Langkah selanjutnya

1963 Kata
Atalia kini berada di bawah kukungan Alvano, matanya terpejam merasakan bagaimana tubuhnya merespon setiap sentuhan yang diberikan pria itu. ada rasa bahagia, sedih dan juga marah ketika dirinya menurunkan harga diri. Membiarkan Alvano memakainya, menikmati tubuhnya dan melakukan apapun yang dia inginkan. Akhirnya, Atalia menurunkan harga dirinya demi uang puluhan juta untuk kesembuhan sang adik, bersimpun tunduk dalam pesona sang suami yang tidak benar benar menginginkannya. Kesepakatan itu mereka lakukan dalam waktu sepersekian detik. Dengan dilandasi kalimat dari Alvano, “Kamu harus menuruti apa yang saya katakan, kamu harus menurut sama saya untuk apapun itu dan layani saya layaknya suami kamu. Setelah itu semua terpenuhi, maka kamu bisa meminta berapapun yang kamu butuhkan.” Meminta berapapun yang dibutuhkan adalah alasan Atalia menerimanya. Dia membutuhkan uang yang cukup banyak dan berkepanjangan untuk sang adik yang sakit sakitan. Maka dari itu, kini Atalia membiarkan dirinya di jamah. Terlentang di atas ranjang, ditindih dan dihentak dengan kuat. Bahkan isakannya saja tidak didengar sama sekali. Ruang kamarnya menjadi saksi bisu, bagaimana persetubuhan itu dilakukan tanpa dasar cinta dari satu pihak. Alvano hanya melepaskan amarahnya saja, perasaan terhadap keadaan yang membuatnya terjebak dengan wanita lain. “Pak….. hiks…. Udah, Ala capek,” ucapnya demikian. Namun, Alavano tidak menggubrisnya sama sekali. Dia mendengar, tapi memilih mengabaikan. Dan sebagai gantinya, dia membalik tubuh Atalia kemudian menarik pinggulnya agar terangkat. Kemudian penyatuan itu kembali di lakukan. “Pak….,” rengek Atalia. Saat dirinya pulang dari kampus, Atalia langsung ditarik menuju kamar. Dengan kalimat yang diberikan oleh Alvano, “Kamu harus lakukan apa yang saya perintahkan, buktikan kesepakatan itu.” Kalimat tersebut yang membuatnya menyerahkan diri, membiarkan Alvano menjamahnya. Bahkan Atalia melewatkan makan siang ketika dirinya di kampus. Dan sekarang harus melayani nafsu Alvano yang tidak ada habisnya. “Pak, capek…,” ucapnya menjadi penutup sebelum dirinya tidak sadarkan diri. Hingga akhirnya, Atalia benar benar tidak merasakan lagi apapun. Dan Alvano baru berhenti ketika Atalia tidak lagi merengek. Pria itu menarik tubuhnya dan melangkah meninggalkan Atalia untuk ke kamar mandi. Setelah itu, Alvano tidak melihat Atalia sedikit saja. dia langsung pergi ke ruangan kerjanya. Menatap jam yang sekarang sudah menunjukan pukul enam sore. Yang berarti mereka sudah melakukannya sejak dua jam yang lalu. Pekerjaan Alvano menumpuk, dia butuh tenaga untuk membereskan semuanya. Jadi dia memilih untuk memesan makanan dan kembali bekerja. Ketika jam menunjukan pukul 10 malam, Atalia terbangun dan mendapati dirinya bagaikana seogok sampah tidak berharga, menjijikan hingga membuat air matanya menetes begitu saja. tanpa selimut, dengan keadaan AC yang menyala dan dibiarkan berbaring tidak berdaya. Atalia menghapus air matanya kasar kemudian melihat ke sekitar untuk mengambil ponselnya. Sesuai dugaannya, sang Ibu telah meminta uang lagi padannya. Atalia ingin menangis, ingin berteriak pada keadaan apalagi ketika melihat sprei putih itu kotor oleh darah. Berpaling adalah satu satunya cara supaya air mata tidak menetes lagi. Namun, dia melakukan hal ini demi keluarganya. Yang mana membuat Atalia mencoba bertahan. Dia melangkah ke kamar mandi dengan susah payah, membersihkan dirinya dan juga kamar yang berantakan sebelum melangkah keluar. Atalia sangat kelaparan. Ketika matanya mendapati sang suami ada di ruangan kerjanya, Atalia memutuskan untuk mendekati sosok tersebut terlebih dahulu. “Pak,” panggilnya yang diabaikan oleh Alvano yang terfokus pada laptop miliknya. “Maaf ganggu, Ibu saya bilang kalau dia membutuhkan uang itu dengan cepat. Saya sudah memperlihatkan kalau saya serius dengan kesepakatan itu. bisa bapak kirimkan sekarang uangnya? Nomor rekeningnya yang tadi siang saya kasih ke bapak.” Alvano mengambil ponsel, terlihat mengetik sebelum akhirnya berkata, “Sudah.” “Terima kasih, Pak. Saya telpon Ibu saya dulu.” Mengambil ruang untuk dirinya sendiri menelpon. Atalia kemudian mendengar bagaimana bahagianya sang Ibu karena uang yang masuk ke rekeningnya itu tiga kali lipat. Mengatakan banyak terima kasih dan juga rasa syukur. *** Atalia memulai aktivitas seperti biasanya. Bersama dengan sang suami yang sekarang sarapan bersama dengannya. Malam tadi, Alvano tidak pergi menemani Nandia. Pria itu kelelahan dan selesai bekerja saat dini hari. Ketika Atalia terbangun, dirinya sudah mendapati Alvano yang ada di sampingnya tengah terlelap dengan damai. Tidak seperti sebelumnya yang menyetubuhi seperti kesetanan, membuat Atalia kewalahan bukan main. “Pak, berangkatnya saya boleh ikut? Nyampe halte juga gak papa.” Kening Alvano berkerut. “Punya aplikasi taksi Online?” “Ada, Cuma uang Atalia menipis,” ucapnya dengan menunduk merasa malu. Bukan karena kesempatan disaat mereka sudah melakukan kesepakatan. Tapi kenyataannya memang seperti itu. uangnya dipakai keperluan yang lain. Atalia butuh uang untuk kuliahnya juga, ditambah keperluan untuk di dapur. Alvano mengambil dompet di sakunya kemudian memberikan kartu ATM pada Atalia. “Beli apapun yang kamu butuhkan, pinnya tanggal lahir saya, kamu pasti tau kan? Secara kamu ini stalker,” ucapnya seperti itu kemudian berdiri dan mengambil jasnya sebelum melangkah pergi. Atalia memandang kartu ATM itu. dia mengambilnya dan memeriksanya ke ATM terdekat untuk memastikan. Dan alangkah terkejutnya dia, sampai tidak bisa menghitung nolnya. Atalia menggelengkan kepala tidak percaya. Dia mengambil dua juta dengan senyum yang merekah. Namun ketika dirinya hendak keluar dari tempat pengambilan uang tersebut, ponselnya lebih dulu berbunyi. Menampilkan nama sang suami yang memberikan pesan; Kesayangan Atalia: Kamu jangan boros, saya bisa liat semua pengeluaran yang kamu lakukan. Membuat Atalia tersenyum, dia tidak akan boros dan mengecewakan sang suami. Dirinya ke kampus dengan senyuman yang menawan, dirinya memiliki uang, Ibunya sudah dikirim uang dan semuanya sudah sempurna. Hanya saja tidak dengan jiwanya yang masih merasa kosong. Atalia masuk ke dalam kelas, mengabaikan teman temannya yang sedang bercanda gurau. Menyadari perubahan pada Atalia, salah satu temannya itu datang dan merangkulnya. “Ala, lu kenapa sih? cerita dong sama gue kalau lu punya masalah. Kita kan udah kenal sejak SMA, gue tau kalau lu sebenarnya ada masalah,” ucap Shofa, sang teman yang dikenal oleh Atalia sejak SMA. “Nggak kok, gue Cuma ngerasa kangen aja sama keluarga gue, sama adik gue.” “Jangan ngerasa sendiri,” ucap sahabatnya itu sambil memeluk. “Lu mendingan nginep di rumah gue yuj. Atau gue yang nginep di rumah lu biar lu nggak ngerasa sendirian?” “Nggak, jangan dulu. gue butuh waktu buat sendirian.” Shofa tidak tau apa yang terjadi dengan sahabatnya. “Jangan bilang lu gini gara-gara Pak Alvano ya?” dan keterdiaman Atalia menjelaskan semuanya. “La, masih banyak cowok diluar sana yang suka sama lu. Please, lu stop berharap sama cowok yang udah jadi milik orang lain.” Atalia hanya tersenyum, pria itu sudah menjadi miliknya. Tapi tidak dengan hatinya. Dia memilih untuk diam dan mengabaikan sang sahabat yang memberikannya banyak nasehat. “Gue mau main ke rumah lu.” “Jangan dulu, lain kali aja ya. maaf akhir-akhir ini gue lagi banyak pikiran,” ucap Atalia memberi penjelasan pada sang sahabat. “Adik gue kambuh lagi, lu tau gimana kondisi kehidupannya.” *** Pulang ke apartemen, Atalia kaget di sana ada Bunda Seira yang sedang memasukan bahan makanan ke dalam kulkas. “Eh, anaknya Bunda udah pulang. Sini, Sayang. Maaf ya Bunda gak bilang-bilang mau ke sini, seriusan ini mendadak. Bunda bawa makanan, nanti kamu tinggal panasin kalau mau makan,” ucapnya sambil mendekat kemudian memeluk Atalia. “Bunda kangen kamu.” Membalas pelukan sang mertua sambil tersenyum. “Ala juga kangen sama Bunda, Bunda belum beres yang program di luar kota?” “Belum, Nak. Maaf ya, Bunda jarang di sini.” “Gak papa, itukan tugas Bunda.” Mertuanya memang sering keluar kota. Sebagai dokter hewan, Mama Seira juga active dalam organisasi social untuk hewan-hewan liar yang membuatnya jarang di sini. Atalia menatap sang mertua yang kini sedang memanaskan salah satu makanan buatannya. “Kamu udah tau kondisi Nandia?” Atalia terdiam sebelum akhirnya dia menggeleng, dia tidak pernah mengetahui apapun tentang Nandia selama satu bulan ini. “Udah gak ada harapan buat Nandia bangun lagi, dengan kata lain dia Cuma bertahan karena alat-alat yang nempel di tubuh dia,” jelas Bunda Seira kemudian memberikan udang saus asam manis untuk dicicipi Atalia. “Selama satu bulan ini Alvano mendatangkan dokter terbaik, tapi jawaban dari mereka sama. Ketika alat-alat itu diambil dari Nandia, maka dia akan berhenti bernafas.” Atalia tidak tau dirinya harus merespon seperti apa, hanya terdiam dan menatap makanan di depannya sampai dia merasakan usapan di kepalanya. “Kamu jangan banyak pikiran. Mungkin ini cara Tuhan supaya kamu bisa bersama dengan Alvano, soalnya Ibu kamu bilang kalau kamu suka sama Alvano ‘kan?” “Tapi dengan cara kayak gini…. Atalia ngerasa gak baik.” “Tapi ini diluar kehendak kamu, Nak. Bunda Cuma mau minta kamu bertahan sama Alvano ya, Bunda takut sesuatu yang terburuk terjadi pada Alvano dan kamu harus ada di sisinya.” Atalia tidak menjanjikan apapun, dia hanya terdiam dan memberikan senyum pada sang Bunda seolah memintanya untuk tenang. Ketika keduanya sedang makan bersama, ponsel Atalia berbunyi memperlihatkan panggilan dari Alvano. Sebuah hal yang langka yang mana membuat Atalia langsung mengangkatnya. “Hallo?” “Kamu dimana?” Tanya Alvano. “Di apartemen.” “Bawain berkas saya yang ada di map kuning di kamar, yang ada di laci paling bawah deket wardrobe.” “Baik,” ucap Atalia. Ketika dirinya hendak mengatakan kalimat lain, sambungan telponnya lebih dulu terputus. “Kenapa?” Tanya Bunda Seira. “Pak Al minta Ala buat anterin berkas ke kantornya.” “Bareng sama Bunda aja yuk, Bunda mau ke arah sana soalnya. Nanti pulangnya kamu bisa bareng Al ‘kan?” Atalia ingin menolak, tapi melihat raut wajah Bunda Seira, dirinya tidak bisa menolak. Akhirnya dia berangkat bersama dengan Bunda Seira yang menyetir. Dalam perjalanan, Bunda Seira mengatakan kesibukannya beberapa bulan ke depan bersama dengan sang suami yang akan sering berada di luar kota, bahkan di luar Negara. “Makasih udah nganterin, Bunda.” “Sama sama. Kalau kamu butuh apa-apa, telpon aja Bunda ya, Nak.” “Iya, Bun.” Atalia keluar dari mobil dan menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya. Mendekati resepsionis dan mengatakan kalau dirinya membawa berkas yang diinginkan oleh Alvano. Dirinya dipersilahkan untuk naik ke lantai 22 dimana nanti akan bertemu dengan sekretaris Alvano yang sudah menunggu di sana. Mengikuti arahan, Atalia naik lift dan berjalan di koridor. Di ujung ruangan, dia melihat seorang wanita yang sibuk di mejanya. “Permisi,” ucap Atalia saat mendekat. Membuat sosok itu menoleh. “Oh, berkas Pak Alvano ya?” menerimanya kemudian kembali duduk. “Terima kasih.” Atalia masih berdiri di sana, berharap dirinya bisa masuk dan bertemu dengan Alvano. Untuk apa? Dia hanya merindukan pria itu dan ingin melihat keadaannya. “Apa ada hal lain yang bisa saya bantu?” Tanya seseorang yang memiliki name-tag Ellen tersebut. “Saya ingin bertemu Pak Alvano.” “Pak Alvano sedang sibuk, anda juga tidak memiliki janji dengannya.” “Saya─” “Kamu istrinya, saya tau,” ucap sosok itu kini menatap tajam Atalia, berhasil membuat Atalia kaget bukan main. Bagaimana dirinya tau? “Saya sahabat Nandia, jelas saya tau siapa yang menggantikan sahabat saya. Dan jika boleh saya menyampaikan kalau posisi kamu di sini hanya sebagai pengganti, tolong berhenti melampaui batas karena Pak Alvano hanya mencintai Nandia.” Atalia kaget bukan main, kenapa perempuan ini ikut campur masalahnya? “Saya tumbuh bersama Nandia, dan tidak akan saya biarkan seorang bocah mengambil tempatnya.” “Saya tidak pernah berniat mengambil tempat Nandia.” “Saya bahkan tau kalau kamu yang mengejar Pak Alvano selama setahun terakhir ini bukan? Berhenti bermimpi, tempat itu bukan milik kamu,” ucapnya dengan penuh amarah sebagai seorang sahabat dari sosok yang kini koma, bahkan tidak diketahui kapan bangunnya. Dan yang Atalia tau, kalau sosok itu membencinya. Bersamaan dengan itu, pintu terbuka dan menampilkan Alvano. "Udah ada berkasnya?" "Udah, Pak. Ini." Ellen memberikannya pada Alvano. Dan pria itu hanya menatap Atalia sekilas sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Atalia dengan sosok wanita yang terkekeh di sana, "Lihat, kamu jangan berharap lebih. Dia milik sahabat saya," ucapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN