▪️4▪️Kecurigaan Dhira dan Adni

1686 Kata
“Ya Tuhan! Jadi kamu toh anaknya si Jeng Kiran? Udah gede banget? Kok bisa seumuran ya sama si Elvo? Aduh ... pantes kamu mirip banget sama Jeng Kiran,” Ulya benar-benar gagal paham soal apa yang dikatakan oleh mamanya si Elvo ini. “Aduh ... mama bikin malu lagi,” gersahnya, “Ma, udah deh jangan lebay gitu.” “Ih Elvo ... mama tuh kepo banget sama anaknya Jeng Kiran. Temen-temen mama pada bilang kalau anaknya itu cantik banget. Yah, mama agak nyesel deh nggak sempet ketemuan sama Jeng Kiran. Udah beberapa tahun nggak ketemu. Eeh, ini malah diketemuin sama anaknya. Duh, mama serasa beruntung banget tau nggak ... ” “Ma ... ” “Masak iya sih mama yang sahabatan udah lama banget sama Jeng Kiran tapi gak pernah liat anaknya gimana. Kan mama jadi serasa nggak enak gitu. Dikira entar mama sahabat durhaka atau ...” “Ma ... ” “Semacamnya gitu. Ih, kan mama jadi malu sendiri, El.. duh, kamu sana gih bikin minuman. Pasti anaknya Jeng Kiran haus deh. Elvo dari tadi nggak ngasih minuman kan, Nak? Sana El, buatkan minuman untuk mama dan Ulya ya, Nak.” “Mama! Ih, mama tuh. Err!“ “Sana buruan bikin, El, jangan lama deh. Jadi cowok tuh jangan letoy gitu. Harus sigap dong. Kamu tuh ya ... katanya calon perwira. Kok malah letoy gitu.” “Mama ... ih itu kan waktu Elvo kecil. Jangan diungkit-ungkit dong.” “Dasar emak-emak. Apa aja dibocorin kalau udah ngerumpi.” “Emh, tante, saya langsung pulang aja deh. Udah sore, takut mama khawatir,” ada raut kecewa di wajah Evy –Mama Elvo. Wajahnya seakan mengatakan, “tinggalah lebih lama.” “Ya udah deh, salamin buat Jeng Kiran ya. Bilang aja dari si best gitu.” “Si best? Apa-apaan sih? Alay bener nih emak-emak.” Ulya hanya tertawa kecil dan meng’iya’kan permintaan Evy. “Tante, Ulya pulang dulu ya, makasih juga buat sepedanya ya, El. Assalamualaikum.” “Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya, Nak.” Mamanya Elvo tersenyum dan melambaikan tangannya melihat Ulya pergi. #### “Yaelah, Dhir, gue tuh keliatan banget jonesnya tau nggak gegara lo ngedate sama si cowok kantin tadi siang. Bete gue! Pokoknya lo harus tanggung jawab, beliin gue jus oreo besok. Gue nggak mau penolakan dari lo. Titik!” Dhira hanya mendengus kesal mendengar ocehan sahabat titisan aliennya itu. “Gue besok bakal lupa bawa dompet.” “Eh! Apa-apaan lu? Masa iya lupa diatur-atur segala. Kagak bisa! Pokoknya gak boleh lupa!” Dhira terkekeh mendengar semprotan lagi dari sahabatnya itu. “Eh, Dhir, by the way, gue ngerasa heran deh sama si Ulya.” “Heran kenapa, Ad?” keningnya mengerut ketika Adni mulai bergosip. “Lo liat sendiri lah. Dia itu populer dikalangan siswa, tapi kenapa kalau ke kantin dia suka sendirian kalau nggak kita ajak? Bahkan kita ngajak pun, dia sering berusaha nolak.” Mendengar ocehan sahabatnya yang kali ini benar, Dhira mulai menelaah apa yang sebenarnya terjadi pada Ulya. Mustahil untuk seorang siswi yang populer tapi tidak punya sahabat atau teman dekat satu pun. Lalu, yang teman yang sering menyapa dan selalu memujinya itu, apa mereka benar-benar menyukai Ulya? Dhira mencoba membuang segala pertanyaan aneh yang muncul berombongan di kepalanya. “Ya mungkin aja nggak ada yang cocok kali sama hatinya.” “Jiaah! Emangnya ajang pencarian jodoh, Mbak?! Ini tuh keanehan tersendiri tau, Dhir. Masa lo nggak ngerasa ganjal sih? Gue aja yang biasanya kagak peka, sekarang jadi over-peka tau gegara mikirin si Ulya.” “Muke Gile! Sejak kapan lo jadi orang yang mau tau banget soal kehidupan seseorang?” “Yaelah, lo tau sendiri kan, ya sejak gue nyaman sama seseorang itu lah.” Nyaman ya? Dhira pun merasakan itu. Meskipun mereka berdua baru saja bertemu dengan Ulya. Tapi mereka dengan mudahnya menerima Ulya masuk ke dalam dunia mereka. Dhira kembali mengulang apa saja yang ada dipikirannya tadi. Pertanyaan-pertanyaan yang harus ia tanyakan langsung pada tersangka. “Ad, besok kita jadi detektif!” #### ‘PYAARR!!’ Suara barang pecah itu membuat Ulya malas keluar kamar. Ia menutup telinganya dengan bantal. Ulya hanya berharap semua ini akan cepat berlalu. Rasanya malu kalau orang-orang terganggu dengan keadaan ini. Tapi pikiran itu membuatnya semakin tersiksa. Karena sudah bertahun-tahun ia mengalami semua itu, berpikiran seperti tadi, tapi? Tak ada yang berubah sedikitpun. Ulya mendengus kesal karena lelah mendengar perdebatan mereka yang menyangkut-nyangkut dirinya. Ia segera keluar dari kamarnya. “Papa! Mama! Berisik tau!! Ulya mau belajar!” mendengar teriakan Ulya dari lantai atas, perdebatan mereka terhenti seketika. Terlihat papa dan mamanya saling membuang muka seolah tak ingin menatap satu sama lain. Ulya lagi-lagi mendengus kesal. “Lihat! Salah siapa ini? Kamu membuat Ulya jadi nggak konsen belajar!” “Loh? Kok mas malah nyalahin aku? Mas tuh yang dari tadi nyenggol gelas mulu. Jadi pecah semua tuh!” “Seenaknya kamu menyalahkanku. Ini juga gegara kamu!” Perang dunia ketiga pun dimulai kembali. ‘GEDUBRAK!!’ Suasana hening seketika mendengar suara kursi jatuh dari lantai atas. Papa dan Mama Ulya langsung terbengong melihat kursi yang sudah hancur itu. “Kalau kalian masih aja ribut, bukan cuma kursi yang Ulya jatuhin ke bawah. Tapi diri Ulya sendiri yang bakal melayang dari gedung sekolah!” “HEEEE!!! JANGAN LAKUKAN ITU, YA!!” ‘BRAKK!’ Lagi-lagi engsel pintunya sudah hampir copot gegara dijedar-jeder tiap hari. Ulya semakin kesal jika mereka terus saja bertengkar padahal sudah berulang kali ia mengancam akan bunuh diri. “Apa sih yang sebenarnya mereka ributkan? Sampai-sampai anaknya ngancem bunuh diri aja nggak digubris!” #### Ulya masih duduk bersandar di sofa ruang tamu. Ia terus melihat jam dinding yang sudah nongkrong di angka satu lebih 35 menit. Matanya masih segar bugar dan belum ada tanda-tanda minta ditidurkan. Berulang kali Ulya mendengus kesal melihat kursi kesayangannya yang sudah hancur lebur menjadi pelampiasan amarahnya itu. “s**l! Lagi-lagi gue kehilangan barang kesayangan. Harusnya barang kesayangan gue, gue simpen aja di pegadaian. Biar kagak jadi pelampiasan amarah gue tiap harinya. Dih, kesel gue!” gerutunya yang sama seperti tiap harinya. Di tengah malam begitu, Ulya sering terbangun sendiri bahkan masih belum bisa tidur kalau jam belum nongkrong diangka tiga tepat. Sejak kejadian di masa lalunya itu, begitulah nasibnya. Untung saja ia selalu merawat kantung matanya yaang seperti panda. Kalau tidak, dia akan lebih menakutkan dari mbak kunti yang bulatan matanya hitam pekat. Hiii, membayangkan mbak kunti aja sudah bikin si Ulya merinding. Apalagi kalau dia tidak merawat matanya sendiri sampai jadi bulatan hitam. Pasti dia sudah menghancurkan semua kaca di rumahnya. ‘PING!!!’ “Mampus lo!” Ulya terlonjak kaget ketika ponsel yang ditaruh di saku celananya itu tiba-tiba saja bergetar. Bergetarnya pas banget waktu dia bayangin mbak kunti lagi nemenin dia. Kan jadi ngeri. Ulya menghapus pikiran-pikirannya tentang mbak kunti itu. Daripada dia ngompol di celana gegara tidak berani ke kamar mandi sendirian. Dia pun langsung membuka BBM siapa yang baru saja berhasil mengagetkannya itu. Elvodesta : PING!!! Ulya mengerutkan keningnya. “Ngapain nih anak nge-PING gue malem-malem gini?” Bukannya membalas, justru Ulya memikirkan hal-hal yang mungkin saja dilakukan oleh Elvo. Bisa saja, BBM yang masuk itu bukan dari Elvo atau jangan-jangan dari mbak Kunti yang ngejahilin dia. “IH! BODO AMAT DEH SAMA MBAK KUNTI!” Ulyana A. : PONG!!! Beberapa menit, BBM dari Ulya masih D. Entah kenapa, ada rasa penasaran mengapa si Elvo tiba-tiba saja nge-PING. Elvodesta : Sorry kepencet Akhirnya Elvo membalasnya. Tapi ... ‘JLEB!’ “Astaga!! Ngeselin amat sih ini anak! Gue kira penting! Dasar Cumi O’on!” Ulyana A. : Gila lo! gue kira penting -_- Elvodesta : Hm Ulya mendengus frustasi. Hari ini benar-benar s**l untuknya. Belum tadi di perjalanan pulang dari rumah Elvo jatuh ke selokan gegara HAMPIR nabrak kucing nyebrang. Di rumah ribut berjam-jam sampai tugasnya numpuk dan dia harus selesaiin nanti subuh. Kursi kesayangannya hancur lebur gegara ulah tangan nakalnya. Ditambah si Elvo yang bener-bener sinting itu. “CK!” #### “Hoi Hoi Best!!” suara cempreng si Adni pagi-pagi sudah menggelegar di telinga Dhira. Membuat si punya telinga spontan menutup telinganya. “Hadeh, kenapa semangat banget sih, Ad?” “Iyalah!” si Adni hanya memasang senyuman konyol yang membuat Dhira mendengus frustasi. “Oh ya, apa rencana lo sekarang?”. “Rencana?” Dhira terlihat mengingat sesuatu. “Oh iya! Kan kita mau ja—“ “Pagi, temen-temen!” “Pagi, Ulya!!” seisi kelas yang sudah cukup ramai itu menyapa Ulya seperti biasanya. Membuat sosok yang baru saja datang itu tersenyum sangat manis. Sampai-sampai pada penyakitan diabetes semua. “Tuh kan, gue bilang juga apa. Aneh rasanya tau. Kalau cewek supel kayak dia nggak punya sahabat satu pun!” bisik Adni menyakinkan Dhira. Dhira mengangguk menyetujuinya. Di kepalanya sudah ada berbagai pertanyaan yang muncul. Tapi masih belum bisa ia olah matang-matang agar nanti jika ia tanyakan pada Ulya tidak menyinggung perasaannya. “Ih Ulya! Pagi-pagi jangan berisik dong ih! Gatel tau kuping gue!” sahut Sishi sewot. Seisi kelas langsung saja membela Ulya. “Huu!!” Ulya tertawa melihat Sishi dipojokkan. Memang itulah keseharian kelas XI IPA 1-1. “STOPP!! Jangan hina my pretty Sishi!!” seorang cowok setengah matang waktu di rapat OSIS dulu emang sudah jadi pengagum kelas berat si Sishi ini –Dodit. “DODIT!!! JAUH-JAUH SANA GIH! GUE GELI SAMA LO! IYUH!!” “Kebiasaan deh,” melihat Sishi sama si Dodit itu, seisi kelas hanya menggeleng menahan tawa. Dhira dan Adni yang masih hangat menyandang status ‘Murid Baru’ itupun hanya melongo melihat kejadian itu setiap pagi. “Serasa tiap pagi gue ngalamin deja vu.” Adni mengangguk menyetujui perkataan Dhira. Melihat Ulya berjalan ke arah bangku yang ada di samping mereka berdua. Mereka langsung merapat dan berbisik. Hal itu justru mengundang rasa penasaran Ulya. “Dor! Hayo, bisik-bisik apaan tuh?” Dhira dan Adni hanya menatap Ulya penuh selidik. Yang ditatap langsung bergidik ngeri. Serasa dia sedang berada di kerangkeng yang isinya dua singa kelaparan. “Apa? Kenapa?” “Kita yang harusnya bertanya sama lo” ####
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN