Sebelum membaca, dipersilahkan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ♥️
*****
DAREN melepas kacamatanya sembari menutup layar laptopnya, kepalanya sedikit pusing melihat banyaknya data yang harus dia lihat karena pekerjaannya yang semakin hari semakin menumpuk.
Matanya melirik kearah map berisi data seseorang yang dia minta oleh tangan kanannya, Daren membawanya ke dalam kamar. Dia membukanya perlahan, memperhatikan hal-hal yang ingin dia ketahui dari sosok adiknya.
Ya, sekarang Daren sudah tidak ragu lagi bahwa Aurel adalah adik kandungnya sendiri. Kinerjanya untuk mencari tau dalam waktu seminggu ini membuahkan hasil yang memuaskan. Buktinya memang benar, bahwa dirinya memang keluarga Mackenzie bukan dari keluarga Alfenson.
Daren kembali meletakkan mapnya dan merebahkan badannya, menerawang jauh memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Sepertinya Daren harus membicarakan ini dengan kedua orang tua angkatnya, dia tidak bisa salah mengambil langkah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumamnya.
Kenapa Daren baru mengetahui ketika usianya sudah sedewasa ini? kenapa tidak dari dulu dia mencari tau tentang adiknya atau keluarga kandungnya sendiri?
Daren tau bahwa orang tua kandungnya sudah meninggal dunia, dan yang berada dipikiran Daren sekarang bagaimana nasib adiknya? Apa semuanya baik-baik saja?
Setelah memikirkan banyak hal, laki-laki itu memilih terlelap dalam tidurnya. Dia akan melakukan sesuatu di hari esok.
Lain halnya dengan Aurel yang baru saja tiba di rumahnya pukul 1 dini hari, gadis itu melangkah dengan raut wajah datar. Tak ada hal yang membangkitkan minatnya, setelah memenangkan pertandingan tadi, gadis itu memilih langsung pamit pulang.
Tubuhnya sudah sangat lelah dan dia perlu waktu istirahat, belum lagi dia harus mengurus laporan-laporan yang dikirim oleh Sekretarisnya. Jadi, dia harus bisa membagi waktu dengan baik.
Aurel duduk nyaman di ruang keluarga, rumah sebesar ini terlihat sepi jika sudah malam hari karena para pekerja akan kembali tidur di rumah belakang yang memang disediakan untuk para pekerja di rumah Aurel. Rumah yang cukup tergolong nyaman namun tidak sebesar rumah Aurel tapi sampai saat ini tidak ada keluhan yang dikeluarkan para pekerjanya.
Aurel menerawang saat kejadian di arena balapan tadi. Mengingat perlakuan Angkasa kepadanya.
Flashback On
Brumm brummmm
Suara deru motor terdengar jelas ditelinga para penonton, semua berseru heboh saat melihat dua motor sudah mendekati garis finish. Bahkan nama Aurel sudah disebut-sebut sejak tadi.
"Gila, gue harap si cunguk menang lagi kali ini," celoteh Sherren.
"Ya biasanya kan juga gitu, si Rama udah tau bakalan kalah masih aja mau lawan si Queen, ga ada kapok-kapoknya," balas Salsha mencebikkan bibirnya kesal.
Pada akhirnya Aurel keluar menjadi seorang pemenang lagi untuk kesekian kalinya, membuat Rama yang baru saja sampai langsung melepas helmnya dengan kasar.
"b*****t!" umpatnya tak terima. Lalu memandang Aurel yang menatapnya dengan datar.
"Puas?" Tanya Aurel memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. Meneliti Rama yang sudah kebakaran jenggot.
Rama hanya berdecih, "Gue ga akan pernah puas buat bikin lo kalah karena di hidup gue lo itu cuma sampah yang harus dimusnahin," balasnya cepat.
Aurel hanya diam, memilih mendengarkan unek-unek Rama yang selalu dia keluarkan jika kalah bertanding dengannya dan itu sudah menjadi makanan Aurel.
"Queen!!!" Panggil Sherren dan Salsha bersamaan.
Kedua gadis itu langsung mendekati Aurel dengan raut wajah bahagia, keduanya terlihat sangat antusias dengan kemenangan Aurel kesekian kalinya.
"Gila si gue udah pikir lo bakalan menang, karena ya gue tau biasanya juga gitu. Cuma ya si lawan ini tinggi amat gengsinya minta tanding terus padahal udah tau bakal kalah," sindir Salsha dengan pedasnya sambil melirik Rama dengan tatapan merendahkan.
Rama hanya berdecih lalu pergi darisana membuat Salsha meneriakinya dengan semangat.
"Wuuuu!!! Gitu aja langsung pergi, cowok cemen lo. Gaya aja ditungguin tapi hasilnya kalah tanding ama cewek, gue si kalo jadi cowok bakalan malu," teriak Salsha mencemooh Rama yang belum terlalu jauh berjalan.
Tanpa diketahui Rama berbalik badan dan berjalan cepat dengan mengepalkan tangannya kearah Salsha namun naas yang terkena bogeman mentah itu Aurel ketika gadis itu mendorong Salsha dengan cepat.
"QUEEN!!!"
Teriakan Sherren membuat yang lain menoleh kearah mereka bahkan Rakha beserta yang lainnya mendekat, melihat keadaan.
Aurel hanya meringis pelan, dia terjatuh dari tempatnya berdiri. Aurel akui bogeman Rama tak main-main dan jika Salsha yang kena mungkin saja gadis itu bisa terjatuh tak sadarkan diri.
Tapi Aurel mampu menyeimbangi badannya sehingga tidak terbaring di aspal walaupun dia tau bibirnya dan pipinya terasa ngilu sekarang.
"Anjing lo!" Teriak Rakha murka mengetahui Aurel mendapat bogeman mentah dari Rama.
Laki-laki itu kalap dan langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi kearah Rama tanpa ampun, hingga laki-laki itu terkapar di tanah pun Rakha tetap menghajarnya. Rasanya laki-laki itu ingin membunuh Rama sekarang juga.
"Woi udah woi, mati tuh anak orang," ucap Athala menahan Rakha agar berhenti jika tidak, dia bisa saja membunuh anak orang.
"Rak! sadar woi! Lo liat dia udah pingsan, berhenti," Athala menahan tubuh Rakha dengan kuat agar laki-laki itu berhenti melayangkan tinjuannya karena Rama sudah pingsan.
"Cih!" Rakha meludah tepat di samping tubuh Rama.
Angkasa sendiri hanya berjongkok di hadapan Aurel yang sudah ditangani Salsha dan Sherren yang heboh.
"Queen, astaga pipi lo biru! Bibir lo juga sobek!" Pekik Sherren terkejut. "Aduh Queen, huaa harusnya lo ga usah nolongin gue. Jadinya gini, gue minta maaf,'" ucap Salsha merasa bersalah bahkan sudah meneteskan air matanya.
Angkasa hanya menghela nafas dan meminta sedikit ruang, dua gadis itu bukannya langsung membawa Aurel untuk diobati malah direcoki dengan omongan mereka.
Angkasa langsung berjongkong di hadapan Aurel, menatap gadis itu lalu mengusap darah di sudut bibir Aurel. Aurel yang masih meringis pun terdiam melihat Angkasa yang berada di hadapannya.
"Ayo," ucap Angkasa pelan mengulurkan tangannya, memberi kode untuk menerimanya. "Masih kuat berdiri?" Tanya Angkasa.
Aurel terdiam tapi langsung mengangguk dengan berdiri dibantu oleh Angkasa. Laki-laki itu merangkul Aurel membawanya menjauh darisana, meninggalkan tatapan melongo orang-orang.
Bahkan Aurel tidak tau mengapa dia mau mengikuti perintah Angkasa, itu cukup aneh.
Angkasa membawanya kearah mobilnya, dia harus membawa Aurel ke apotek terdekat untuk membeli beberapa obat untuk mengobati luka Aurel sekaligus mengantar gadis itu pulang tanpa peduli sekitarnya lagi.
Mereka terlalu banyak membuang waktu pikir Angkasa.
Setelah sampai di depan sebuah apotek laki-laki itu langsung membeli keperluannya dan kembali masuk ke dalam mobil dengan kantong plastik berisi kapas dan obat merah.
"Gak usah," tolak Aurel akhirnya mengeluarkan suara setelah lama terdiam sejak tadi.
Angkasa mengernyit heran, maksud gadis itu apa?
"Gue bisa obatin sendiri di rumah," lanjut Aurel melihat Angkasa yang kebingungan dengan kata-katanya.
Angkasa kembali menghela nafas, laki-laki itu segera mengobati luka Aurel tanpa peduli apa yang diminta Aurel.
"Shh.." ringis Aurel saat Angkasa memberikan obat merah di sudut bibirnya dan pipinya.
"Tahan," ucap Angkasa pelan.
Setelah selesai, laki-laki itu meniup pelan sudut bibir Aurel sehingga membuat wajah keduanya cukup dekat.
Keduanya sama-sama terdiam sebelum Angkasa menjauhkan badannya dengan tak nyaman.
"Maaf," ucapnya dan hanya dibalas helaan nafas Aurel.
"Pulang," ucap Aurel singkat dan kembali menatap ke depan.
Seakan paham, Angkasa segera menjalankan mobilnya mengantarkan gadis itu kembali ke rumahnya dan mungkin Aurel akan meminta Rakha atau Athala mengantarkan motornya ke rumah nanti.
Flashback off
"Kenapa?" Tanya Aurel heran dengan tindakan Angkasa yang terkesan tiba-tiba sekali.
Mereka berdua baru bertemu hari ini dan kenapa bisa sedekat itu padahal terlihat sekali keduanya tidak akrab sama sekali. Aurel mengusap wajahnya dan segera ke kamarnya untuk berisitirahat.
*****
Hari ini Aurel sudah siap dengan seragamnya tapi jika dilihat jam dinding, sekarang sudah menunjukkan pukul 07.30 yang berarti sudah terlambat 30 menit.
Ada alasan mengapa gadis itu memilih berangkat siang, ditambah juga tidak akan ada yang mampu menegurnya karena ya siapa yang akan memarahi gadis berprestasi seperti Aurel. Gadis itu setiap tahun selalu menyumbangkan piala dan juga prestasi lainnya.
Lagipula guru-guru juga tau alasan mengapa gadis itu selalu terlambat di pertengahan bulan seperti ini, tak ada yang salah juga.
"Non," panggilan Bi Arum membuat Aurel menghentikkan langkahnya dan menoleh.
Bi Arum terlihat tersenyum dan membawa kotak bekal di tangannya, sepertinya Bi Arum membuat sesuatu berbeda hari ini. Karena yang Aurel pahami bahwa jika pekerja rumahnya yang satu ini membuatkan bekal berarti ada resep baru yang dia coba.
Dan Aurel tidak pernah menolak bahkan selalu memakannya sampai habis, sedatar dan secuek apapun Aurel masih menghargai orang yang lebih tua darinya.
"Kenapa bi?" Tanya Aurel
Bi Arum menyerahkan kotak bekal kearah Aurel dan membuat Aurel sedikit mengernyit, masakan apa yang dibuat Bi Arum hari ini?
"Ini non, tadi bibi coba buat kue bolu gulung khusus buat cemilan non di sekolah kalo lagi belajar. Dimakan ya non," ucap Ni Arum tersenyum lembut.
Aurel hanya mengangguk dan memasukkan bekalnya ke dalam tas lalu segera berpamitan ke sekolah.
Hari ini Aurel terpaksa membawa mobilnya karena tidak ada cukup waktu untuk membawa motor besarnya itu lagipula dia juga tidak meminta Mang Maman selaku penjaga rumah sekaligus satpam untuk memanaskan motornya.
Setelah memakan waktu 15 menit barulah Aurel tiba di sekolah, lumayan memakan waktu ketika membawa mobil ditambah jalanan masih macet. Aurel turun dari mobilnya ketika bel jam pelajaran pertama berakhir.
Aurel berjalan santai menuju kelasnya, tak ada yang perlu ditakutkan karena sudah biasa baginya berjalan ketika KBM sedang berlangsung seperti ini.
"Queen!!!" pekik Audy heboh ketika Aurel baru memasuki kelasnya.
Semua yang di dalam kelas pun menatap kearahnya dengan tatapan kaget.
"Anjir si curut, gue kira ga bakal masuk sekolah," celoteh Salsha melemparkan kotak pensilnya kearah Aurel namun mendarat ke pintu.
Aurel hanya berdecak malas dan melangkah ke bangkunya, Aurel terdiam saat melihat seseorang yang mengobati lukanya duduk di sebelah bangkunya.
Sejak kapan ada Angkasa duduk di sebelahnya? Dan sejak kapan ada Angkasa di kelasnya?