The Queen [16]

1543 Kata
Sebelum membaca, dipersilahkan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤️ *****     AUREL  menatap fokus kearah jalanan yang mulai sepi, gadis itu akan ke suatu tempat. Niatnya hanya ingin seorang diri, namun Angkasa tetap mengikutinya dengan beralasan ingin menjaga dirinya. Ditambah Aurel adalah perempuan. Aurel hanya memutar bola matanya malas mendengar alasan laki-laki di sebelahnya dan memilih diam, sebelum Angkasa datang pun gadis itu sudah bisa melindungi dirinya sendiri. Angkasa memang menyebalkan baginya. "Queen, ini udah terlalu larut," ucap Angkasa setelah sekian lamanya diam mengikuti langkah Aurel. Aurel berhenti di tempatnya, matanya tetap fokus ke lampu jalanan tanpa menoleh kearah Angkasa. "Pulang," ucapnya. Angkasa mengernyitkan dahinya bingung, "Gue bisa sendiri kesana, gue bisa lindungin diri gue walaupun gak ada lo," jelas Aurel panjang lebar. Baru kali ini Angkasa mendengar Aurel berbicara sangat panjang dengan dirinya, sebuah penolakan yang sangat keras dari Aurel untuk Angkasa. Gadis itu memang benar-benar tak menginginkan kehadirannya, tapi Angkasa sangat ingin melindungi gadis itu. "Gak, gue bakal nemenin lo," bantah Angkasa Aurel pun hanya memutar bola matanya malas, terus kembali berjalan dan langkahnya berhenti saat matanya menangkap sebuah rumah kosong yang tidak jauh dari hadapannya. Di depan rumah kosong itu sudah berdiri beberapa orang yang menatap dirinya dan juga Angkasa. Angkasa yang berada di sebelah Aurel pun menatap beberapa orang di hadapannya dengan tatapan tidak bisa dibaca. "Akhirnya seorang Queen Mackenzie menemukan lokasi keberadaan kita," Suara merendahkan itu terdengar dari telinga Aurel. Aurel pun hanya berdecih pelan sampai tangan besar milik Angkasa menggenggam erat tangan miliknya membuat Aurel menoleh. "Siapa mereka?" desis Angkasa pelan lalu menatap Aurel dengan tatapan meminta jawaban sedangkan Aurel memilih diam hanya menatap manik mata Angkasa. "You ready to die tonight? You don't seem to have brought your bodyguard at all and who is that? Is he your bodyguard or your boyfriend?"  Aurel kembali menatap kearah musuhnya, dirinya hanya berdecih melihat kelakuan sok berani laki-laki di hadapannya. "Gue butuh bantuan lo sekarang," ucap Aurel pelan membuat Angkasa bingung. "Lo lawan anak buah dia dan khusus tuh cowok biar gue aja, jangan ngincer dia sekali pun. Dia urusan gue," ucap Aurel. Angkasa pun hanya bisa mengangguk mengiyakan mengikuti perintah gadis itu kepadanya. Dengan cepat Angkasa melangkah pergi meninggalkan gadis itu, memancing para anak buah musuh untuk mengikutinya. Kini tinggal Aurel seorang diri menatap musuh di hadapannya, dia adalah Reegan Alvertos. Laki-laki yang sejak dulu sudah tidak menyukai dirinya, sebenarnya ini masalah yang sudah terjadi sejak kakek keduanya berseteru dalam dunia perbisnisan hingga menurun sampai ke keturunan berikutnya. "Mau bermain-main dulu Queen? Bukankah kita sudah lama tidak aduh kehebatan? One by one baby," seringai Reegan begitu menyeramkan dengan auranya yang gelap. Tapi Aurel tidak takut sama sekali, pantang bagi keturunan Mackenzie takut terhadap musuh mereka sendiri. Siapapun yang terlahir dari keluarga Mackenzie maka tidak ada ketakutan mereka selain dengan Tuhan. Selebihnya mereka akan tetap melawan tanpa adanya rasa takut terhadap siapapun. Karena Aurel sendiri berprinsip jika seseorang itu mengusiknya maka kematian akan menjemputnya. Aurel tipe gadis yang tenang dalam bergerak, tidak harus selalu adu fisik kekuatan. Aurel mempunya strategi tersendiri menghabisi musuhnya, walaupun dia seorang perempuan. "Long time no see make yourself talk, Mr. Alvertos. Are you now a talkative man?" Aurel menatap lawan bicaranya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Reegan yang merasa direndahkan mengepalkan tangannya kuat, gadis di hadapannya benar-benar memancing emosinya. "Ayo kita mulai," Aurel menyeringai dengan sinisnya ditambah aura mengintimidasinya membuat Reegan terhenyak. Lama tidak bertemu, membuat Reegan merasakan aura musuhnya itu semakin menyeramkan dibandingkan dirinya. Reegan segera mengeluarkan pistol miliknya dan berusaha mengenai Aurel, namun gadis itu dengan cepat bergerak menghindar. Reegan terus berusaha mengenai lawannya yang terus bersembunyi di balik tumpukan kardus-kardus yang berada di sekitar mereka. Reegan berusaha bergerak cepat dengan menendang segala macam kardus yang bertumpuk itu agar tidak menghalangi dirinya menemukan Aurel. Saat Reegan kehilangan Aurel, tiba-tiba saja Aurel sudah berdiri di belakang Reegan dengan seringaiannya. "Mencariku hm?" Bisik Aurel tepat di telinga Reegan. Dengan gerakan cepat Aurel menendang pistol yang dipegang oleh Reegan lalu menendang tubuh belakang Reegan dengan keras hingga laki-laki itu tersungkur ke bawah. Reegan dengan segera bangkit dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena tergesek lantai semen di bawah mereka. Laki-laki itu segera mengerahkan kepalan tangannya kearah Aurel namun segera di hindari oleh Aurel. Gadis itu segera menendang d**a laki-laki itu hingga mundur beberapa langkah dan membuat Reegan terbatuk karena kerasnya tendangan itu. Belum sempat Reegan membalas, Aurel sudah memijakkan satu kakinya ke sebuah tiang rumah lalu menendang wajah Reegan dengan cepat. Reegan benar-benar jatuh dengan darah yang keluar dari mulutnya, tidak ada kesempatan untuk melawan Aurel karena kecepatan gadis itu. Aurel segera meraih kedua tangan Reegan dan memilintirnya dengan kuat hingga terdengar bunyi tulang yang retak "AAAKHHHH!!!!" teriakan Reegan menggema saat Aurel terus menyiksa kedua tangannya. "Loser," bisik Aurel di telinga Reegan lalu segera bangkit setelah menginjak tubuh laki-laki itu. Melihat Reegan yang sudah pingsan mengenaskan, Aurel segera berjalan kearah Angkasa yang sudah menunggunya sejak lama sekaligus memperhatikan perkelahian gadis itu. "Lo baik-baik aja?" Tanya Angkasa tersirat nada khawatir dari pertanyaannya. Belum sempat Aurel menjawab, gadis itu segera menarik kuat tangan Angkasa untuk berjongkok ketika salah satu anak panah hampir saja mengenai Angkasa. Insting pergerakan Aurel begitu cepat, membuat Angkasa sempat terkejut. "Gila," desis Aurel saat tau begitu banyak anak buah yang dibawa Reegan, lebih dari 30 orang berposisi di tempat masing-masing siap menghabisi keduanya. Aurel segera melempar sebuah senjata api kearah Angkasa yang segera ditangkap laki-laki itu. "Gunain baik-baik, kita harus keluar dari sini sebelum semuanya lebih banyak datang," ucap Aurel menatap Angkasa sebentar lalu segera menembak satu persatu musuh yang bersembunyi. Gadis itu berjalan dengan tenangnya dan terus memfokuskan dirinya ke segala arah. Angkasa pun ikut memperhatikan sekitarnya dan berusaha menembak semua musuh yang berada di sekitar mereka. Hampir lebih dari 15 menit waktu yang digunakan keduanya untuk menghabisi anak buah Reegan, banyaknya kardus-kardus yang menumpuk membuat keduanya kesulitan namun juga diberikan keuntungan untuk menghindar. "Sial, bisa aja mereka datang lebih banyak lagi kalo ini ga di selesain," gumam Aurel pelan. Aurel segera menarik tangan Angkasa yang berada cukup jauh darinya, tapi belum sempat gadis itu meraih tangan Angkasa, tangan Aurel sudah terkena peluru yang membuat Aurel berdesis. "Akhh," ringis Aurel pelan, darah segar mengalir dari tangan gadis itu. Angkasa yang melihat itu segera menghampiri Aurel dan dengan refleks merobek kaosnya dengan cepat dan mengikatnya ke tangan gadis itu yang terkena tembakan agar darahnya berhenti mengalir sementara. "Kita harus pergi, Queen," ucap Angkasa tapi musuh semakin banyak muncul. Aurel hanya bisa mengangguk menahan sakit di tangannya, belum sempat keduanya berdiri dengan benar sudah ada tembakan dari belakang yang terus mengarah kepada keduanya membuat keduanya harus bersembunyi di belakang truk makanan. "Queen, sekarang lo peluk badan gue. Sorry tapi ini mendesak banget, kita ga bisa ngendaliin keadaan," ucap Angkasa menatap Aurel yang sedang mengatur nafasnya. Aurel masih terdiam tak mengerti, badannya sudah mulai melemah. Bahkan darah gadis itu masih terlihat mengalir walaupun sudah diikat dengan kain. Angkasa segera menggendong Aurel di depan tubuhnya, meminta kaki Aurel untuk memeluk badannya dengan kuat seperti koala. Aurel hanya mampu mengiyakan karena badannya benar-benar lemah karena darah yang terus mengalir. Dengan satu tangan memegang pistol dan satu tangan menahan tubuh Aurel, Angkasa terus berjalan cepat menghindari tembakan. Tangannya terus menembakan ke semua musuh yang menghalanginya. "Tahan, sebentar lagi," bisik Angkasa di telinga Aurel. Akhirnya Angkasa bisa menemukan mobilnya dan memilih segera masuk ke dalam mobil setelah menaruh Aurel di mobilnya. Angkasa membawa mobil itu dengan kecapatan tinggi, menghindari anak buah Reegan yang terus mengejar keduanya. Namun, tiba di jalan tol Angkasa dan Aurel bisa bernafas dengan lega. Aurel yang merasa keadaan sudah tenang segera melepas jaketnya, membuka dalamnya yang berisi benda-benda tajam dengan segala suntikan dan obat. "Pelantun mobilnya, mereka udah gak ngejar kita lagi," ucap Aurel pelan. Angkasa menuruti perintah Aurel dan memperhatikan gadis itu yang tiba-tiba saja menyuntikan sesuatu di tangannya yang terkena tembakan. "Lo gila ya! Ngapain woy?!"  Angkasa melihat Aurel yang mengeluarkan peluru di tangan gadis itu dengan mudahnya tanpa melihat wajah kesakitan Aurel. Gadis itu nampak tenang dalam melakukannya. Setelah peluru itu keluar, dengan segera Aurel menjahitnya dan membungkusnya dengan perban. Aurel menghela nafas, wajahnya sudah pucat karena kehilangan banyak darah. "Seharusnya lo nunggu bentaran, rumah sakit gak jauh lagi," ucap Angkasa, "Dan biarin gue kehabisan darah? Gila," ucap Aurel pelan. Dia tidak mungkin membiarkan begitu saja peluru tersebut dan darah yang terus mengalir, bisa saja dia kehilangan nyawanya karena kehabisan darah. "Tapi itu tadi nekat Queen!" ucap Angkasa tidak menyukai tindakan Aurel. "Kalo misalnya tadi lo gak bisa ngeluarinnya, atau gak bisa ngejahitnya itu bakal imbasnya ke tangan lo. Lo paham gak?" Angkasa menatap Aurel dengan tatapan tajamnya. Aurel mengernyit bingung melihat Angkasa yang begitu heboh dengan keadaannya. "Lo khawatir?" Pertanyaan Aurel mampu membuat Angkasa terdiam, dia mengerjapkan matanya pelan lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya lagi tanpa menjawab pertanyaan Aurel. "Motor lo kemana?" Tanya Aurel, pasalnya Angkasa ke arena balap dengan motornya. "Ditukar, tadi gue minta Athala antar mobil gue terus balik pake motor gue," ucap Angkasa Aurel mengangguk mengerti dan kembali menatap ke depan, dia kembali berpikir untuk menyusun kembali strategi baru bersama tangan kanannya. Aurel ingin segera meninggalkan dunia bisnis, namun Aurel takut ketika seseorang yang menggantikan Aurel tidak mempunyai prinsip yang sama seperti dirinya dan berakhir berkhianat. Aurel membenci semua hal yang berbau pengkhianatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN