Kesepakatan

1729 Kata
Dikejutkan dengan kenyataan kalau sang Ibu menelpon dari tanah kelahirannya di Jepang, memberitahu kalau Ayahnya kini sedang mengalami kebangkrutan dan juga adiknya harus menjalani pengobaatan lebih lanjut. Memang tujuan orangtuanya pindah ke Jepang adalah untuk pengobatan Amelia dan juga untuk mempertahankan pusat perusahaan yang hampir bangkrut. “Kakak, kamu di sana?” Tanya Kiara, sang Ibu yang sedang menelponnya. “Iya, Ibu.” “Ibu tau ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu, apalagi kamu baru saja memulai rumah tangga dengannya. Tapi Ibu tidak tau harus meminta pada siapa lagi. Adikmu butuh pengobatan dan perusahaan Ayahmu diambang kebangkrutan. Hanya 50 juta. Ibu yakin suamimu memilikinya, dia anak tunggal keluarga Bramawijaya.” Andai saja si anak tunggal keluarga Bramawijaya itu mencintainya, maka Atalia akan dengan mudah memintanya. “Ala akan usahakan ya, Bu.” “Secepatnya ya, Nak. Ibu butuh dalam waktu dekat ini,” ucapnya begitu sebelum akhirnya memutus panggilan karena Amelia terbangun dai tidurnya. Atalia memiliki adik perempuan berusia 14 tahun, dimana hanya berbeda 6 tahun dengannya. Sejak kecil, Amelia memang sakit sakitan, hidupnya bergantung pada alat-alat medis. Keluarga Bramawijaya sendiri memang tidak diragukan kekayaannya. Sang Ayah mertua adalah pemilik dari kampus tempat Atalia kuliah, itu yang menyebabkan Alvano diminta sang Ayah untuk mengisi kekosongan pengajar di bagian managemen bisnis. Sedangkan Alvano sendiri memiliki bisnis property. Sama sibuknya seperti sang Ibu Mertua yang merupakan seorang dokter hewan. Terhitung satu bulan lamanya dirinya mendapatkan tempat sebagai istri Alvano, tapi tidak ada hal yang istimewa sama sekali. Yang ada, Atalia hanya mendapatkan rasa sakit dari sikap dingin Alvano. Pria itu pulang hanya untuk mengganti pakaian, mengerjakan pekerjaan kemudian pergi lagi untuk menemani Nandia yang masih terbaring koma. Semua makanan yang disiapkan oleh Atalia tidak pernah disentuh. Bahkan Atalia sendiri mengandalkan uang pemberian dari mertuanya ketika pertama pindah ke sini. Alvano, belum pernah memberinya uang. Hingga malam ini ketika Atalia sedang merenung penuh kebingungan tentang apa yang harus dia lakukan, dirinya dikejutkan dengan pintu apartemen yang terbuka dengan kasar dan memperlihatkan Alvano yang masuk dengan tubuh sempoyongan. Atalia segera melangkah untuk menahan tubuh Alvano yang hampir jatuh, seketika hidungnya mencium aroma yang tidak asing. “Bapak minum alcohol?” Menoleh pada Atalia dengan kening berkerut. “Jauh jauh kamu dari saya, Atalia,” ucapnya melepaskan diri dari Atalia. Namun tubuhnya yang tidak bisa stabil hampir membuatnya jatuh jika saja Atalia tidak membantunya. “Pak, bapak mabuk. Biarin saya bantu bapaj dulu, kalau gak bapak jatuh,” ucapnya sambil membawa Alvano melangkah ke dalam kamarnya dan membaringkannya di sana. “Jangan sentuh saya,” ucapnya dengan mata terpejam. “Baju bapak basah, saya cuma mau bantu ganti doang.” Kenyataannya, Atalia membantu Alvano membasuh tubuhnya dengan kain hangat. Menatap pria yang dia kejar cintanya sejak masuk kuliah, yang sekarang menjadi suaminya. Setelah merasa yakin kalau Alvano sudah bersih, Atalia meninggalkannya sendiri di kamar. Dirinya kembali menghabiskan camilan yang dia buat dari bahan bahan yang tersisa. “Kamu mau ngapain? Pisah kamar terus bikin saya salah paham dengan orangtua saya?” Itu kalimat yang keluar dari mulut Alvano saat Atalia berinisiatif untuk berpisah kamar dengannya. Mereka akhirnya satu kamar, tapi tidak pernah tidur bersama. Bahkan Atalia merasa kalau dirinya mungkin tidak akan pernah bisa terlelap malam ini. merasa asing dengan keberadaan pria yang selalu mendorongnya untuk menjauh pergi. *** Saat Alvano bangun, matanya langsung menatap langit-langit. Dia mulai mengingat apa yang terjadi dengannya hingga berakhir mabuk seperti ini. hingga ingatan tentang pertengkarannya bersama dengan orangtuanya itu muncul saat Alvano berada di ruang inap Nandia. “Kamu seharusnya fokus sama istri kamu di rumah, dia nunggu kamu di sana. cobalah untuk melangkah maju, dokter bilang Nandia gak akan bisa bertahan tanpa alat-alat yang terpasang di tubuhnya, dengan kata lain kita hanya memaksanya hidup. Kamu harus terus berjalan, perlakukan Atalia dengan baik.” Begitu kata Ayahnya. “Nak, kasihan Atalia jika kamu terus menerus seperti ini. kamu menikahinya dan harus memperlakukannya dengan baik.” Sosok yang melahirkannya juga mengatakan hal demikian. Hingga amarah Alvano akhirnya meledak. “Jika bukan karena Ayah dan Bunda. Alvano pasti gak akan nikahin Atalia, Alvano juga gak akan ninggalin Nandia yang gak punya siapa siapa lagi dalam hidupnya. Dia sebatang kara, kalian tau apa yang terjadi dengannya. Jadi Alvano mohon apapun yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga Alvano, tolong jangan ikut campur. Siapapun yang terluka dan dikorbankan di sini, Alvano pertimbangkan dengan matang dan itu adalah hak Alvano untuk memutuskan.” Kemudian Alvano memutuskan untuk pergi ke bar malam itu dan tidak pulang ke rumah sakit karena takut aroma alkoholnya mengganggu Nandia. Dan disinilah dia berakhir sekarang, di ranjang yang sudah tidak dia tempati satu bulan terakhir. Jikapun tidur di apartemen, Alvano memilih tidur di ruang kerjanya karena kelelahan. Pergi ke kamar hanya untuk mengganti pakaian dan mencari hal penting lainnya. Begitu Alvano mendudukan diri, kepalanya terasa sakit seketika. Menghantamnya hingga terasa begitu pening. Sepertinya Alvano tidak akan pergi bekerja ataupun mengajar hari ini. Keluar dari kamar, dia melihat Atalia yang memasak seperti biasanya. Kali ini tidak ada sapaan, tidak ada senyuman ataupun kalimat yang memaksanya untuk duduk dan sarapan. “Ada apa?” Tanya Alvano yang membuat Atalia menoleh dengan alis yang terangkat. “Ada apa apanya?” “Kamu,” ucapannya terjeda sesaat. “Kenapa?” “Gak kenapa-napa, ini saya lagi bikin sup pengar biar bapak mendingan.” Tanpa disangka, pria itu duduk di kursi yang selama ini selalu Atalia doakan untuk bisa ditempati. Dia tersenyum kecil sebelum duduk di tempatnya. Atalia, perempuan berusia 20 tahun yang bahagia karena suaminya memakan masakannya. Dan pria berumur 32 tahun itu terdiam sejenak saat merasakan masakan Atalia. Tidak buruk, rasanya cukup enak. Sampai beban fikiran tentang keluarganya kembali menghampiri otak Atalia. Tadi pagi, sang Ibu kembali menghubungi, bahkan mengirimkan foto adiknya yang tengah sakit keras di sana. “Pak? Boleh saya pinjam uang?” menjeda sebentar dengan menarik napasnya dalam. “50 juta?” Yang membuat Alvano berhenti mengunyah dan menatap Atalia. “Untuk adik saya yang sakit di Jepang. Dia butuh biaya untuk melanjutkan pengobatannya, sementara usaha Ayah saya sedang tidak baik. Maka dari itu…. saya ingin meminjam uang dari Bapak.” Dengan segera, Atalia melanjutkan kalimatnya tanpa berani menatap manik Alvano, “Saya janji akan mengembalikannya jika saya sudah memiliki gantinya. Kasihan adik saya butuh uang untuk pengobatannya, Pak. Saya janji akan segera mengembalikannya.” Ingin sekali Atalia mengajukan kesepakatan bahwa dia akan berhenti mengirimi Alvano surat cinta, tapi itulah satu-satunya cara Atalia mengeluarkan keresahannya dan berharap Alvano membuka hatinya. Karena kenyataannya, setelah menikah perjuangan Atalia masih berjalan. Dia masih melakukan rutinitasnya mengirimkan surat ke bawah pintu ruangan dosen kesayangannya ini. Hanya saja, dia lakukan secara diam diam sekarang karena semua orang tau kalau Alvano sudah menikah, dan itu bukan bersama dengannya. Rutinitas itu dilakukan Atalia dengan harapan kalau sang suami akan membuka hatinya secara perlahan. Namun ternyata, tidak berdampak apa apa bahkan terkesan surat itu tidak berharga sama sekali. Sama tidak berharga seperti ucapannya sekarang, karena begitu selesai makan, Alvano berdiri dan pergi meninggalkan Atalia sendiri. Tanpa menjawab permintaannya. *** Shofa adalah bukti hidup bagaimana dia jatuh cinta pada Alvano sejak pertama kali masuk kuliah. Dan sekarang mereka sudah memasuki semester empat, artinya ini adalah tahun kedua dimana Atalia menyukai pria itu. “Masih belum tobat? Lu masih mikirin pak Alvano?” Tanya sahabatnya yang sudah bersama dengannya sejak SMA itu. “Dia udah nikah, Alaa. Lu jangan jadi pelakor ya, nanti lu terkenal kayak di TV, tapi lu terkenalnya karena dijambak, dikata-katain. Lu mau kayak gitu?” “Diem, gue lagi nyalin tugas lu ini,” ucapnya enggan membahas hal tersebut. “Gue kenalin ke temen gue yang dari fakultas sebelah mau. Anak-anak teknik pada cakep loh.” “Gak mau, gak usah. Jangan bahas bahas cowok please, gue sakit kepala.” Shofa berdecak. Dia menggelengkan kepalanya heran. “Lu kenapa sih? gue tau lu ada masalah, akhir-akhir ini lu jarang banget cerita sama gue.” “Orang lu sibuk ikut organisasi kampus.” “Ya maaf, hari ini gue main ke rumah lu deh. Gimana? Lagian lu belum bilang pindah kemana.” Atalia menegang, dia memang memberitahukan kalau dirinya pindah tempat tinggal karena orangtuanya ke Jepang untuk pegobatan sang adik. Rumah lamanya dijual, dan Atalia berkata pada Shofa kalau dia tinggal di sebuah apartemen. “Malem ini gue mau nginep di aapartemen lu ya?” “Jangan,” ucapnya dengan terburu buru. “Ada kerabat gue yang dari Jepang mau datang, mau ikut nginep. Kapan kapan lagi ya.” Itu juga alasan Atalia semakin menarik diri dari teman-temannya, dia ingat kalau Alvano beberapa kali menyuruhnya untuk merahasiakan tentang status mereka. “Eh, eh, tuh dosen kesayangan lu udah dateng.” Mata Atalia menatap keluar kelas, Alvano sedang berjalan kemudian masuk ke kelasnya. “Siang, anak-anak. Yang merasa tidak bisa memperhatikan saya, silahkan keluar. Saya tidak mau mengajar anak yang tidak menginginkannya,” ucap dosen yang terkenal dengan kekejamannya itu. Dia mengajar dan tidak menganggap Atalia, keduanya benar-benar seperti orang asing di sini. alvano memberikan penjelasan, yang tidak didengarkan oleh Atalia sama sekali. Kenapa dirinya mencintai pria seperti ini? yang hanya menyakiti dirinya saja. “Atalia, kamu dengar saya?” Shofa langsung menyenggol bahu Atalia. “Shhtt… lu dipanggil sama Pak Dosen itu.” “Iya, Pak? Gimana?” “Coba jelaskan tentang undang-undang hukum perpajakan yang saya sebutkan barusan.” Atalia terdiam, dia mengedarkan pandangannya meminta bantuan teman-temannya. “Lain kali kalau dosen sedang menjelaskan, kamu perhatikan. Jangan hanya menatap dan pikiran kemana mana.” Begitu ucapnya dengan penuh penekaanan. Bagaimana bisa Atalia fokus sementara banyak sekali hal yang membebaninya. Begitu selesai jam pembelajaran, Alvano berkata, “Atalia, ke ruangan saya sekarang.” Yang membuat Shifa langsung menakut-nakutinya. “Huuu… pasti lu dimarahin atau dikasih tugas karena tadi gak merhatiin si bapak.” Atalia menarik napas dalam, dia pergi ke kamar mandi dulu sebelum ke ruangan dosen. Sampai ponselnya memberikan notifikasi pesan, itu dari sang Ayah. Ayah: Kak, gimana? Alvano bisa bantu? Kalimat yang mendesaknya untuk segera meminta lagi pada Alvano dengan merendahkan hargaa dirinya. Saat masuk ke ruangan, focus Atalia hanya pada pria yang sudah menunggunya. “Dari mana?” “Tadi dari kamar mandi dulu, Pak.” Atalia duduk. “Ada apa?” “Saya bisa kasih uang yang kamu mau, termasuk untuk kedepannya. Saya bisa jamin keuangan kamu stabil.” Tau kalau ada harganya untuk itu, Atalia bertanya, “Apa yang bapak inginkan?” “Kamu dan harga diri kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN