“Loh, Gar. Tidak jadi pergi?” tanya Diandra saat melihat anaknya menuruni tangga. “Tidak jadi, Ma!” jawabnya. “Kenapa?” “Ariana tiba-tiba saja demam.” “Kok bisa barengan sama Viana,” gumam Diandra. Ragarta hanya mengangkat bahunya. Sementara Diandra kembali berkutat dengan tumpukan bunga yang hampir selesai ia urus. “Papa mana, Ma?” “Mandi,” jawab Diandra singkat. “Bagaimana Viana, apa dia masih istirahat?” tanya Diandra. “Iya.” “Sebentar lagi jam makan malam, nanti kamu bangunin dia saat semua sudah siap,” ucap Diandra. “Iya.” “Satu lagi, sebaiknya kalian nginep aja malam ini di sini.” “iya.” Plak!!! Aduh! Sakit, Ma!” pekik Ragarta saat Diandra memukul lengannya. “Dari tadi kok jawabnya Cuma ' iya, iya, iya’ saja!” gerutu Diandra. “lah aku harus jawab apa, Ma?” tanya Raga

