Pandangan Pertama
Pagi itu cukup terik. Suasana sekolah sudah sangat ramai oleh siswa dan siswi yang masih nongkrong dikoridor kelas.
Revina Herlina alias Vina sedang mengobrol dengan temannya didepan pintu kelas.
"Vin, kemaren aku tuh gak nonton deh kelanjutan film si Pangeran" Kata Sisil teman Revina. Namanya Arsyilla Putri, teman Revina sejak SMP. Sebenarnya Sisil dan Revina mulai dekat sewaktu mereka masih dikelas 2 SMP. Waktu itu Sisil disuruh oleh teman sekelasnya bernama Hana untuk pinjam buku PR Revina yang berbeda kelas.
Revina yang cuek walaupun sebenarnya malas memberikan buku contekan akhirnya hanya bisa menyerahkan hasil belajarnya semalaman. Karna Hana sifatnya selalu memusuhi kalau ada temannya yang gak nurut kemauan dia.
"Ih rame tau Sil, ternyata yaa..."
Baru saja hendak bercerita panjang lebar tiba-tiba bel berbunyi.
Sisil dan Revina hanya manyun dan melangkah bersama kedalam kelas. Mereka satu kelas selama 3 tahun ini di SMA. walaupun tidak satu bangku tapi mereka tetap akrab dan masih banyak menghabiskan waktu berdua disekolah. Revina duduk dengan Pratiwi, teman yang baik walapun kadang suka bikin Vina kesel kalau Tiwi panggilannya suka ganjen sama teman cowok dikelasnya.
Sedangkan Sisil duduk dengan Dita, perempuan manis yang pemalu tapi cukup pintar dikelas.
"Sil, ntar lanjut ya istirahat aku ceritain" Teriak Revina karna tempat duduk mereka lumayan berjauhan.
Revina memilih duduk dibangku agak belakang, karna ajakan Pratiwi sewaktu mereka memulai tahun ajaran baru waktu itu. Tenyata supaya Pratiwi bisa ganjen sama cowok bernama Theo.
***
Waktu istirahat tiba.
Revina langsung menghampiri meja Sisil dan menggandengnya menuju kantin sekolah sambil bercerita kelanjutan sinetron yang tidak ditonton Sisil semalam.
Dikantin saat sedang duduk menunggu makanan yang sudah dipesan datang, tiba-tiba seseorang dari belakang menepuk pundak Vina. Rupanya Theo.
" Ihh..si Tiwi masih dikelas" kata Revina sambil mengelus kasar pundak yang barusan ditepuk.
" Gue mau nyamperin loe tau, bukan nyari Tiwi".
" Lagian, kalau gak ada Tiwi gabungnya sama temen cowok kek" Sisil ikut manyun melihat sahabatnya manyun.
" Sebenernya ya gue tuh ada info buat loe Vin"
Vina melirik Theo yang akhirnya duduk disampingnya. Theo sedikit membungkukan badannya ke arah Vina, bersiap memberikan kabar yang bakal bikin kaget.
" kayaknya ya, si Rendra suka sama loe deh"
tangan Theo menunjuk Revina.
"HAAAAHHH.." Vina dan Sisil teriak bareng.
Sisil tertawa.
" Loe mah ngaco aja ah, pan si Rendra mah pacarnya Dita sebangku gue". Sisil sewot.
" Sil, loe mah gak tau sih karna duduk didepan. Gue sering banget liat dikelas Rendra tuh nengoknya kesamping bukan kedepan"
Rendra Mahendra, yang diketahui pacar Dita teman sebangku Sisil duduk dibelakang hanya berbeda barisan dengan Vina.
"Lah terus apa hubungannya sama akuuuuu gtu". Revina ikutan sewot merasa yang dikatakan Theo itu konyol.
" Berdasarkan pengamatan profesor Theo yang jenius ini, setelah dilakukan penelitian berabad-abad lamanya dan menarik garis pandangannya si Rendra, ternyata matanya itu tertuju padamu.." Tangan telunjuk Theo mendorong dahi Vina.
Mendengar ucapan Theo yang terdengar meragukan Vina hanya menyunggingkan senyumnya. Begitupun Sisil merasa ucapan Theo hanya ngawur belaka.
"Gue bilangin loe ke Dita udah gosipin pacarnya ya " ancam Sisil.
" Terserah kalian aja, lagian Dita sama Rendra sama-sama pendiem dan pemalu kalau digosipin gak bakal ada perang dunia ini". Ucap Theo dengan nada bicara mengejek Sisil sambil berlalu pergi.
Revina menatap Sisil serius.
" Sil, kamu bakal bilangin ke Dita?" ucap Vina sedikit khawatir.
" Enggak lah, ngapain. Si Theo gak usah didenger " kata Sisil cuek.
***
Bel masuk berbunyi.
Revina dan Sisil masuk kekelas dengan bergandengan tangan. Terdengar si Theo nyanyi-nyanyi sambil teriak.
" memandangmuuu walau selaluuuu nanananananaaaaa.
memandangmuuu walau selaluuuu
nanannanananananaaa."
Vina mengerutkan keningnya melihat kelakuan Theo yang bikin berisik seisi kelas. Lalu duduk dibangkunya yang ternyata sudah ada Tiwi disitu.
"Tiw, lihat kelakuan cowok idaman kamu, kok bisa-bisanya suka sama type begitu?" Ucap Vina menahan senyum ke arah Tiwi.
Yang diajak ngobrol gak fokus, dari tadi cuma nyengir melihat kelakuan Theo dengan mata takjub. Revina hanya menggelengkan kepala.
Tiba-tiba Vina jadi kepikiran dengan ucapan Theo dikantin tadi. Lalu matanya pelan-pelan mencari sosok Rendra kebangku di arah samping terhalang 4 kursi. Tapi Vina tidak menemukan cowok itu. Lalu ia sedikit berdiri dan matanya mulai mencari lagi diseisi kelas.
Lalu muncullah pria itu dari balik pintu kelas. Dan Vina menyadari Rendra yang masuk ke kelas tanpa sengaja pandangan mereka beradu.
Vina Kaget. Begitupun Rendra tampak terkejut melihat Vina yang sedang menatapnya. Vina langsung duduk dan memalingkan pandangannya ke Tiwi lalu pura-pura ngajak ngobrol.
Perasaan Vina seketika malu dan tidak mau melihat ekspresi wajah Rendra selanjutnya.
Sisil yang melihat adegan tersebut sejak Vina berdiri mencari seseorang, lalu muncul Rendra masuk kedalam kelas dan terjadilah adegan saling pandang itu akhirnya hanya bisa bengong lalu menatap Dita dengan tatapan cemas.
Pak Hidayat masuk kelas. Guru Bahasa Indonesia yang super baik.
" Anak-anak untuk tugas Bab 10 ini Bapak ingin kalian buat kelompok. 1 kelompok 4 orang ya ".
Suasana kelas riuh.
" Sil, kita sekelompok ya tapi seperti biasa Rendra juga dikelompok kita " ucap Dita.
Sebenarnya setiap ada tugas kelompok Dita memang selalu menyuruh Rendra untuk 1 kelompok. Tapi untuk kali ini Sisil agak ragu setelah kejadian seusai istirahat tadi antara Rendra dan sahabatnya. Apa Sisil harus hengkang dari kelompok Dita dan memilih membuat kelompok lain dengan Revina. Tapi kalau begitu malah akan timbul banyak pertanyaan dari Dita. Akhirnya
" Yaudah seperti biasa, aku juga ajak Revina ya " balas Sisil ke Dita.
Dita mengangguk.
"Vin, kita sekelompok ya" teriak Sisil.
" Iya sini Sil, aku udah sama Tiwi sama Theo juga tinggal seorang lagi " balas Vina teriak juga.
" Yah, aku juga tinggal satu orang aja Vin, aku, Dita sama Rendra, kamu mau gak?" Sisil masih teriak.
Mendengar obrolan yang berisik antara Vina dan Sisil, Theo kemudian tertawa.
Vina bingung, Sisil juga bingung.