“Kalian salah makan ya?”
Adni dan Dhira menggeleng. “Jangan mengalihkan pembicaraan, Ya!”
Ulya menggersah karena gagal paham dengan dua makhluk titisan alien yang sekarang lagi mengiterogasinya itu.
“Dasar aneh,” Ulya berusaha lari dari tempat duduknya. Tapi langsung ditahan sama kekuatan kuda milik Adni. “Ad, tenaga lo bener-bener macho!” mata Ulya langsung berbinar menyadari sesuatu yang hebat dari Adni.
“Ulya, sekali lagi kita tanya. Dan lo harus jawab dengan jujur dan bertanggung jawab.”
“Dih, emangnya gue ngelakuin apa harus tanggung jawab segala?”
“ULYA!”
“Iya, iya deh. Tapi nggak janji.”
Adni melepas genggamannya dari lengan Ulya setelah merasa Ulya tak berusaha kabur lagi.
“Awas kal—“
‘WERR’
“Bye bye!” Dhira dan Adni merasa kesal karena kehilangan fokus. Sehingga mereka kehilangan santapan yang harusnya sudah mereka kuliti hingga tinggal tulang-belulang itu.
Melihat Ulya yang sudah lari menjauh dari kantin, Dhira kembali menyusun rencana.
“Kita harus serius jadi detektif buat tau siapa dia sebenarnya.”
“Yosh! Gue setuju, Dhir.”
####
“Al, gue udah selesaiin semua yang kita butuhin buat HS Party.” Alno tersenyum menerima selebaran yang memuat rencana beserta proposal yang akan diajukan ke headmaster.
“Sip, kerja bagus, Ya. Lo emang yang anggota OSIS yang the best deh,” kata-kata itu membuat Ulya tersipu. “Oh ya, nanti istirahat kedua, lo umumin ke semua anggota OSIS buat ngumpul. Kita ada meeting lagi. Katanya Pak Jerry ada peraturan yang dia bikin buat HS Party.” Ulya mengangguk menurut.
Semua yang disuruh Alno itu serasa hipnotis buat dia. Apapun yang Alno minta, dia selalu menyetujui. Sampai Ulya berpikir, bagaimana kalau Alno menyuruhnya terbang bebas dari atap gedung sekolah? Apa dia juga akan menyetujuinya begitu saja?
“Ya udah, Ya. Sampai ketemu nanti istirahat kedua. Gue ada tugas, jadi harus gue selesaiin sebelum guru gue masuk. Bye.”
“Oke Al, gue juga balik ke kelas deh.”
Kelasnya dari ruang OSIS lumayan jauh. Dia harus naik tangga satu tingkat, melewati beberapa laboraturium, dan akhirnya sampai juga di kelas. Belum sempat dia menginjakkan kakinya ke ruang kelas. Tangannya sudah ditahan oleh seseorang.
Ulya pun sontak menatap seseorang itu. “Ah! Kalian lagi.”
Adni hanya tersenyum licik saat tangan Ulya berhasil dikunci oleh genggamannya. Jadi mau tak mau, Ulya harus menuruti apa keinginan dua manusia titisan alien itu.
Setelah mendapatkan ‘si mangsa’ kembali, mereka langsung menyeret mangsa itu ke tempat yang lebih aman (read: ada tempat duduk+makanan).
“Kalian tuh, err ... kemarin kejedot apa? Sampai segitunya ngikutin gue ke sana kemari. Serasa gue tahanan kalian berdua tau nggak”
Adni dan Dhira hanya terkekeh pelan. “Kenalin ... ”
Tangan mereka berdua langsung menyatu seperti Mermaidman dan Bernackleboy-nya spongebob.
“Kita adalah ... Detektif Antah Berantah!”
‘JRENG JRENG!’
Ulya melongo mendengar perkataan konyol mereka.
“Astaga, kalian makhluk mutasi dari planet mana sih?” gersahnya frustasi.
“Nah, sekarang pertanyaan pertama dari Dhira. Ayo, Dhir, keburu bel masuk bunyi.”
Dhira mengangguk. “Oke, Ya, jawab dengan segenap hati lo.”
Ulya hanya menghela nafas sabar. “Iya deh. Apaan?”
“Kenapa lo itu—“
‘TEETT TEETT TEETT;
“ARGGHH!! GAGAL LAGI DEH!” Ulya tertawa ngeri melihat Dhira dan Adni frustasi.
####
Suara decitan spidol entah kenapa selalu membuat para siswa terlelap nyaman. Apalagi kalau yang lagi ngajar itu guru paling sempurna (Read: udah tua, ngantukan, baik hati, gampang dikibulin, selalu kasih nilai A+).
Pelajaran PPKn emang obat tidur yang paling ampuh. Ulya emang siswa yang cukup pandai diantara kalangan teman-temannya. Tapi dia selalu aja berpikir, ngapain dia belajar PPKn? Kan dia cuma warga sipil yang masih pelajar. Bukan pejabat yang harus mikirin negara. Terus kenapa para siswa disuruh mikir negara?
Sebagai pelajar kan kewajibannya hanya belajar. Kan belum waktunya mikir hutang negara. Spontan, Ulya mengacungkan jarinya ketika Pak Farhan –guru PPKn mengajukan siapa yang ingin bertanya.
“Iya kamu, Ulya. Mau tanya apa?”
“Pak, saya mau bertanya. Tapi di luar topik pelajaran,” Pak Farhan sedikit ragu. Tapi dia mengangguki permintaan murid tersayangnya itu.
“Pak, kenapa harus ada pelajaran PPKn? Padahal kan kami masih pelajar yang kewajibannya hanya belajar. Jadi kenapa kita dituntut untuk memikirkan urusan negara?”
Seisi kelas sebagian langsung tertawa terbahak-bahak dan sebagian menyetujuinya. Yang tertawa, baru saja bangun dan tidak tau apa yang terjadi. Yang setuju, emang tidak suka banget sama pelajaran PPKn.
“Emh, bagaimana ya Ulya. Sudah, kamu kan tinggal mengikutinya saja. Toh saya juga nggak pelit nilai,”
“Loh? Kok gitu, Pak? Pak Farhan harusnya jawab yang lebih spesifik dong mengenai pertanyaan si Ulya” sahut Dhira dan yang lainnya kembali mengangguk.
“Baiklah, begini ya, anak-anak. Sebagian besar siswa memang sangat sulit menerima banyak sekali mata pelajaran yang sebenarnya bukan basic mereka. Konsep pendidikan si Indonesia itu sebenarnya seperti ini. Selama 6 tahun SD, 3 tahun SMP, dan 3 tahun SMA, para pelajar diwajibkan mempelajari segala bidang pelajaran. Entah itu Biologi, Fisika, Kimia, Matematika, PPKn, Geografi, Ekonomi, Akuntansi, dan yang lainnya. Hal itu bertujuan untuk membantu para pelajar menemukan kecocokan diri mereka dengan beragam pelajaran itu. sehingga meskipun basic kalian ada di matematika misalnya ... kalian masih bisa menjawab pertanyaan PPKn meskipun kalian menguasai matematika. Paham?”
Mendengar penjelasan dari Pak Farhan, sebagian besar melongo dan sebagian kecil mengangguk paham. Namun ada pula yang tidak menyetujuinya.
“Saya tidak setuju, Pak.” bantah Adni.
“Kenapa Adni?” tanya Pak Farhan heran. Dan hal itu membuat seisi kelas ikut-ikutan mengangguk lagi. “Ah, sebelum membantah, lepas dulu topi kamu itu.”
“Nggak mau ah, Pak!”
“Lepas, Adni. Atau saya kasih nilai C!”
‘CIAT!’
Adni langsung melepasnya dan menyembunyikan topi kesayangannya itu di laci.
“Nah begitu, lanjutkan bantahanmu itu.”
“Begini Pak, yang saya pikirkan mengenai konsep pendidikan di Indonesia itu sebenarnya kurang tepat. Bukan salah. Tapi Kurang tepat menurut saya. Karena ... seharusnya sejak SD, meskipun kita di ajari banyak mata pelajaran, kita juga harus disuruh memilih bidang apa yang benar-benar kita kuasai atau sukai. Kalau kita suka melukis, ya dalami saja pelajaran melukis atau men-design atau bisa saja lebih mendalami ilmu fisika agar bisa menjadi arsitek nantinya. Kalau kita suka matematika, harusnya sejak awal kita lebih mendalami ilmu matematika atau akuntasi yang juga berbau hitung menghitung. Kalau kita suka hal berbau kesehatan, ya kita perdalam saja ilmu Kimia atau Biologi. Begitu menurut saya, Pak. Jadi saat kita nanti lulus SMA dan masuk ke perguruan tinggi, kita langsung bisa menentukan apa yang harus kami pilih sesuai basic kami.”
‘PLOK PLOK!’
Seisi kelas langsung tepuk tangan setelah mendengar penjelasan bantahan dari seorang Adni yang terkenal sinting. Tapi kali ini jawabannya benar-benar ngena banget dihati para siswa teman sekelasnya.
“Keren lo, Ad!”
Mendengar pujian dari teman-temannya, Adni justru tertawa menggelegar. Sontak tepuk tangan itu langsung terhenti dan kembali tenang.
“Gue cabut pujian gue tadi,” sesal mereka bersamaan.
“Ah rese lo, Guys!”
Pak Farhan hanya tersenyum mendengar penjelasan bantahan dari Adni tadi. Dia tak menyangka, ada muridnya yang menyadari kalau konsep pendidikan di Indonesia itu sebenarnya kurang tepat sehingga membuat banyak mahasiswa yang tua duluan di perguruan tinggi negeri maupun swasta karena mereka salah memilih jurusan yang tidak sesuai dengan basic mereka.
“Sudah tenang semua. Ayo kita lanjutkan pelajaran hari ini!”
####
PENGUMUMAN
Diumumkan untuk seluruh anggota OSIS diharap segera berkumpul di ruang OSIS sekarang juga. Keperluan membahas mengenai HS Party.
Terima Kasih
“Itu kan suaranya si Ulya. Ternyata dia OSIS ya?”
“Wah! Pasti mau bahas masalah Pentas Seninya nih. Kita ikutan, yok! Pasti lebih seru deh. Sob, Mau nggak?” ajak Ardhi dengan semangat.
“Ikut apaan?”
“Itu HS Party ... pasti ada lomba-lomba gitu deh. Kali aja kita menang!”
“Kita? Gue aja kali, lo engga.”
“Lah? Kita dong, kan nanti kita duet, Sob?”
“Kita duel! Gue nggak mau duet sama lo.”
Ardhi menggerutu mendengar penolakan mentah-mentah dari sahabatnya itu. “Lo s***s amat sih, Sob!”
“Udah sana, lo kan juga OSIS. Jangan bolos lagi! Katanya murid teladan.”
“Iya dong, gue kan emang teladan.” Ardhi tersenyum licik menatap Elvo yang hanya memasang wajah datar.
“Iya, murid TELADAN! TELAt Datang pulang duluAN!” ujar Elvo dengan penekanan di beberapa suku kata yang ia ucapkan.
Ardhi tertawa girang. Lalu ia menepuk bahu Elvo kemudian pergi begitu saja.
Sesampainya di ruang OSIS, para anggota OSIS yang lain sebagian besar sudah berkumpul dan memilih tempat duduk mereka sebelum meeting dimulai. Pak Jerry pun sudah siap sedia di tempatnya.
“Sudah lengkap semua?”
“Hadir semua, Pak!”
“Baik, saya langsung ke intinya saja. Mengenai HS Party ini, saya mempuyai sebuah aturan yang harus kalian patuhi. Karena banyak anggota OSIS yang sering menerima suap dari para siswa selama perlombaan, para siswa yang fair selama ikut perlombaan menyebut OSIS curang dalam setiap perlombaan dan sebagainya, tentu saja hal ini memicu kesalahpahaman antara OSIS dan para siswa. Jadi, dengan adanya HS Party ini, saya membuat sebuah aturan, sebelum saya memberitahu apa aturan tersebut, berapa anggota OSIS tahun ini?”
Sekertaris OSIS langsung memberi daftar anggota OSIS tahun ini. “Bagus, lebih dari cukup. Karena kita akan menyeleksi para pendaftar untuk lomba, dan memilih peserta sebanyak 30 siswa, jumlah anggota OSIS sudah lebih dari cukup.”
“Emh, lalu apa peraturannya, Pak?” celetuk salah satu anggota OSIS.
“Begini, dengarkan baik-baik. Saya hanya mengatakannya satu kali, dan tidak ada pengulangan” semuanya mengangguk paham. “Untuk menghindari aksi suap-menyuap dan kesalahpahaman, anggota OSIS yang nanti saya pilih, harus ikut lomba sebagai pasangan duet para peserta. Entah nanti peserta menampilkan drama, menyanyi, dance, atau apapun, kalian harus menyanggupinya. Saya melakukan hal ini agar tidak ada kesalahpahaman lagi. Mengerti?”
“Siap, Pak! Mengerti!”
“Bagus, Sishi ... ini daftar anggota OSIS yang sudah saya pilih. Untuk wakil yang menyeleksi para peserta juga sudah saya pilihkan. Kalau sampai saya tau ada kecurangan lagi seperti dulu, saya tidak segan untuk memberi hukuman. Bukan hanya ditendang dari OSIS, tapi juga pengurangan poin kedisiplinan. Paham?”
“Siap, Pak! Paham!”
“Kalau begitu, saya akhiri meeting hari ini. Selamat belajar.”
“Iya, Pak. Terima kasih atas arahan anda,” setelah Pak Jerry keluar dari ruang OSIS. Sishi langsung menulis nama-nama yang tercantum di selembar kertas itu.
“Ah, s**l! Kenapa gue jadi panitia seleksi sih. Gue kan pengen duet sama si Elvo!” gerutu Ardhi setelah membaca namanya ada di kolom panitia seleksi.
Ulya menggersah karena namanya tercantum dalam kolom kandidat duet peserta. Ia hanya berharap mendapat pasangan duet yang bisa diandalkan.
####
“Sekarang lo nggak bisa kemana-mana lagi. Karena sekarang, kita udah bebas dari bunyi bel masuk.” Dhira dan Adni tertawa girang karena mendapat ketenangan selama interogasi.
“Buruan deh, kalian tuh kayak demit tau nggak. Gue ada di mana, pasti kalian ikutin!”
“Nah, itulah tugas Detektif Antah Berantah seperti kita” sahut Adni. Ulya hanya mendengus kesal setiap kali mendengar kalimat ‘Detektif Antah Berantah’.
“Oke deh, kalian para Detektif-Antah-Berantah, apa yang mau kalian tau dari hidup ruwet gue ini?”
Dhira menatapnya tajam. Seolah akan mengulitinya hidup-hidup kalau seandainya si Ulya menjawabnya dengan asal.
“Oke, gue jawab setulus hati gue. Segenap jiwa raga.”
“Deal! Gue pegang kata-kata lo tadi. Kalau bohong, lo akan tau akibatnya.”
“Dasar para manusia setengah alien!” mereka terlalu aneh jika harus disebut manusia biasa. Karena sikap mereka melebihi sikap manusia normal.
“Pertanyaan pertama, kenapa lo nggak punya sahabat?”
“Hah? Pertanyaan macam apa itu?”
####