The Queen [5]

1372 Kata
Selamat membaca, diperkenankan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤️ *****      RAKHA sedaritadi mendengus kesal melihat ketiga gadis yang masih sibuk bercerita dengan hebohnya tanpa memperdulikan dirinya, daritadi Rakha menunggu Aurel kembali dari urusannya. Gadis itu pamit ingin mengunjungi sesuatu sebentar sebelum menyusul Rakha dan yang lainnya di Cafe saat ini. "Lebay," gumam Rakha melihat tingkah Salsha yang baru saja hampir menangis saat mendapat oleh-oleh dari Sherren. Hanya barang kosmetik dari brand ternama tapi itu adalah kosmetik yang sangat diinginkan oleh Salsha sejak lama, namun dirinya tak cukup waktu untuk membelinya karena belum ada kesempatan pergi ke luar negeri karena sekolah. "Rak, mana oleh-oleh buat kita?" Tanya Salsha menatap laki-laki yang sejak tadi duduk diam memperhatikan mereka. Rakha mendelik, "Gue bukan rak," cetusnya kesal mendengar panggilan Salsha yang sedikit tidak mengenakan di dengar. "Bodo amat anjir," balas Salsha tak peduli. "Ambil di mobil," ucap Rakha pada akhirnya. "Ini si Queen ga nyasar kan ya? Kenapa lama amat, Audy udah lumutan nungguinnya," ucap Audy bosan, terhitung sudah 20 menit menunggu kehadiran salah satu sahabatnya itu. "Emang tadi dia pamit ngapain?" Tanya Sherren bingung, "Mungkin ngurusin kerjaan dia, lo tau kan tuh cewek udah ngurusin hal berbau bisnis," sambung Salsha yang sedang mencoba cake pesanannya. "Udah berapa lama dia terjun ke urusan bisnis?" Tanya Rakha datar, jika menyangkut hal Aurel maka laki-laki itu akan menanyakannya hingga ke akar-akarnya. "Mana gue tau, berapa lama Dy?" Tanya Salsha menatap Audy, "Emm seingat Audy sih dari sejak masuk SMP, beberapa bulan setelah orang tuanya meninggal. Queen udah belajar-belajar tentang hal bisnis gitu disamping dia belajar buat sekolah," timpal Audy. "Padahal waktu itu umur Queen masih kecil, Audy sempet kaget ngeliat perubahannya yang terlalu besar," Rakha terdiam, memikirkan hal-hal yang dia dan Sherren lewati karena kepindahan mereka ke luar negeri. Rakha sangat ingat saat dia dan Sherren kembali ke Indonesia saat mendengar kabar orang tua Aurel telah meninggal dunia. Disitu Rakha terakhir melihat senyuman Aurel, hingga di hitung sampai saat ini. Tak ada lagi senyum dan keceriaan gadis itu. Gadis itu mengkamuflase dirinya menjadi gadis datar tanpa ekspresi yang tidak diketahui oleh siapapun. "Bahas gue?" Suara Aurel membuat semua terkejut, bahkan Salsha harus menepuk dadanya karena tersedak minumannya. "Lo kek jelangkung anjir! Untung gue ga mati, kalo dateng salam dulu kek," omel Salsha kesal, sedangkan Aurel tak peduli dan memilih duduk. "Darimana aja lo, lama amat tanya Sherren memberikan minuman yang suda dia pesan kearah Aurel. "Ada masalah sedikit di perusahaan," jawab Aurel seadanya. Hari ini dia hampir saja mematahkan tangan karyawan di perusahaannya karena ketahuan melakukan penggelapan dana perusahaan yang nominalnya tidak sedikit sama sekali. Untung saja dia bisa mengontrol emosinya dengan baik, dia lebih memilih pergi darisana dan meminta tangan kanannya mengurusnya. Dia tidak ingin ada yang celaka karena dirinya. "Capek banget?" Tanya Rakha khawatir dan mengusap keringat Aurel dengan lembut. Aurel hanya mengangguk, tak juga menepis tangan Rakha yang membersihkan keringatnya. Sudah terlalu biasa melihat sikap romantis Rakha kepadanya, tapi bagi orang lain yang melihat ini semua pasti mengira keduanya memiliki hubungan khusus seperti saat ini. Tatapan terluka terlihat dimata para gadis yang duduk di Cafe dan secara terang-terangan menatap wajah tampan Rakha. "Ga usah romantisan depan kita ya Lo berdua, mau gue colok ha!" cibir Salsha melihat adegan sok drama di depannya. "Yaelah kelamaan jomblo si lu," sahut Sherren. *****    Semua decakan kagum terdengar saat seorang laki-laki berjalan santai di bandara dengan membawa kopernya. Telinganya tersumpal dengan headphone bertali, wajahnya terlihat sangat tampan. Oh bukan, tapi sangat sangat tampan dengan pahatan yang terlalu sempurna. Laki-laki itu berjalan seolah-olah tidak ada yang melihatnya, jujur saja dia sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Tepukan dibahunya membuatnya menoleh, Athala menatap laki-laki dihadapannya dengan datar. "Lo kemana aja anjir?! Gue keliling nyariin ternyata disini," semprot Athala menatap sepupunya itu. "Sorry, I thought you weren't going inside the airport. Makanya gue jalan sendiri," balasnya dengan jujur. Athala hanya berdecak kesal, "Yaudah ayo ke mobil, mamah udah nungguin lo di rumah," Laki-laki itu mengangguk dan memilih berjalan terlebih dahulu, "Angkasa pea, kek tau aja mobil gue yang mana," gerutunya sinis. Keduanya masuk ke dalam mobil yang terparkir rapi di bandara, selama perjalanan pun hanya suara musik dari mobil yang lebih mendominasi karena keduanya memilih diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. "By the way, How is your school there? I mean you already went to one of those famous schools but you choose to move to Indonesia," "I just want to," jawab Angkasa seadanya, kepulangannya ke Indonesia memang karena dia ingin. "Seriously?" Athala sedikit ragu mendengar jawaban sepupunya itu, pasalnya dia tau Angkasa tipe orang yang sudah terbiasa hidup sendiri di luar negeri. Jadi bukan masalah baginya. Jika orang tuanya memilih tinggal di Indonesia pun bukan menjadi masalah juga karena selama dia tinggal di luar negeri, tepatnya Inggris. Orang tuanya jarang bertemu dengan Angkasa, paling tidak 3 bulan hanya sekali karena kesibukan. Mungkin ada alasan lain yang disembunyikan Angkasa atas kepulangannya. "Ga usah mikirin gue, fokus aja nyetir yang bener," celetuk Angkasa, "Karakternya tetep aja pengen ngajak baku hantam," cibir Athala. "Lo mau langsung ke rumah atau mau mampir kemana? Mumpung gue ada waktu, soalnya setelah ini gue balik lagi ke sekolah," ucap Athala menawarkan. "Lo sekolah?" Tanya Angkasa dengan polosnya, "Ya iyalah setan, Lo ga liat gue jemput Lo ke bandara masih pake seragam cuma ketutup Hoodie gue aja lah," balas Athala. Angkasa melirik sebentar, dia bisa menemukan seragam sekolah dibalik Hoodie itu. "Gue mau ngasih berkas data diri gue ke sekolah lo," ucap Angkasa. Athala mengerutkan keningnya, "Lo emang jadi sekolah di tempat gue?" Tanya Athala ragu, "Menurut lo? Gue mana tau lagi sekolah disini dimana aja, kecuali lo nanya-nanya tentang sekolah favorit di Inggris," balas Angkasa. "t*i kuda lo," *****      Athala memasukkan mobilnya ke area parkiran sekolah, bukan hal yang rahasia lagi jika di sekolahnya siswa boleh membawa mobil ke sekolah. Asalkan surat-surat mobil dibawa serta. "Itu sekolah apaan?" Tanya Angkasa melihat sekolah yang berhadapan dengan sekolah Athala. "Sekolah Bintara Jaya, sohibnya sekolah gue. Kenapa?" Tanya Athala. Angkasa menggeleng, dia hanya melihat seorang gadis dengan jaket hitamnya berdiri di depan gerbang dengan wajah datar seperti sedang melakukan patroli. "Tuh cewek ngapain?" Angkasa menatap salah satu diantara beberapa orang yang berjejer di depan gerbang sekolah. Mereka seperti melakukan pengawasan. "Oh itu, sekolah mereka ngadain orientasi terakhir buat calon murid baru. Jadi puncaknya hari ini, bakal diadain sejenis event besar gitu. Mereka ngawasin buat jaga-jaga kalo ada yang kabur," jelas Athala. "Yaudah ayok, gue juga pulang cepet hari ini. Kalo udah selesai nunggu di mobil gue aja," saran Athala yang dibalas anggukan Angkasa. Angkasa menoleh sekali lagi kearah gadis yang berdiri di depan gerbang sekolah Bintara Jaya. Seketika Angkasa membeku saat tatapan keduanya bertemu, tatapan datar dan tajam itu membuat dirinya terdiam sesaat. ***** "Lo yakin Queen? Lo kan sebagai Ketos harusnya di tempat acara bukan terjun ke lapangan ngawasin, lagian panitia yang jaga banyak," saran Farel    Aurel menggeleng, dia tetap dengan pendiriannya. Menurutnya acara ini akan menjadi incaran semua murid untuk bolos terutama laki-laki. "Lo pikir dengan panitia sebanyak apapun bakal menjamin mereka ga kabur?" Tanya Aurel sarkastik membuat Farel diam. "Gue minta 20 orang buat ikut gue patroli, biar Aren gantiin gue buat sambutan," ucap Aurel final. Semua mengangguk dan segera ke tempat masing-masing, hari ini hari terakhir dan puncak acara orientasi. Jadi, KBM untuk sementara waktu ditiadakan bagi kelas 11 dan 12. Kemungkinan besar akan ada acara bolos-membolos. Di ruangan tersisa Aren dan Aurel. Ketua dan Wakil Ketua OSIS yang sedang membahas sambutan. Aren menatap Aurel dengan teliti, Aren tau bahwa partner OSIS nya ini sudah cukup lelah padahal acara inti belum dimulai. Keteledoran dan ketidakdisiplinan para anggota mereka membuat Aurel dan dirinya mau tak mau turun tangan secara langsung. Padahal seharusnya keduanya hanya sibuk mengawasi kegiatan acara bukan terjun lapangan. "Lo kalo capek langsung istirahat aja," pesan Aren membuat Aurel hanya menatap sekilas. "Hm," Aurel memberikan satu lembar kertas kepada Aren untuk sambutannya nanti, dia sudah menyiapkan semuanya dengan matang. "Kerjain dengan baik," pesan Aurel singkat lalu pergi meninggalkan ruangan dengan menenteng name tag dan almameter OSIS nya. Aren menatap punggung Aurel yang hilang dibalik pintu, selama berpasangan organisasi hanya ini waktu Aren bisa mendekati Aurel. Aurel tipe gadis yang sulit ditemui atau diajak mengobrol bersama, diluar konteks OSIS. Aren mengakui, dirinya juga menyukai Aurel partner kerjanya itu. Siapa yang tidak mengagumi Aurel? Laki-laki Bintara Jaya hampir semuanya pasti pernah menyukai Aurel. Padahal jika dilihat Aurel tidak tertarik dengan laki-laki yang mengejarnya, gadis itu terlalu cuek dengan laki-laki yang mendekatinya. Namun Aurel bisa menjadi sangat peduli sekitarnya, buktinya gadis itu selalu menjadi paling terdepan jika ada bullying di sekolah mereka. Gadis itu mempunyai banyak keunikan yang membuat laki-laki bisa jatuh dalam pesonanya, bukan hanya sekadar fisiknya yang cantik. Namun rahasia besar yang sering menjadi omongan orang dan tidak pernah diketahui oleh siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN