The Queen [15]

1589 Kata
Sebelum membaca, dipersilahkan menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤️ ***** AUREL menatap jengah laki-laki di hadapannya, Angkasa terus saja menghalangi langkahnya untuk pergi. Terhitung sudah 5 menit lamanya laki-laki itu terus berdiri di hadapannya dengan tatapan datar. Aurel juga tidak mengerti, sebenarnya apa mau laki-laki itu yang tiba-tiba saja terus mendekatinya. Bukan karena Aurel terlalu percaya diri, hanya saja dilihat akhir-akhir ini laki-laki itu selalu muncul dan selalu mengawasi pergerakannya. "Minggir," suara dingin Aurel tak membuat Angkasa bergeser sedikit pun. "Sebenarnya lo itu mau apa?" Tanya Aurel dengan tenang, wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun selain datar. Angkasa menghela nafas, "Gue anter itu aja mau gue," ucapnya membuat Aurel memutar bola matanya malas. "Gue punya kendaraan yang bisa gue gunain, jadi minggir selama gue masih baik-baik ngomong sama lo," "Gue anter atau kita tetap disini," Opsi pilihan Angkasa tentu saja membuat Aurel muak, laki-laki di hadapannya tidak tau batasan sama sekali. Aurel diam bukan berarti Angkasa bisa semaunya. Aurel tidak suka diperintah, hidupnya bergerak karena dia yang mengatur bukan orang lain. "Gue gak butuh opsi lo, jadi minggir!" Sentak Aurel dengan cepat menyingkirkan tubuh Angkasa. Namun Angkasa bergerak cepat memegang pergelangan tangan gadis itu dan menariknya dengan kuat sehingga Aurel harus jatuh menabrak d**a Angkasa. Angkasa menatap lekat mata gadis itu, mencoba menyelaminya lebih dalam. Angkasa tidak ingin berbohong bahwa dirinya ingin masuk ke dalam kehidupan Aurel. Dengan paksa Angkasa menggendong gadis lalu memasukannya ke dalam mobil dan segera memakaikan dirinya sabuk pengaman dengan cepat. Aurel sempat memberontak sebelum Angkasa menghalang pergerakannya dengan memegang kursi mobil yang di duduki Aurel. Mata keduanya bertemu dan Aurel mengerti jika tatapan yang diberikan Angkasa sekarang bisa saja membuatnya lemah. "Diem," tatap Angkasa dengan sorot yang dalam. Lalu laki-laki itu segera masuk ke mobil melewati pintu sebelahnya dan melajukannya. Aurel memilih bungkam untuk mencerna semuanya. Baru kali ini gadis itu tidak bisa melawan dan hanya menuruti saja. "Turunin gue," ucap Aurel dengan tekanan di setiap katanya. Angkasa bersikap acuh seolah tak peduli. Dia hanya ingin Aurel bersamanya itu saja. Aurel menatap jalanan yang dilewati Angkasa, dahinya mengernyit heran. Aurel tidak ingin pulang ke rumah, dia sudah berjanji akan ke arena balapan malam ini. Rama kembali menantangnya, padahal laki-laki itu sudah beberapa kali harus menelan malu dan menerima kekalahan saat menantang dirinya. Memang pada dasarnya Rama memiliki gengsi yang tinggi. "Gue gak ke rumah," ucap Aurel datar membuat Angkasa menoleh kearahnya, "Kenapa? lo mau kemana?" tanya Angkasa karena hari sudah larut dan seharusnya gadis itu sudah berada di rumah seperti perempuan kebanyakan. Aurel mendesah pelan, "Gue udah bilang gue punya urusan jadi gue gak pulang sekarang, Angkasa Matthew Arthama," tekan Aurel. Angkasa terkejut saat Aurel mengetahui nama lengkapnya karena seingatnya dia belum memberitahu nama lengkap dirinya pada gadis itu, sedangkan sekarang dia bisa mendengar Aurel menyebutkan nama lengkap beserta marganya. "Tau darimana nama lengkap gue?" tanya Angkasa mencoba kembali fokus menatap jalan di depannya. Aurel tak menyahut dan memilih diam, gadis itu tidak suka terlalu banyak bicara yang membuat tenaganya terkuras terlebih menghadapi makhluk di sampingnya yang membawanya secara paksa seperti ini. "Anter gue ke arena balap," ucap Aurel lagi, Angkasa menoleh menatapnya bingung bukannya tidak ada jadwal berkumpul malam ini? Bahkan Athala tidak memberitahu apapun untuk berkumpul malam ini, ya laki-laki itu selalu mengikuti pergerakan Athala kemana pun laki-laki itu pergi. Bukan karena apa, Angkasa hanya belum tau tempat-tempat disini. Terlalu lama tinggal di Negeri orang membuat laki-laki itu lupa Negaranya sendiri. "Ngapain?" Tanya Angkasa setelah membawa mobilnya mengarah ke tempat arena balap. "Bukannya gak ada acara ngumpul apapun malam ini?" Tanyanya lagi. "Sok tau lu," jawab Aurel sekenanya, gadis itu memilih membuka ponselnya. Dia sedang mengecek sss yang masuk di layar ponselnya, lagi-lagi pekerjaan selalu ada setiap saat. Membuat Aurel terkadang ingin menyerah akan semuanya, tapi jika Aurel menyerah maka itu akan sulit. Harapan kedua orang tuanya dahulu hanyalah dirinya, tidak seharusnya Aurel menyerah begitu saja. Mobil Angkasa sudah mendarat mulus di arena balap, ternyata disana sudah ada banyak orang berkumpul dan itu membuat Angkasa sedikit mendengus ketika atensi matanya menemukan Athala disana. Keduanya keluar dari mobil, Aurel yang keluar pun tak luput dari penglihatan semua yang ada disana. "Akhirnya datang juga lo," suara Salsa yang menghampiri mereka bersama yang lainnya. "Lah kok ada lo si disini?" Tanya Shereen bingung melihat kehadiran Angkasa, "Hai sepupu!" Sapa Athala dengan cengiran khasnya. Angkas hanya memutar bola matanya dengan malas, lihatlah tingkah konyol sepupunya itu seperti tidak merasa bersalah sama sekali. "Udah berangkat bareng aja lo berdua," goda Salsha dengan senyuman mengejeknya, membuat Aurel jengah melihatnya. "Queen, Rama udah nungguin Queen daritadi tau. Dia udah marah-marah gak jelas sampe Audy pengen kambak rambutnya," adu Audy dengan bibirnya yang mengerucut. Rakha yang berdiri di sebelah Aurel hanya mengusap rambut gadis itu dengan sayang, "Kita temuin Rama sekarang ya," ucap Rakha dengan lembut membuat Aurel mengangguk. "Pepet terus bor, jangan kasih kendor," celetuk Samuel yang hanya memperhatikan sedaritadi. "Awas ada yang panas noh," sambung Athala dengan terkekeh. Pasalnya dia sempat melihat Angkasa yang menatap tajam interaksi antara Rakha dan Aurel, mungkin saja sepupunya itu sudah mulai tumbuh benih-benih cinta yang membuat Athala semakin semangat menggodanya. Angkasa tidak pernah sekali pun dikabarkan dekat dengan perempuan setau Athala, bahkan ketika Athala yang selalu memamerkan pesonanya, laki-laki itu memilih cuek dengan sekitarnya. Padahal jika dilihat, Angkasa sangatlah tampan bahkan lebih dari itu. Laki-laki itu hampir mendekati kata sempurna dan siapa yang tidak mau jika disandingkan dengan laki-laki gagah seperti Angkasa? Hanya orang yang matanya minus jika tidak menginginkan Angkasa menjadi pacarnya. Kini semuanya kembali ke arena balapan, segera menonton pertandingan kembali antara Rama dan Aurel. Musuh bebuyutan sedari dulu yang tidak pernah ada kata damai diantara keduanya. "Lost," seringai Rama menghina Aurel ketika keduanya saling bersitatap sebelum memakai helm di kepala mereka. Aurel hanya menyunggingkan sudut bibirnya tanpa membalas, biarlah laki-laki itu menghina sepuasnya karena Aurel juga tidak peduli. Rama itu lebih dari kata seorang pecundang yang tidak mau mengakui kekalahannya sama sekali. Gengsi yang dia miliki sangatlah tinggi maka dari itu tidak semudah itu Rama mengakui kekalahannya kepada Aurel, apalagi dia adalah seorang perempuan. Deru mesin motor melaju dengan kencangnya, dapat dilihat Aurel sudah lebih jauh dari posisi Rama berada. Gadis itu mampu membuat taktik permainan sehingga Rama lengah dan sulit mengejarnya. Padahal motor yang digunakan Aurel bukan miliknya sendiri melainkan motor milik Athala yang hanya beda warna dengan miliknya. Lagi dan lagi gadis itu memenangkan balapan keduanya, Aurel sudah melepas helmnya dan melihat Rama yang baru saja sampai di garis finish. "Yeay! Queen menang lagi!!!" seru Audy dengan hebohnya membuat serokan yang lainnya juga terdengar "Gila si nih cewek gak ada lawan sama sekali," "Cantik banget anjir," "Tuh Rama gak pernah mau ngaku aja dari Queen si, ribet amat," "Queen menang lagi anjir!" "Udahlah lama-lama gue pindah ke komunitas Queen aja kalo gini caranya," "Queen cantik banget subhanallah," "Kalo gue nembak dia, dia mau kaga ye?" "Kaga usah ngimpi lo, tuh liat lawan lo Athala sama tuh cowok yang di Deket Queen. Lo ama mereka beda jauh dari segi tampang ama dompet," "Yaelah kali aja Queen liat dari hatinya bukan fisik apalagi materi," "Bacot lo berdua," "Gak nyangka sih gue ternyata ketua kita cewek, mana cantik lagi," "Temen-temennya pada cantik ganteng juga anjir, yaelah," "Berapa kali tanding ama Rama, berapa kali juga tuh Queen menang Mulu," Saat teman-teman Aurel tengah menyambut Aurel dengan bahagianya, Aurel merasakan ada hal yang berbeda di sekitarnya. Pergerakan yang mencurigakan dirinya, bahkan gadis itu berusaha untuk tidak panik. Bersikap sewajarnya dan mencoba mendengarkan pembicaraan Audy yang tidak ada hentinya, ditambah perdebatan antara Salsha dan Samuel yang belum berhenti juga. "Berisik," ketus Angkasa yang mulai jengah dengan keadaan disekitarnya. Mendengar suara cempreng Audy dan perdebatan antara Salsha dan Samuel membuat kepalanya sakit. "Sher," panggil Aurel datar menatap Shereen yang sedang tertawa mendengar lelucon Athala di sebelahnya. Shereen menoleh dengan tatapan bertanya, "Suruh semuanya bubar, gue mau balik. Gak ada lagi yang nongkrong disini, pulang," perintah Aurel dengan dingin membuat semuanya mengernyit bingung. "Ih kok gitu? Biasanya kan jam segini masih pada nongkrong anak-anak," ucap Salsha yang menghentikan perdebatannya dengan Samuel. Rakha yang diam pun juga bingung, "Tumben-tumbenan Queen, kenapa?" Tanya Athala bingung. Aurel hanya menghela nafas, dia tidak ingin teman-temannya tau bahwa ada musuh Aurel di sekitar mereka. Aurel bisa menebak bahwa sekarang ada senjata api yang mengarah kearah dirinya dan juga teman-temannya. Saat itu juga Rama sedang berjalan kearahnya dengan emosi, tangan laki-laki itu terkepal kuat. "b******k!" makinya tepat di depan Aurel dan Aurel hanya menatapnya malas. "Gue gak bakal pernah mau ngaku kalah di depan lo anjing!" ucapnya dengan kasar. Rakha dan Angkasa yang mendengar pun langsung tersulut bahkan Shereen dan Salsha harus memegang kedua laki-laki itu. Aurel hanya berdecih, "Terus gue peduli?" Tantangnya dengan angkuh. "f**k!" Saat Rama akan melayangkan kepalan tangannya, tiba-tiba saja Aurel mengeluarkan senjata api dari balik jaket hitamnya dan menembak ke titik targetnya yang bersembunyi di sebuah semak-semak yang tertutupi oleh para geng baik dari Rama maupun Aurel. Dor! "QUEEN!!!" Semua terkejut bukan main, bahkan para perempuan yang ada disana berteriak dan menangis takut dengan kejadian yang tiba-tiba. "Keluar lo!" Teriak Aurel menekan pistolnya sembari berjalan kearah targetnya yang mampu menghindar dari tembakannya. "Astaga Queen lo mau kemana?!" Teriak Shereen melihat sahabatnya itu yang menuju ke arah semak-semak. Audy bahkan sudah memeluk Rakha dengan kuat, gadis polos itu begitu ketakutan dengan kejadian barusan. Sedangkan Angkasa terkejut bukan main saat Aurel menembakan sesuatu dengan senjata api milik gadis itu. Semua terlihat syok tak menyangka. "Rakha, gue mau lo bawa mereka semua balik sekarang. Disini gak aman," Aurel berlari dengan terburu-buru menghampiri semua sahabatnya. Wajah gadis itu tetap datar namun ada sirat khawatir akan keselamatan semua orang disini, dia tidak ingin ada yang terluka. Rakha menatap Aurel dengan pandangan cemasnya, "Lo gimana?" Tanya Rakha dengan gurat kekhawatiran, Aurel tetaplah perempuan yang bisa saja terluka. "Gue sama dia," Ucapan Angkasa membuat semuanya menoleh kearahnya, bahkan Aurel nampak menatapnya dengan tertegun tapi langsung dirubah Aurel dengan cepat. Gadis itu sebenarnya bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa harus dibantu. Kejadian seperti ini tidak sekali dua kali terjadi dalam hidupnya, sudah berulang kali Aurel merasakannya. Aurel sudah terlatih untuk melawan serangan seperti ini. Ingatkan, bahwa dunia bisnis itu kejam. Kamu lemah, maka kamu yang akan menjadi korban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN