Pov. Viana. Rasa hangat menyusuri wajahku saat Ragarta mengatakan jika dia merindukanku. Tangannya menggenggam tanganku, menciumnya dengan lembut, membuat jantungku berolahraga dengan cepat, aliran darah di tubuhku seakan ikut memanas saat tatapannya menelisik seluruh wajahku. Ah aku bahagia mendapatkan perlakuan seperti ini. Bolehkah aku memeluknya sekarang? Tapi ini tempat umum, lagi pula aku masih terlalu gengsi untuk tiba-tiba saja mengucapkan kata ‘aku memaafkan mu’ pada Ragarta. Aku masih ingin mendengar penjelasannya lebih jauh lagi dan ingin tahu seberapa besar niatnya untuk meminta maaf padaku. Semakin lama ia memandangku semakin ciut nyaliku. Ah seperti bukan diriku saja, di mana diriku yang selaku ketus padanya? Di mana diriku yang selalu memarahinya? Melihatnya seperti ini mem

