The Queen [6]

1055 Kata
Selamat membaca, diperkenankan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤️ *****        AUREL menatap jengah Athala yang berdiri di hadapannya dengan cengiran khasnya. Laki-laki itu tiba-tiba saja sudah menyapanya saat Aurel hanya membalikkan badannya sebentar. "Duh mukanya santai aja dong," goda Athala melihat wajah Aurel yang terlihat masam, "Pergi," ketus Aurel datar. Athala menggeleng, "Males ah, acara lo belum selesai?" Tanyanya. "Queen, ada 12 anak kedapatan mau kabur, mereka lagi dibarisin di lapangan," lapor Abri salah satu anak OSIS yang juga bertugas menjaga keamanan. Aurel berdecak kesal, "Tunggu gue," Athala malah ikut mengejar Aurel yang berjalan cepat kearah lapangan, laki-laki itu tertarik melihat bagaimana Aurel menghukum anak nakal. Aurel memicingkan matanya melihat jejeran beberapa siswa yang berdiri di lapangan sambil dengan muka tak bersalahnya dan rata rata mereka kakak kelas Aurel sendiri. Aurel berdiri di hadapan barisan tersebut dengan wajah datarnya, matanya menatap salah seorang diantara mereka yang menatapnya dengan menghina. "5 menit," ucap Aurel mengangkat tangannya mengisyaratkan mereka untuk memberikan alasan yang tepat agar hukuman mereka berkurang. Aurel memang Ketua OSIS yang disiplin namun dia akan memberikan kemudahan untuk membiarkan mereka mengutarakan maksud dan tujuan mereka melakukan pelanggaran. Yah setidaknya sedikit mengurangi hukuman mereka. "Gak ada," jawab laki-laki yang menatap Aurel dengan menghina tadi. Aurel membalas tatapannya, menatap mata itu lebih dalam dan menguncinya rapat-rapat. "Oh gitu----Rian," "Ok, berdiri sampai selesai acara ini dan liat hukuman selanjutnya," ucap Aurel final, dia berbalik badan ingin segera pergi sebelum mendengar sebuah kalimat yang membuatnya meradang. "Ketua OSIS songong, sok ngatur. Idup dia belum tentu udah sesuai aturan," Aurel berbalik badan dan menatap Rian yang sejak awal memang menantang dirinya. "Kenapa? Gak terima di hukum makanya menjelekkan orang lain?" Tanya Aurel. Rian terkekeh, "Gue sih biasa aja, cuma gue bener kan ngomongnya. Emang lo sesuai aturan? Jujur aja lo suka ngelanggar peraturan juga kan?" Sindir Rian terus terang. Ingin rasanya Aurel membungkam mulut sampah seperti Rian namun dia memilih diam saja karena Rian tidak tau bahaya apa yang menantinya nanti. *****    Mata Angkasa menelisik kesana kemari memperhatikan sekitarnya, dia sebenarnya ingin mencari Athala yang menghilang dari posisinya saat dirinya ke toilet karena panggilan alam. Tapi saat kembali, laki-laki itu sudah tidak ada di tempatnya. "Kemana coba," gerutu Angkasa. Angkasa sudah tidak tahan mendengar bisikan sana sini saat dirinya melewati setiap tempat. Ada yang tersenyum bahkan menyapanya yang hanya ditanggapi dengan lirikan datar tanpa senyuman. Semua mata terlihat tertarik dengan Angkasa, bahkan Angkasa tidak melakukan apapun tapi pesonanya sungguh luar biasa memikat hati saat pertama kali melihatnya. "Queen, gue kesana dulu ya. Mau cek bagian panggung buat ntar malam udah siap apa belum sekalian liat perlengkapan kalo ada yang kurang," ucap Salsha yang hanya dibalas anggukan. Angkasa kembali melihat gadis beralmamater OSIS yang sempat memakai jaket hitam saat di depan pintu gerbang tadi, rambut coklat itu terlihat mencolok sendiri. Entah itu diwarna permanent atau memang bawaan dari lahir tapi Angkasa sedikit tertarik melihat aura gadis itu. Aurel mengeluarkan HT dari saku almamaternya, "Monitor, Farel," "Monitor monitor Queen, kenapa?" Aurel menetap lembaran di tangannya, susunan jadwal nanti malam. "Gues star nya DJ? Siapa yang ngundang?" Tanya Aurel tajam, Aurel tidak pernah mengetahui bahwa Gues star nya seorang DJ. "Gue ga tau masalah itu Queen, kemaren pas diajuin proposal bukan DJ sesuai yang lo minta," Aurel berdecak kasar, "Jadi ini maksudnya apa?! Siapa yang nandatanganin berkas ga jelas ini!" Bentaknya kasar. Semua memandang kearah Aurel, gadis itu terlihat sangat marah. Aurel mematikan HT itu dan berjalan tergesa-gesa, karena terlalu emosi gadis itu menabrak bahu Angkasa yang sejak tadi memperhatikannya. "Sorry," ucap Aurel sekilas lalu kembali berjalan. Angkasa masih diam, namun matanya melihat sebuah kertas terjatuh. "Susunan acara?" Gumamnya. ***** "Bisa gak sih lo semua becus kalo kerja?! Kenapa pada berantakan semua? Dari sebelum acara ini berlangsung, gue udah minta proposal diajuin sebelum hari H nya tapi apa? Pada ga disiplin semua!"    Ruangan OSIS terasa hening, terpaksa Aurel mengumpulkan semuanya dan meminta PKS untuk menjaga sebentar keadaan event Bazaar yang berlangsung. "Siapa yang nyuruh ngundang DJ segala? Tanda tangan siapa yang lo semua pakai? Jawab gue!" Emosi Aurel sudah tidak terbendung lagi, rasanya dia ingin membanting apapun di sekitarnya karena semuanya berantakan dan tidak sesuai keinginannya. "ZURA!" bentak Aurel keras. "I--iya Queen," jawab Zura tertunduk, "Siapa?" Desis Aurel tajam. Zura menunduk takut, "Maaf Queen, sebelumnya proposal itu siap pas hari lo ga masuk untuk orientasi hari pertama calon peserta didik baru. Karena waktu itu Kepsek ada jadi kita ajuin cepet-cepet tanpa nunggu lo d---an itu tanda tangannya Paula," ucap Zura mengecilkan kalimatnya di akhir. Paula yang meremas jarinya kuat, sebenarnya dia tidak bermaksud untuk memalsukan tanda tangan. "Hebat ya lo berdua," geram Aurel. Aurel mendesah pelan, "Setelah ini gue mau Paula sama Zura bertanggung jawab untuk Gues star nanti malam. Gue tarik anggaran untuk bayar DJ itu karena itu sudah menyalahi aturan, jadi silahkan lo berdua bayar dengan dana kalian sendiri. Buat Farel, gue minta sekarang lo cari Gues Star sesuai yang direncanakan," Farel hanya mengangguk, kepalanya terasa sakit melihat anggota panitia intinya tidak ada yang bekerja dengan benar. "Gue serahin sama lo," ucap Aurel lalu memilih pergi. Aurel menutup pintu sedikit kasar, dia meminta Farel memimpin karena dia sudah cukup merasa terkuras emosinya untuk hari ini. Cukup membuatnya sakit kepala. "Ini punya lo," Sebuah tangan terulur kearah Aurel dengan kertas yang tergenggam. Aurel menoleh dan mendapati laki-laki yang dia tabrak tak sengaja saat ingin ke ruangan OSIS. "Thanks," ucap Aurel pelan saat tau itu jadwal susunan acara nanti malam. Angkasa menatap kearah depan, "Angkasa," ucapnya. Aurel melirik sebentar, wajah gadis itu dan Angkasa sama sama datar seperti tidak ada ketertarikan untuk berkenalan. "Queen," jawab Aurel kembali ke posisinya. Dia harus merilekskan dirinya sebelum kembali ke lapangan. "Lo ketos disini?" Tanya Angkasa basa-basi, Aurel hanya memutar bola matanya malas dan memilih pergi dibandingkan menjawab pertanyaan dari Angkasa. Laki-laki itu terlalu berisik dan membuat Aurel sedikit terganggu. Yang Aurel tau laki-laki itu sempat datang bersama Athala, kemungkinan besar dia juga teman Athala. Aurel malas berhubungan dengan laki-laki seperti Athala yang selalu mencari celah agar dekat dengan dirinya. Athala itu baik dan tampan tapi Aurel tidak tertarik sama sekali. Bahkan Aurel lebih mendukung laki-laki itu bersama gadis lain, dan yang menyukai Athala itu sangat banyak lalu mengapa harus Aurel yang malah mendapat perasaan Athala? Aurel sendiri pusing memikirkannya, tak cukup Athala bahkan Aurel tau Farel ketua panitia acara juga diam-diam tertarik padanya, apa yang menarik dari dirinya? Yang Aurel tau, dirinya itu tidak lebih dari seorang gadis datar tanpa latar belakang yang jelas dengan masa lalu kelam. Bahkan Aurel sendiri merasa jika dia hanya akan jadi beban jika ada yang berhasil mendapatkan hatinya kelak. Karena Aurel tau, resiko besar bersama dirinya itu ada. Aurel memiliki dunia gelap diluar sana yang berbeda dengan yang diketahui orang-orang sekitarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN