Bab. 54

1825 Kata

Rasa lelah yang menggelayut di diri tidak di hiraukan oleh Ragarta, ia terus memacu mobilnya menuju tempat Viana berada, kini ia sudah memasuki jalanan kecil sebuah desa. Suasana sore hari terasa asri di sini, awan berwarna ke abu-abuan terlihat tengah menyelimuti gunung terbesar di pulau Jawa itu. Dengan hati yang sumringah Ragarta mulai memasuki setiap jalanan setapak yang sedikit tidak enak untuk di lewati kendaraan bermotor. “Nuwon sewu, Pak,” ucap Ragarta dalam bahasa Jawa halus, untung saja Ragarta masih bisa bahasa jawa halus. “Nggeh, Mas, bade teng pundi njenengan?” ucap Bapak-bapak yang tengah pulang dari sawah. “Bade tanglet. Alamat niki teng pundi nggeh?” tanya Ragarta seraya menunjukkan sebuah catatan kecil. “Oh, niki dalemepun, Bu Ira, nggeh?” tanya Bapak itu dan Ragarta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN