Ngapain kamu tanya-tanya kabar Viana? Apa pedulimu ke dia?” ucap Rani ketus. “Heh, aku tanya baik-baik, jadi jawab dengan baik,” ucap Ariana tak kalah ketus. “Kalau mau tahu keadaan dia, ya kamu datangi dia lah. Memang aku ini Baby siter nya Viana apa, yang tahu setiap keadaannya,” ucap Rani. “Kamu–.” “Apa? Gak usah sok perhatian sama Viana, dia lebih bahagia jauh dari kamu dan Ibumu itu, jadi sebaiknya kamu tidak usah ya ganggu dia lagi,” ucap Rani dan ia pun melangkah pergi meninggalkan Ariana yang tampak kesal. “Dasar,” umpat Ariana. Ariana pun berjalan menuju kelasnya, dan kelasnya juga kelas Rani juga karena mereka sama-sama mengambil jurusan bisnis, sesampainya di kelas Ariana melihat Rani yang menatapnya dengan tatapan mencemooh, sementara Ariana terlihat tidak peduli. “Eh, tadi itu pacar kamu ya Ar?” tanya Bella teman sebelahnya Ariana. “Bukan,” jawab Ariana. “Masa sih? Apa dia saudaramu? Tanya Bella lagi. “Bukan! Tapi dia calon tunangan aku,” jawab Ariana. “Serius? Wah ganteng banget dia selamat ya, nanti pas tunangan undang aku ya,” ucap Bella. “Tentu,” jawab Ariana. Rani yang mendengar hal itu merasa geram, bukan karena iri atas ucapan Ariana, namun ia geram atas sikapnya dia menceritakan pada orang lain soal pertunangannya dengan bahagia, tanpa memikirkan Viana, Rani yakin jika hari pertunangannya nanti dia tidak akan mengundang Viana. “Oh, Vi. Betapa malang nasibmu mempunyai keluarga yang buruk seperti mereka,” batin. Flashback “Ar, bagaimana? Apa kamu sudah bisa menjawab pertanyaan ku semalam?” tanya Ragarta setelah mereka selesai sarapan. “Apa harus aku jawab sekarang, Gar?” “Tentu saja,” jawab Ragarta. “Ya, baiklah. Aku mau menjalin hubungan yang lebih serius denganmu,” ucap Ariana. “Hah! Serius kamu terima aku?” tanya Ragarta tidak percaya. “Apa aku batalkan saja ya?” goda Ariana. “Jangan dong Sayang,” ucap Ragarta. “Ish, Sayang-sayang. Baru juga sekedip lalu aku jawab sudah Sayang-sayangan aja,” ucap Ariana. Ragarta meneol pipi Ariana karena sangat gemas dengan ucapan Ariana. “Sebenarnya aku tidak mau pacaran, aku maunya kita langsung tunangan aja, Ar,” ucap Ragarta dan hal itu membuat Ariana melotot menatap Ragarta. “Wah, di kasih hati minta jantung ya,” ucap Ariana. “Bukan begitu, aku kan serius sama kamu jadi ya, begitu lah. Masa kamu gak paham?” ucap Ragarta. “Bukannya aku gak mau, Gar. Aku kan masih kuliah, ya meskipun sudah semester akhir, tapikan tetap saja aku belum lulus,” ucap Ariana. Ragarta menangkup pipi Ariana seraya berkata, “ Lihat aku! Ariana Denika aku Ragarta Setyo Anam benar-benar jatuh cinta sama kamu aku ingin serius sama kamu aku ingin menikahimu dan menjadikanmu ibu dari anak-anakku kelak, apa pun alasanmu aku tidak menerima penolakan, jika kamu keberatan soal kuliah, aku akan tetap mengizinkanmu untuk menyelesaikan kuliahmu setelah kita menikah nanti, jadi apa kamu mau menerima ku jadi calon suamimu?” ucap Ragarta. Ariana pun tersenyum karena terharu air matanya jatuh karena ucapan Ragarta dan detik selanjutnya ia mengangguk tanda setuju dengan lamaran Ragarta. Ragarta yang melihat Ariana mengangguk langsung memeluk Ariana karena. “Jadi kapan kita akan bertunangan,” tanya Ragarta setelah pelukannya lepas. “Hah, dasar pemaksa. Lamar aku kepada kedua orang tuaku dulu,” jawab Ariana. “Baiklah nanti malam aku akan ajak Mama dan Papaku ke rumahmu.” “Lah! Ya jangan nanti malam juga, Gar! Bisa pingsan Ibu aku. Dua hari lagi saja,” ucap Ariana. “Baiklah,” balas Ragarta dengan cemberut. Flashback and Ariana tersenyum ketika ia mengingat kejadian tadi pagi, ia tak menyangka secepat ini menerima Ragarta apa lagi harus bertunangan. Meski hati kecilnya ragu dan belum ada cinta, namun ia tidak bisa menolak pesona Ragarta. Dia akan mengabari kedua orang tuanya nanti. Kegiatan mengeluarkan buku terhenti saat ia mengingat Viana. “Apa aku harus mengabari Viana?” batinnya. “Ngapain juga mikirin tuh anak,” monolog Ariana. Dan selanjutnya dosen masuk ke dalam kelas dam memulai dengan proses mengajar Ariana pun mengikuti kelas dengan hati yang bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN