“Bangun! Ini sudah malam!” ucap Diandra yang membangunkan Ragarta. “Maafkan aku, Vi!” ucap Ragarta mengigau. “Ya, ampun! Bangun, Gar!” “Astagfirullah! Mama?” “Bangun, dan pergi mandi setelah itu turun, makan malam,” ucap Diandra. Dengan wajah sayu Ragarta berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya, pertemuannya dengan Pak Andika membuatnya sadar akan perasaannya pada Viana, rasa menyesal dan juga rasa rindu mulai menyusup di pikirannya. Air dingin menyentuh setiap pori-pori membuat pikiran Ragarta lebih sedikit ringan. Setelah selesai dengan rutinitas menyegarkan tubuh kini Ragarta menuju lantai bawah, dan di meja makan sudah terlihat Papa dan Mamanya tengah menunggunya. Terlihat makanan yang begitu menyita perhatian Ragarta, yaitu semangkuk rawon yang ada di hadapannya, hal

