Perasaan bersalah menyelimuti hati Ragarta, entah karena Viana sedang tidak enak badan atau memang karena ulahnya yang membuat istrinya itu syok. Wajah sedih Viana dan tangisan memilukan yang terekam jelas di memori otaknya membuat Ragarta uring-uringan sendiri. Saat itu ingin rasanya Ragarta merengkuh tubuh menggigil Viana yang terus mengucapkan kata-kata yang sangat memilukan bagi Ragarta. Kini ia duduk di taman rumah sakit, ia masih belum mau beranjak meskipun waktu sudah lewat tengah malam, pikirannya masih kacau, antara Viana dan Ariana, di sisi lain ia sangat menginginkan Ariana kembali padanya, di sisi lain ia sudah nyaman dengan Viana, dan rasa aneh yang ia rasakan saat Viana menerima telepon dari seseorang bernama Huda, membuatnya gelap mata dan kembali menyakiti istrinya itu. Jik

