BAB 1 Perselingkuhan Tara

2216 Kata
Agas Dikhianati? Ditinggalkan? Dihina? Aku pernah merasakannya. Karena itulah aku kini menjadi seorang duda. Pernikahan bagiku adalah sebuah topeng untuk menyembunyikan kebusukan lain. Sebuah alibi untuk menghalalkan perselingkuhan. Aku kini duda kaya, ganteng dan sukses. Siapa yang berani menolak segala kharisma yang kumiliki? Aku menunjuk seorang gadis di dalam bilik kaca yang mengenakan baju super seksi. "Dia saja! Bilang padanya, malam ini harus kerja keras untuk memuaskanku!" **** Flashback Matahari siang ini terasa amat terik. Aku memutuskan pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Jam 1 siang. Kulajukan mobilku memasuki pekarangan rumah sederhana dimana aku dan istriku Tara Anggraini tinggal. Pintu gerbang terlihat terbuka dan ada sebuah sepeda motor milik sahabatku, Damar terparkir di depannya. Pasti dia numpang taruh sepeda motornya dan pergi bekerja naik mobil kantor. Sudah biasa itu. Kuperhatikan sepeda motor 250 cc miliknya. Terlihat gagah dan keren, dalam hatiku terus berharap agar aku punya uang lebih untuk membeli motor keren itu. Ah, tapi kapan? Aku menatap mobil sedanku yang sudah hampir sepuluh tahun kukendarai. Mobilku juga butuh diganti. Tapi uang dari mana? Penghasilanku hanya dari showroom mobil milikku yang kadang ramai, kadang sepi pembeli. Biaya hidup berat. Belum membayar cicilan rumah yang masih 14 tahun lagi lunas. Huft... Kapan bisa beli barang-barang koleksi kayak Damar? Aku lalu berjalan menuju teras rumah. Agak heran saat aku melihat sepatu Damar ada disana. Apa nih orang sekarang juga nitip sepatu di rumah? Benar-benar bujangan rusuh! Semua aja dititipin di rumah! Aku sampai geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatku ini. Masih membujang di usia yang seharusnya sudah membina rumah tangga. Aku saja merasa menikah di usia 31 tahun sudah terlambat, tapi Damar terlihat santai saja. Aku teringat dengan Tara istriku. Usia pernikahan kami baru setahun dan kami belum dikaruniai anak. Apa aku kurang usaha ya? Baiklah, mumpung aku pulang cepet aku akan usaha lagi buat anak he...he... Aku membuka pintu rumah yang memang jarang Tara kunci. Lingkungan rumah tempatku tinggal aman karena ada security di tiap cluster. Sulit untuk masuk karena penjagaannya ketat. Aku masuk ke dalam rumah yang sudah rapi dan terdengar suara musik klasik dari arah kamarku. Pasti Tara sedang bersantai sehabis beres-beres rumah, sudah kebiasaannya memang menyetel musik klasik. Bagaimana kalau aku kagetkan dengan memeluknya dari belakang? Bagaimana kalau kami memulai permainan langsung? Hmm... Ide yang bagus. Aku pun semakin mendekat ke kamar kami. Suara musik masih terdengar, namun ada suara lain yang kudengar. Suara lenguh an dan de sah an. Aku menajamkan telingaku. Apa aku salah dengar? Kayaknya enggak deh. "Uh.... ah.... Iya.... Mm..." suara Tara, aku kenal betul suaranya yang seksi saat kami melakukan penyatuan. Tunggu, penyatuan? Sebuah pikiran buruk melintas dalam benakku. Tak mungkin. Aku harus memastikan kebenarannya. Aku membuka pintu kamar lebar-lebar dan terbelalak kaget. Di dalam kamar... Di kasur kami... Aku melihat Tara dan Damar sedang melakukan penyatuan. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka. Tara sedang memeluk erat Damar yang sedang berada diatasnya. Tubuh mereka menyatu dengan peluh yang membasahi keduanya. Tara dan Damar membeku. Mereka menatap ke arahku. "Breng sek!" Aku maju dan menonjok wajah Damar. "Setan! ***!" Damar pun tersungkur di lantai dalam sekali tonjokanku. Tara menjerit melihat kami. Aku kembali menghampiri Damar dan memberikan pukulan padanya. Rasanya aku masih belum puas memukulinya. Kembali kulayangkan sebuah pukulan di wajah dan tubuh Damar yang diam tak membalasku. Entah karena memang kalah kuat atau karena kehabisan energi sehabis meniduri istriku. Buk...buk...buk... Tara menarikku agar tidak membunuh Damar. Tanganku Ia tarik seraya menangis dan memohon agar melepaskan Damar. "Hentikan Gas! Hentikan!" Tara menarik tanganku dengan tubuh mungilnya yang masih tanpa busana. Emosi kembali menguasaiku. Aku memberikan lagi pukulan bertubi-tubi pada Damar. "Cukup! Hentikan!" teriak Tara. Dan aku melihatnya.... Aku melihat kissmark di tubuh Tara. Siapa yang bisa berpikir logis saat melihat istrinya berselingkuh? Siapa yang tidak akan khilaf saat tahu di tubuh istri tercintanya ada kissmark yang dibuat laki-laki lain? Siapa yang tidak murka saat tau laki-laki itu adalah sahabatnya sendiri? Aku melepaskan Damar. Aku kini menatap Tara dengan mata menyalang marah. Tara mundur selangkah. Ia tahu betapa murkanya aku. Ia tahu aku bisa berbuat apa saja. Aku marah. Aku murka. Aku ingin membunuhnya! Aku mendekat dan kucengkram leher Tara dan mendorongnya sampai ke tembok. Memojokkannya, dan berniat mencekiknya sampai... "Kamu mau membunuhku? Silahkan! Bunuh saja aku sekalian! Bunuh!" teriaknya. Aku mencengkram makin kuat namun akhirnya aku lepaskan! Kuhempaskan Tara sampai Ia jatuh terhuyung dan jatuh di samping Damar. "Keluar kalian berdua! KELUAR DARI RUMAHKU!" teriakku sekuat tenaga. Aku keluar dari dalam kamar dan kubanting pintu sampai kencang. Aku mengambil segelas air putih dan meneguknya banyak-banyak. Mereka masih di dalam kamar, berpakaian dan Tara mengemasi barang-barangnya mungkin. Entahlah. Aku tak peduli lagi. Aku duduk di ruang tamu, masih menunggu Tara keluar bersama Damar. Benar saja, tak lama Tara keluar dengan membawa koper berisi barang-barangnya. Ia berani mengangkat wajahnya dan menatapku tanpa merasa berdosa sama sekali. Terbuat dari apakah hatinya? Mengkhianati rumah tangga dan belagak layaknya seorang pemenang? Punya hak apa pendosa macam dia berlagak bak malaikat? Tara makin terlihat angkuh, Ia duduk di seberangku dan menatapku dengan tajam. Di samping Tara berdiri Damar yang berlagak bak seorang bodyguard. Wajah Damar bonyok terkena banyak pukulan dariku. Rasanya aku masih belum puas memberinya pelajaran. Harusnya aku buat mampus saja sahabat sialan macam dia! "Ya... Akhirnya kamu tahu tentang hubunganku dan Damar." Tara mulai berbicara. Kuperhatikan lehernya yang berbekas sedikit akibat cengkramanku. Jika tidak memikirkan kalau membunuh orang akan dipenjara, maka Tara juga akan kubunuh karena telah menghianati cintaku. "Aku mau kita bercerai." ujar Tara. "Tentu saja. Siapa yang mau menerima wanita bekas pakai kayak kamu?!" kataku tak kalah pedasnya. Tara menyunggingkan seulas senyumnya. "Sombong sekali! Seharusnya kamu mikir kenapa aku sampai berselingkuh dengan Damar!" "Enggak penting! Bagiku kamu cuma w************n yang membuka selang kangannya untuk laki-laki lain! Tak bedanya dengan pe la cur!" kembali aku membalas perkataan Tara dengan perkataan yang tak kalah pedasnya. Tara secepat kilat berdiri dan menampar wajahku. Plakkk... Sebuah tamparan pedas mendarat di pipiku. Aku tersenyum sambil memegangi pipiku yang terasa panas. "Menamparku tak membuat status kamu yang sangat hina berubah dalam sekejap!" aku kembali menyulut emosi Tara. Tara hendak maju lagi namun Damar menahannya. "Kita bercerai secepatnya. Kamu pikir aku bahagia hidup dengan kamu? Siapa kamu sampai aku rela menghabiskan hidupku dengan laki-laki kayak kamu!" Tara mulai membuatku kembali emosi. "Tentu saja aku lebih baik dari anak mami kayak selingkuhan kamu itu!" sindirku. Damar memang anak mami, setiap permintaannya harus selalu dituruti. "Oh tak masalah bagiku. Damar jauh lebih baik dari kamu! Jauh sekali! Kamu merasa diri kamu hebat? Cuma punya showroom kecil saja sudah bangga. Kamu enggak punya kemampuan! Kamu bahkan tak pernah bisa membuatku puas di atas ranjang. Apa itu yang kamu katakan hebat hah?" Deg... Namaku Agastya Wisesa. Aku sudah menikah setahun lalu dengan Tara Anggraini, wanita pertama dan satu-satunya yang aku cintai. Pernikahan kami selama ini sangat harmonis. Kedua orang tua kami akur dan merestui pernikahan kami. Meskipun belum diberi momongan namun kami tetap berbahagia dengan rumah tangga sederhana yang kami bangun dengan penuh cinta. Hal itulah yang biasanya aku banggakan didepan orang lain, tentang kebahagiaan rumah tanggaku. Namun ternyata semua kebahagiaan itu semu... Perkataan Tara barusan benar-benar sudah menamparku sedemikian kerasnya. Apa maksudnya aku tak pernah memuaskannya di atas ranjang? Bukankah kalau kami melakukan hubungan suami istri Ia selalu mende sah dan puas atas pelayananku? "Kenapa? Kamu pikir aku puas selama bercinta dengan kamu? " Tara lalu menertawaiku. "Kamu beneran percaya? Dasar laki-laki bodoh! Ha... Ha... Ha..." Baru kali ini aku merasa sangat terhina. Setelah dikhianati aku pun dihina dan diinjak harga dirinya!Apa salahku? Aku mengepalkan tanganku dengan kencang sampai buku-buku jariku memerah. "Sayang, si bodoh ini percaya kalau aku puas dengannya? ha...ha...ha... Dasar bodoh! Tak tahu saja dia kalau kamu yang selalu memuaskan aku, bukan dia? Dasar laki-laki bodoh!" Tara dan Damar, mereka berdua tertawa, menertawaiku secara kompak. "Ya, Damarlah yang memuaskan batinku setahun ini. Kamu hanyalah laki-laki lemah. Sangat lemah malah diatas ranjang ha...ha...ha..." Tara dan Damar, mereka menertawaiku, menghinaku, mempermalukanku... "Kamu tuh kayak gini." Tara mengacungkan telunjuknya, awalnya dibuat tegak berdiri lalu lama kelamaan menekuk. "Keliatannya aja kuat, padahal mah loyo ha...ha...ha...." Mereka menertawaiku dengan puas. Tawa menghina dari sepasang pendosa yang merasa apa yang mereka lakukan benar. Aku yang emosi lalu bangun dan hendak mencekik Tara, namun Damar sudah siap siaga dengan reaksiku. Ia pasang badan melindungi Tara. Damar bahkan membalas pukulan yang tadi aku layangkan. Bukk... Buk... Dua pukulan aku terima. Aku pun tersungkur di lantai. "Lo pikir gue tadi enggak bisa ngelawan lo? Lo salah! Gue tadi cuma mau ngetes kekuatan lo aja! Ternyata benar kata Tara, lo cuma laki-laki lemah! Jangan-jangan lo impoten lagi ha...ha...ha..." Aku masih tak menyangka kalau Damar sahabatku tega menyakitiku seperti ini. Aku menatap Damar dengan tatapan kecewa. "Kenapa? Lo pasti engak nyangka kan kalau gue bakalan menghianati lo? Lo pikir gue sudi sahabatan sama lo? Dasar bodoh! Gue tuh deketin dan bersahabat sama lo supaya gue bisa bebas nidurin bini lo secara gratis!" Damar dan Tara tertawa puas sambil melihat ke arahku. Lengkap sudah cobaan hari ini. Diselingkuhi, dipukuli dan dihina. Hari ini adalah hari paling apes dalam hidupku ternyata. "Makanya jadi laki-laki jangan lemah! Jangan onderdil aja lo gedein tapi enggak tahan lama ha...ha...ha... Minum obat kuat sana! Sampai overdosis pun tetap saja lo enggak bakalan tahan lama. Baru sebentar udah keluar, gimana bini lo bisa puas?" "Sialan!" aku bangun dan hendak membalas segala penghinaan yang Damar berikan. Buk... Aku kembali meninju wajah Damar. Tara berteriak saat bibir Damar mngeluarkan darah segar. "Segitu aja kekuatan lo?" Damar maju dan balas memukuliku. Kami saling bertengkar dan memukul. Suara keributan kami terdengar oleh tetanggaku yang melaporkan keributan kami ke ketua RT. Mereka pun melerai pertikaian kami. Kalau saja tidak dipisahkan, bisa dipastikan kami akan saling membunuh malam itu. **** Aku menatap surat cerai diriku dan Tara. Setahun. Hanya setahun rumah tangga kami bisa bertahan. Apakah Tara lupa kalau kami saling mencintai? Apakah hanya demi pemenuhan kebutuhan batin saja Ia rela rumah tangga yang kami bangun atas nama cinta semudah itu untuk dihancurkan? Pengadilan mengabulkan gugatan Tara terhadapku. Ya, Tara yang menggugat cerai. Aku juga tak mau mempertahankan rumah tangga ini setelah semua yang Ia lakukan. Tara rupanya tak menuntut harta gono gini. Ia tak mau sama sekali. Jelas saja, Damar anak orang kaya. Jauh berbeda dengan aku yang masih banting tulang pontang-panting demi membayar berbagai tagihan. Tara mengulurkan tangannya, mungkin ingin berjabat tangan denganku untuk yang terakhir kalinya. Keluarganya menatap sedih akan akhir rumah tangga kami. Begitupun keluargaku yang menatap sedih karena putusnya hubungan dua keluarga karena kami bercerai. Aku tak menyambut uluran tangan Tara. Jijik rasanya. Tangan itu begitu kotor di mataku. Tangan wanita pendosa yang telah berkhianat dan menghinaku secara sadis. Tara menarik kembali tangannya. Ia lalu berjalan melewatiku, namun berhenti sebentar saat kami berpapasan. Tara berkata pelan hampir setengah berbisik hanya agar aku saja yang mendengarnya. "Selamat tinggal laki-laki lemah. Makanya jangan loyo, jadi ditinggalin deh." Aku menengok ke arahnya. Tara tersenyum puas. Tanpa kata Ia ucapkan "Bye... Bye..." *** Sehabis bercerai, aku merasa hidupku amat hancur. Aku tak semangat bekerja dan hanya berada di dalam rumah saja. Kerjaanku hanya minum-minuman beralkohol dan merokok saja. Tak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhku. Sampai aku akhirnya masuk rumah sakit. Papa dan Mama yang membawaku. Mereka sangat sedih dengan keadaanku. Hidupku sudah gagal. Semua hancur. Tak ada yang bisa kuperbaiki. "Mau sampai kapan kamu jadi laki-laki lemah kayak gini?" tanya Papa saat Ia kesal karena aku bahkan tak mau makan sama sekali sampai harus diinfus. Aku tak menjawab perkataan Papa. Menengok saja aku tidak. "Pantas saja Tara meninggalkanmu dan berselingkuh. Kamu memang laki-laki lemah yang bisanya hanya menangis merenungi nasib. Cemen!" Emosiku tersulut mendengar perkataan Papa. "Apa maksud Papa berkata seperti itu? Agas tidak lemah. Agas kuat!" "Laki-laki kuat apa yang makan saja harus melalui selang infus? Kayak anak kecil! Seharusnya kegagalan kamu bisa menjadi pecut agar kamu memperbaiki hidup kamu yang hancur! Bukan hanya meratapi nasib saja seperti ini! Kalau kamu selemah ini, main Barbie saja sana!" inilah Papa yang keras dalam mendidikku. Aku jadi lemah juga karena terlalu takut pada Papa. "Apa yang harus Agas lakukan, Pa? Tara sudah pergi meninggalkan Agas. Rumah tangga Agas sudah berantakan. Apa yang Agas punya sekarang?" aku meluapkan kekesalanku dengan berteriak pada Papa. Papa bukannya menjawabku malah melemparkan sebuah map padaku. "Papa kasih modal." Aku membuka map dan terkejut. Ternyata isinya adalah beberapa sertifikat tanah milik Papa yang bernilai lumayan besar. "Perbesar usaha kamu! Pakai modal yang Papa berikan. Buktikan kalau kamu bukan laki-laki lemah seperti yang Tara katakan. Anak Papa bukan laki-laki lemah! Tampar mereka yang menghina dan mengkhianati kamu dengan kesuksesan. Jangan cuma menangis kayak anak kecil!" Aku menatap Papa. Aku tahu bukan hanya aku saja yang sakit hati dengan perceraianku dan Tara. Papa juga. Papa merasa terhina dengan alasan bercerai Tara yang mengatakan pada keluarganya kalau aku hanyalah pria impoten, karena itu kami tak jua dikarunia anak. Alasan yang jelas-jelas tak masuk akal! Papa begitu murka pada Tara. Papa tak terima anaknya dikatakan seperti itu. Aku diam sambil menatap map berisi beberapa surat tanah milik Papa. Benar yang Papa katakan, aku tak boleh hanya berdiam diri saja dan menangisi nasib seperti seorang pengecut. "Agas akan buktikan sama Papa kalau Agas bukan laki-laki lemah. Papa lihat saja, Agas akan buktikan kalau pengorbanan Papa tak akan sia-sia. Agas akan mengembalikan semua modal yang Papa berikan!" tekadku. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN