▪️6▪️Petikan Gitar Yang Indah

1946 Kata
“Pertanyaan konyol.” “Ya biarin dong, kenapa? Nggak bisa jawab atau nggak mau jawab?” Lagi-lagi Dhira melontarkan pertanyaan yang menyebalkan. Ulya mengerucutkan bibirnya kesal. “Nggak mau jawab! Titik nggak boleh ada koma atau tanda tanya lagi!” “Eits, dengerin nih.” “Oke, gue jawab setulus hati gue. Segenap jiwa raga.” “Dih, direkam segala,” Ulya mengerutu, “dasar sinting lo berdua!” “Biarin, emang kita udah sinting dari zigot,” bantah Dhira kesal, “Nah, ayo jawab!” Ulya terdiam. Kali ini wajahnya terlihat serius hingga membuat Dhira dan Adni saling menatap keheranan. “Sorry, Guys, gue nggak bisa jawab pertanyaan itu buat sekarang.” “Kenapa? Kan tinggal jawab aja, Ya?” bantah Adni. Namun Ulya masih memasang wajah serius dan membuat Adni sedikit merenggangkan genggamannya pada lengan Ulya. “Belum waktunya buat kalian tau siapa gue sebenarnya. Lepasin gue, Ad.” “Kenapa sih, Ya? Emang siapa lo sebenarnya? Kenapa lo bilang saat ini bukan waktu yang tepat buat kita tau siapa lo?” Dhira kembali menumpahkan satu dari seribu pertanyaan yag bersarang di otaknya. “Dhira, gue bilang ... gue nggak mau jawab apapun pertanyaan dari lo untuk saat ini sampai saat yang tepat tiba. Jadi cukup buat tanya apapun ke gue lagi.” “Kenapa?” Dhira mulai terhanyut keseriusan dari Ulya. “Karena gue belum sanggup percaya sama orang lain!” Dhira tersentak namun menahan diri untuk tetap tenang. “Adni ... lepasin gue.” “Wew, tumben lo manggil nama gue selembut itu?” “Adni ... ” “Aduh lembutnya ... ” “ADNI!!” “Yaelah, baru aja gue mau seneng dipanggil lembut gitu sama lo. Sekarang udah kasar lagi.” Dhira menepuk bahu Adni, seakan menyuruh Adni untuk mengikuti apa permintaan Ulya. Adni pun melepas genggamannya yang ada dilengan Ulya itu. “Gue pulang dulu. Masih ada yang harus gue persiapin buat seleksi HS Party.” Ulya pergi begitu saja tanpa persetujuan dari Dhira dan Adni. Dia benar-benar terlihat buruk setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Dhira tadi. “Dhir, kenapa lo ngelepas dia semudah itu sih? Ulya itu kayak kecoa tau! Kecil, susah nangkepnya, lari ke sana ke sini ke situ kagak ada capeknya, kita yang ngejar yang kecapekan. Apalagi kalau pake modus terbang, beeuhh ... tambah kacau tuh. Nggak ada yang bisa nangkep kalau modus terbang udah ON!” Dhira hanya menatap malas Adni yang mengoceh tak jelas. “Lo ngoceh apaan sih?” “Ya intinya, kenapa ngelepas Ulya ... semudah itu?” Dhira tersenyum dengan senyuman yang sulit diartikan. “Karena gue udah tau jawabannya.” #### Ulya menghempaskan tubuhnya di ranjang yang cukup empuk. Menghembuskan napas lega setelah berhasil melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan mematikan dari Dhira. Dia benar-benar tak snggup jika harus menjawab pertanyaan itu sebelum waktunya. Entah kenapa, yang pasti jawabannya hanya satu kalimat. “Gue masih belum siap buat percaya lagi” Brmm! Mendengar suara mobil dari luar. Ulya langsung bergegas keluar rumah dan menemui siapa yang baru saja keluar dari mobil Pajero hitam itu. “Papa!!” Dikejutan oleh kedatangan anaknya, sang papa hanya tersenyum dan membentangkan kedua tangannya. “Ih papa geer, siapa juga yang mau meluk papa” sang papa hanya mencubit hidungnya gemas ketika dia menjulurkan lidah menggemaskan. “Dasar manja!” “Idih, biarin. Namanya juga anak papa, ya harus manja dong biar dikasih duit.” Papanya hanya tertawa dan mengacak poni kuda itu hingga berantakan. Membuat si pemiliknya mendengus kesal. “Pa, jangan berantem sama mama lagi buat hari ini. Ulya lagi pusin nih mikirin kegiatan OSIS,” sang papa mengangguk lalu merangkul anaknya untuk diajak masuk ke rumah. “Ih, Papa sok tinggi banget deh. Iya-iya, Ulya sadar kok kalau Ulya pendek. Papa gitu amat sih sama anak sendiri,” lagi-lagi papanya hanya tertawa. “Salah mama kamu tuh, kenapa dia pendek. Kamu jadi ikutan pendek deh.” “Ih tuh kan mulai ... entar mama kalau denger bisa ngomel lagi. Terus kalian jadi berantem deh cuma masalah sepele gini.” “Engga, engga, udah sana masuk kamar. Selesaiin tuh tugas-tugasmu. Papa mau mandi dulu.” Ulya mengangguk lalu meninggalkan sang Papa yang masih berdiri di ruang tamu. “Halo, Pak.” “ ... ” “Maaf, Pak. Saya akan mencobanya sekali lagi.” “ ... ” “Aduh, saya mohon, Pak. Saya mohon sekali.” “ ... ” “Baiklah, Pak. Saya janji akan mempresentasikan yang terbaik. Saya tidak akan mengecewakan anda lagi.” “ ... ” ‘PIP!’ Mendengar percakapan papanya dengan seseorang, Ulya mengintip dari balik pintunya yang terbuka. Papanya terlihat sangat frustasi. Mungkin masalah pekerjaan. Beberapa hari yang lalu, Ulya mendengar papa dan mamanya bertengkar karena masalah perusahaan di mana papanya bekerja. Ulya hanya berharap, masalah pekerjaan papanya itu terselesaikan. Dan keluarga dalam kendali lagi walau sesaat. Ia benar-benar butuh ketenangan. #### “Eh, Dhi, lo jadi panitia, kan?” langkahnya dihentikan oleh suara Ulya. Ardhi hanya mengangguk sekilas menanggapi pertanyaan Ulya. “Nih, daftar peserta yang kemarin tadi daftar, capek banget gue. Ada banyak banget yang daftar. Emangnya harus 30 peserta ya?” “Iyalah, Ya. Kan kita dibatasi sama waktu juga. Kalau durasi per-perfom maksimal 10 menit. Coba deh kaliin ke seratus dua puluh satu ini. Mau pulang kapan lo?” Ulya cengengesan mendengar omelan dari Ardhi. “Iya-iya, dasar emak-emak rempong!” Ulya menjulurkan lidahnya mengejek lalu kabur sebelum Ardhi membantainya. “Dasar cewek ngeselin. Sama aja kayak si Elvo.” Ardhi kembali melihat daftar peserta yang sudah mendaftar. Baru setengah hari saja sudah mendapat seratus dua puluh satu. Apalagi kalau pendaftarannya dibuka seharian. Panitia seleksinya yang kuwalahan. Ardhi mendesah pusing. Dia terus menghitung jumlah peserta yang harus diseleksi. Dia hanya berharap ada yang mengundurkan diri. Setidaknya seratus orang. Kalau yang mengundurkan diri seratus orang terus nanti yang dia seleksi apa? Ardhi memang selalu polos. “Sob!” Elvo menatap datar ke Ardhi yang berlari ke arahnya membawa secarik kertas. “Itu apaan?” “Ini daftar peserta yang mau diseleksi lusa. Lo siap-siap ya, Sob! Gue berharap lo bisa lolos terus naik ke panggung, terus lo ngedapetin hadiah utamanya, terus kasihin ke gue deh. Lo emang yang terbaik deh, Sob!” Elvo hanya menggeleng pelan mendengar ocehan tak bermutunya Ardhi. “Lo mau nampilin apa, Sob?” “Rahasia.” “Dih, pake rahasia-rahasiaan segala lo. Kali aja gue bisa bantuin lo biar bisa lolos.” “Lo mau ditendang dari OSIS?” Ardhi terdiam kikuk mendengar respon menyakitkan dari sobatnya itu. “Lo abis makan cabe rawit berapa kilo?! Pedes banget kalau ngomong. Udah deh, gue mau beli minum dulu. Awas kalau lo kabur dari gue lagi!” Belum selangkah Ardhi pergi dari tempatnya, Elvo sudah meninggalkan tempat duduknya dan menulikan pendengarannya dari teriakan-teriakan Ardhi. “Dia itu b**o atau otaknya udah karatan sih?” #### Elvo mampir ke ruang musik sebelum kembali ke kelas. Dia melirik gitar yang tergeletak di meja. Sepetinya baru dipakai oleh seseorang. Dia mengambil gitar itu dan mencari tempat duduk yang pas. Sebelum memetik, ia melihat pintu ruang musik yang sepertinya dibuka oleh seseorang. Ia mendengar suara tawa yang sepertinya sangat familiar untuk telinganya itu. “Iya, gue mau ambil gitar dulu.” suara itu semakin terdengar jelas. Dan sepertinya seseorang itu mulai melangkahkan kakinya untuk masuk. “Ulya?” Ulya –seseorang itu terkejut setengah mati melihat Elvo duduk di pojok ruangan dengan wajah yang amat sangat datar. “Pencuri!!” telunjuknya mengarah ke gitar yang ada ditangan Elvo. Elvo kebingungan dengan apa yang dimaksud ‘pencuri’ oleh Ulya ini. “Ini? Gitar lo ya?” Tanpa menjawab, Ulya langsung mendekati Elvo dengan kesal. ‘Syut!’ Dia langsung menyambar gitar yang ada ditangan Elvo. “Ini gitar gue! Nggak usah pegang-pegang. Entar rusak!” “Cih, pelit.” Elvo pun akhirnya bangkit dari duduknya lalu pergi dari hadapan Ulya. Sebelum dia keluar dari ruang musik, panggilan dari Ulya menghentikan langkahnya. “Lo mau ngapain di sini?” “Mau mandi.” “Mandi?” Ulya melongo mendengar respon dari Elvo. “Ya mau latihan lah!” Ulya hanya ber’oh’ria mendengar ralat dari si muka datar itu. “Latihan buat apa?” “Buat ngamen.” “Ngamen?” lagi-lagi Ulya dibuat bingung oleh jawaban Elvo. “Ya buat seleksi lah!” “Dih, biasa aja dong, jangan sewot gitu. Nih, gue pinjemin gitar. Kan lo di rumah kagak punya gitar. Gue tau kali, di kamar lo itu adanya cuma buku pelajaran sama komik-komik anak kecil. Ha-ha! Ngakunya cowok, tapi kok gitar aja nggak punya. Duh, duh,” ucap Ulya setengah mengejek. “Eh, emangnya lo punya gitar bisa maininnya?” balas Elvo bermaksud mengejek balik. “Bisa lah, gue kan pemusik handal se-sekolah ini. Lo pasti kenal si Ardhi, kan? Dia temen sekelas lo. Pasti tau lah, dia itu, pasangan duet gue setiap ada acara yang di dalangi OSIS,” lagi-lagi ucapan Ulya terdengar mengejeknya. “Elo? Pemusik handal? Gue mending tidur daripada dengerin petikan gitar lo itu.” Ulya memanas. Rasanya setiap kata yang keluar dari mulut Elvo itu tercapur dengan bara api yang membara sedangkan dirinya adalah sebuah tanki minyak tanah yang bisa meledak kapan saja jika didekatkan dengan Elvo. “Ih! Bilang aja kalau lo iri sama gue karena lo cowok cupu yang nggak bisa main gitar dan lo kalah sama cewek rese kayak gue!” Perkataan Ulya itu membuat Elvo melangkah mendekatinya dengan wajah datar yang sebenarnya penuh arti. Melihat Elvo bergerak mendekatinya, matanya mulai membesar perlahan-lahan. Secara reflek pun kakinya bergerak mundur. Keinginannya menjauh dari Elvo yang semakin mendekatinya. ‘DUK!’ Kepalanya sudah membentur dinding. Itu tandanya, Ulya terperangkap! Sontak Elvo terhenti ketika jarak mereka hanya satu langkahan kaki. Ulya mendongak menatap Elvo dengan tajam. Dan Elvo hanya menatap datar Ulya seperti biasanya. “Eh kerdil, cewek penguntit, cewek rese, cewek bawel, cewek lebay, cewek ngeselin, cewek sombong, denger baik-baik. Gue bisa main gitar lebih baik dari lo. Kalau lo pemain gitar terhandal se-sekolahan, gue ... adalah pemain gitar terhandal se-kota ini” Mendengar pembelaan diri dari Elvo, Ulya justru tertawa terbahak-bahak sampai perutnya kesakitan. Dia terduduk di kursi yang di duduki oleh Elvo tadi dan terus tertawa sambil memegangi perutnya karena sakit kebanyakan ketawa. “Ada yang lucu?” Ulya masih tertawa tersengal-sengal. Sontak Elvo menyambar gitar yang ada di tangan Ulya lalu menggenjrengnya sekali. Genjrengan itu membuat Ulya berhenti tertawa dan mulai serius menatap Elvo. “Tunjukin ke gue, kalau lo itu handal.” Ulya menampakkan senyuman licik saat melihat Elvo menatapnya datar. Dan petikan gitar itupun dimulai. Awalnya Ulya tak mengerti apa istimewanya dari petikan itu. Semakin ke tengah-tengah lagu yang dinyanyikan oleh Elvo. Hatinya tiba-tba saja bergetar. Entah kenapa hal itu bisa terjadi. Padahal permainan Elvo terdengar biasa saja. Tapi petikan itu begitu indah hingga membuat hatinya bergetar. “Stop!” Petikan Elvo pun terpaksa berhenti ketika melihat mata Ulya yang sudah melebar seperti mau meloncat keluar. “Ma-mata lo!!! Merem! Ayo merem!!” Elvo langsung menutup mata Ulya dengan tangan kekarnya. Dia tiba-tiba saja bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ulya menahan tawanya merasakan Elvo yang gelapan mencari cara untuk membuat mata Ulya yang melotot sampai kelihatan seperti hampir copot tadi. “Lebay lo, El.” Ulya langsung menepuk tangan Elvo yang masih menutupi matanya. “Lah elo sih, mata dibiarin hampir copot gitu. Kalau kagum sama gue, biasa aja dong. Jangan berlebihan.” “Cih!” Ulya tertawa mendengar Elvo menyombongkan dirinya. Elvo kembali menggenjreng senar gitar milik Ulya. Menyanyikan sebuah lagu yang sering dibawakan oleh Peterpan – Aku & Bintang. Tanpa diketahui oleh Elvo ... Lagu itu, lagu kesukaan Ulya. “Nggak nyangka juga ya, petikan gitarnya indah.” ####
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN