BAB 2 Tetangga Baru

2178 Kata
Aku pun pulih dengan cepat. Aku harus sehat agar aku bisa membalas dendam pada semua yang menghinaku. Motivasi untuk membalas dendam membuatku bangkit lebih cepat. Aku menjual tanah yang Papa berikan. Uangnya kujadikan sebagai modal usaha. Aku perbesar bisnis showroom mobil milikku dan sebagian kuputar di pasar saham. Ternyata aku memiliki kemampuan menganalisa saham dengan baik. Saham yang kubeli naik terus dan mendatangkan keuntungan yang besar. Bisnis showroomku juga semakin besar. Aku menggaet perusahaan leasing dan beberapa bank untuk bekerja sama. Pembeli di showroom milikku semakin banyak karena aku memudahkan mereka membeli kendaraan dengan menyicil di leasing dan bank yang bekerja sama denganku. Berawal dari satu buah showroom, lama kelamaan bisnisku semakin berkembang. Aku sudah membuka beberapa cabang. Aku membangun sendiri kerajaan bisnisku. Tekadku untuk membalaskan dendam yang membuatku bisa sesukses sekarang. Dua tahun, aku butuh waktu dua tahun untuk bisa mengembalikan semua hutangku pada Papa. Papa tersenyum bangga akan kehebatanku. Ya, aku bukan lagi laki-laki lemah. Aku si duda kuat. Akan kubalas Tara dan Damar! **** Tara dan Damar seakan tak pernah puas membuatku sakit hati. Dengan sengaja mereka membeli rumah tepat di depan rumahku. "Hi mantan suami!" sindir Tara saat mereka sedang pindahan rumah. Aku yang sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca berita di portal berita online menengok ke arah asal suara. Tara tersenyum meledek ke arahku. Perlahan Ia berjalan mendekat seraya memperhatikan mobil milikku yang terparkir di garasi. "Udah punya duit ya sekarang buat beli mobil baru? Oh iya lupa, sekarang kan kamu duda yang enggak punya istri untuk dinafkahi?! Jadi wajar ya uangnya untuk membayar cicilan mobil baru?" sindirnya dengan pedas. Aku mengangkat pandanganku dari I-pad yang kupegang. Berita tentang politik dan ekonomi yang k****a tak lagi menarik. Aku melihat penampilan Tara sekarang. Jujur saja, Tara jauh lebih cantik dibanding saat menikah denganku dulu. Tak lagi memakai daster yang kadang Ia jahit sendiri di bagian ketiak yang robek. Tara mengenakan blouse warna cream dengan celana warna cokelat muda. Anting bulat besar menghiasi kedua telinganya. Lipstik yang Ia kenakan juga terlihat begitu menggoda di bibirnya yang seksi. Kulipat kedua tanganku di d**a. "Kenapa? Kangen ya sama mantan suami kamu yang tampan ini? Enggak bisa lepas dari pesona gantengnya? Sadar kalau selingkuhan yang kini sudah jadi suami kamu itu mukanya standar?" Tara tersenyum sinis. "Ganteng tapi loyo! Untuk apa?" Aku berjalan mendekat ke arah Tara. "Kata siapa aku loyo?" aku menurunkan suaraku setengah berbisik. "Aku bisa membuatmu menggelinjang kenikmatan sekarang. Kamu masih ingat kan kalau punyaku itu big. You know, big is better!" Aku berniat meninggalkan Tara dan masuk ke dalam rumah. Namun aku memilih berhenti sejenak. "Selamat datang di komplek perumahan kami. Jangan lupa bayar uang sampah, eh lupa masa sampah bayar uang sampah? Ha....ha....ha...." Kututup pintu rumahku, aku yakin Tara sangat emosi. Ia bahkan menendang pintu rumahku untuk meluapkan emosinya. **** Aku kini sudah rapi dan wangi, aku siap ke showroom hari ini. Biasanya aku jarang ke showroom, cukup menerima laporan saja dari anak buahku. Aku lebih suka di rumah sambil memperhatikan perubahan grafik harga saham. Namun tetangga depan rumah membuatku lebih memilih berada di luar dibanding di dalam rumah. Aku memakai kaos warna hitam dibalik jas yang kukenakan. Sekarang aku lebih memperhatikan penampilan. Tak lagi terlihat seperti pemilik showroom kere kayak dulu. Kunyalakan mobil Mini Cooper warna biru milikku. Aku suka mobil seperti ini. Rencananya aku mau membeli mobil sport namun garasi mobil di rumah hanya muat untuk satu mobil saja. Meski tak melihat langsung, aku tahu ada dua pasang mata yang melihat ke arahku. Mereka pasti ingin tahu, semenyedihkan apa hidupku saat ini. Sayangnya, aku malah lebih bahagia sekarang. Lebih bebas. Lebih liar lagi. Aku mengeluarkan mobilku dari garasi dan harus berhenti karena menunggu truk besar pengangkut barang tetangga baruku selesai menurunkan kursi berukiran kayu jati turun. "Hi tetangga baru! Kok langsung pergi sih? Enggak betah ya liat sepasang suami istri penuh cinta kayak kami berdua?" Damar menarik pinggang Tara mendekat lalu mencium bibir Tara dengan penuh hasrat membara. Aku tersenyum sinis. "Memalukan! Aksi pasangan yang dilahirkan dari kumpul kebo ya mirip kayak kebo! Enggak tau malu!" sindirku. Wajah Damar memerah, Ia rupanya cepat sekali tersulut emosi. "Tolong titip rumah saya ya! Nanti kalau jaganya bener, saya beliin martabak deh!" Kulambaikan tanganku lalu menginjak pedal gas saat kursi jati yang diturunkan dari mobil sudah memasuki rumah. Kulambaikan tanganku sambil melihat dari spion kalau sepasang suami istri itu sedang bersungut kesal. Senyum di wajahku menghilang. Shiiiittttt! kupukul stir mobilku. Laki bini sialan! Kenapa mereka harus pindah ke depan rumah sih? Mau pamer? Mau nunjukkin betapa bahagianya mereka? Cih! Aku tak bisa menyembunyikan kemarahan aku lebih lama lagi. Mereka pasti sengaja mau menghinaku. Sengaja mau menertawakanku. Argghhh.... Moodku berubah jelek! Kubelokkan mobilku memasuki sebuah showroom mobil yang terletak di pinggir jalan besar. Ya, show room ini milikku. Buah kesuksesanku. Kedatanganku disambut hormat dengan security yang berjaga di depan. Layaknya seorang komandan yang dihormati ajudannya. Aku turun dari mobil dengan kacamata sunglass yang kupakai. Menambah nilai plusku di mata orang lain. Aku belajar arti pentingnya sebuah penampilan. Showroom lamaku jarang pembeli karena aku berpakaian layaknya penjaga toko, bukan pemilik showroom. Kini, penampilanku sudah seharusnya sebagai pemilik showroom. Beberapa pembeli terlihat sedang melihat-lihat koleksi mobil di showroom. Aku berjalan melewati resepsionis yang menyambutku dengan senyumnya yang lebar. "Pagi, Pak Agas." sapa para SPG mobil yang berdandan cantik dengan rok pendek diatas lutut. "Pagi!" jawabku singkat. Aku melihat mereka satu persatu. Sepertinya aku butuh hiburan karena habis menghadapi sepasang suami istri mengesalkan tadi. "Ci! Bisa ikut saya?" tanyaku. Senyum di wajah Cici mengembang mendengar namanya dipanggil. "Siap, Pak." Aku lalu pergi ke lantai atas, tempat ruanganku berada. Kubuka kunci ruangan yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. "Masuklah!" Aku mempersilahkan Cici masuk dan mengunci pintu ruanganku. "Kamu butuh uang berapa buat jajan?" tanyaku. "Tiga juta, Om." Cici mengikutiku yang duduk di kursi kebesaranku. "Tak masalah. Tapi saya enggak mau yang terlalu berlebihan. Just make me happy." Cici duduk di pangkuanku dan memainkan tangannya di dadaku. "Siap, Om." Tangan Cici dengan ahli hendak membuka kaosku namun aku tolak. "Just make me happy. You know kan caranya?" Cici terlihat agak kecewa. Ini artinya aku tak mau menyentuh Cici. Aku hanya mau dipuaskan olehnya. Cici lalu memasang senyum di wajahnya. Bayangan mendapat tiga juta dalam waktu instan membuatnya rela melakukan apapun. Cici pun mulai berjongkok dan membuka resleting celanaku. Ia pun mulai memberikanku service. Aku menikmati service yang Cici berikan. Slow tapi kadang fast. Aku mendesah puas sampai akhirnya aku tak kuat dan menyemburkan cairan hangat milikku. Cici sudah siap dengan tisu. Nafasku masih tersengal. Lumayan kepuasan batin tanpa harus menikah! Untuk apa menikah kalau aku bisa mendapatkannya dari siapapun. "Suka, Om?" tanya Cici dengan suara menggoda. Ia merapihkan rambutnya yang agak kusut karena tadi aku sedikit menjambaknya. Maklum, lagi on fire. "Not bad lah. Oh iya, aku lapar. Tolong pesankan soto ayam di depan ya! Kamu pesan saja kalau kamu lapar." aku mengambil Hp milikku dan membuka mobile banking salah satu bank. "Iya, Om." Cici mengancingkan kemejanya, Ia sengaja membukanya agar aku semakin berhasrat untuk menidurinya. Sayangnya, aku tak mau dan Ia agak kecewa sedkit. "Nomor rekening kamu yang belakangnya 214 bukan?" aku memasukkan nominal 3 juta rupiah dan siap menekan enter. "Betul, Om. Masih sama kok." Cici berjalan menuju tempat sampah dan membuang tisu bekas kesenanganku. "Udah aku transfer ya. Jangan lupa pesanin sotonya!" pesanku. "Siap. Nanti malam mau lagi enggak, Om?" goda Cici. Aku mengulum senyum. Masih penasaran rupanya anak itu. Masih usaha ingin aku tiduri. "Nanti malam aku ada party. Next time sajalah!" tolakku. "Sotonya suruh antar kesini aja ya!" Cici terlihat agak kecewa karena aku kembali menolaknya. "Enggak ngajak Cici ke party juga, Om?" Cici salah satu karyawanku yang agak ambisius. Ditolak satu, akan mencari celah yang lain. "Enggak, Sayang! Aku udah janji sama temanku. Hmm... Pesan sotonya kapan ya Ci? Aku lapar nih!" kuusir Ia dengan cara halus. "Iya... Iya... Ini Cici mau pesankan!" dengan malas Cici berjalan keluar dari ruanganku. Cici adalah salah satu anak buahku yang bisa memenuhi kebutuhan biologisku. Ia adalah mahasiswa yang bekerja paruh waktu sebagai sales. Sangat jarang perusahaan yang mau menerima anak mahasiswa bekerja paruh waktu. Cici saat itu begitu memohon padaku agar diberi pekerjaan. Cici adalah mahasiswa perantauan yang jauh dari orangtua. Butuh uang dan rela melakukan apapun demi uang. Ia kuterima kerja karena melihat sorot matanya yang menunjukkan kegigihannya. Ijazah tak penting bagiku, yang penting bisa bekerja. Aku menerima Cici bekerja. Ia biasanya datang ke showroom kalau tak ada kelas atau pada weekend. Tak masalah selama Ia bisa menjual mobil dan targetnya tercapai. Cici bertubuh seksi, Ia sering menggodaku. Menurut orang kepercayaanku, Ia menyukaiku dan merasa berhutang budi atas kebaikanku menerimanya bekerja. Cici mulai menawariku kesenangan saat orangtuanya di kampung tak lagi mengiriminya transferan dikarenakan gagal panen. Cici tak tahu bagaimana mendapatkan uang untuk membayar uang kost dan uang semesteran. Ia pun mendatangiku dan rela memberikan dirinya padaku. Aku memang nakal, aku b***t dan b******k, namun aku tak mau merusak anak yang masih baik dan suci. Aku hanya ingin dipuaskan tanpa harus merusak Cici. Entah dia sudah memberikan dirinya pada laki-laki lain atau belum. Yang pasti bukan aku yang merusaknya. Cici begitu ingin aku tiduri. Namun aku terus menolaknya. Cici bilang kalau aku butuh dirinya, kapanpun aku bisa memanggilnya. Aku menyalakan komputer dan mulai memeriksa laporan show room. Laporan penjualan selama seminggu dan membandingkannya dengan minggu lalu. Mengecek laporan keuangan yang dibuat bagian akuntan dan meihat keuntungan yang terus bertambah setiap bulannya. Aku tersenyum melihat deretan angka yang berarti makin banyak cuan yang aku miliki. Aku sudah mengganti modal yang Papa berikan, kini saatnya menikmati hasil kerja kerasku dua tahun ini. Tok...tok...tok... Pintu ruanganku diketuk. Pasti soto yang aku pesan sudah datang. "Masuklah!" Seorang gadis berpakaian sederhana dan cenderung tertinggalan jaman datang membawakan pesanan sotoku. "Permisi, Pak. Sotonya ditaruh dimana?" tanya gadis itu dengan suara pelan dan halus. "Sini bawa ke saya! Mau langsung dimakan." aku melambaikan tanganku menyuruhnya mendekat. Dengan menundukkan wajahnya Ia berjalan mendekat. Aku tak pernah memperhatikan dirinya selama ini. Gadis ini berdandan bak gadis kampung lain. Rambut panjangnya dikepang dengan anak rambut yang berantakan. Pakaian yang dikenakan seperti layaknya pakaian jaman dulu. Kaos kebesaran dengan rok rampel panjang. Menutupi lekuk tubuhnya. Ia mengenakan sandal jepit yang terlihat sudah tipis karena terlalu sering dipakai. Suaranya yang pelan kadang seperti tikus yang berdecit. "Cici pesan soto juga enggak?" tanyaku. "Enggak, Pak." jawab gadis pengantar soto yang sedang menghidangkan soto pesananku diatas meja kerja. Aku mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh ribu rupiah. "Nama kamu siapa? Nanti saya bilang sama security untuk mengembalikan mangkok dan piring sama kamu." "Utari, Pak." Tari? Kenapa hanya beda satu huruf saja dengan Tara mantan istriku? "Ini uangnya, kembaliannya ambil saja buat kamu." aku menyerahkan selembar uang lima puluh ribu pada Tari. Ia akhirnya mengangkat sedikit wajahnya. Terlihat wajahnya yang putih dan cantik. Lumayan juga. "Terima kasih, Pak." jawabnya malu-malu. "Jangan Pak. Panggil Om saja! Yang manggil Pak cuma karyawan disini saja. Itu pun hanya formalitas. Ulangi lagi!" aku menarik uangku sebelum Ia sempat mengambilnya. "Te-terima kasih, Om!" jawabnya agak terbata. Aku tersenyum. Ada ya gadis pemalu seperti ini di jaman sekarang? Kuberikan uang di tanganku dan Ia langsung pamit pergi. Aku menyantap soto yang masih hangat. Rasanya enak. Aku suka beli soto dan beberapa kali Tari yang mengantarkan hanya saja aku tak begitu memperhatikannya. Selesai makan kutaruh mangkuk di depan ruangan dan menelepon security agar menyuruh Tari mengambilnya. Aku kembali berkutat dengan laporan yang kuterima. Aku sempat melirik saat Tari datang mengambil mangkok bekas aku makan lalu kembali fokus dengan pekerjaanku. Sambil memeriksa laporan, aku juga terus memperhatikan layar Hpku yang menampilkan pergerakan harga saham. Jika terus turun maka aku langsung jual. Tak apalah untung hanya puluhan juta saja. Ting Ting Beberapa pesan masuk ke dalam Hp milikku. Semua dari teman-teman tongkronganku. "Jangan lupa nanti malam!" pesan dari Ricko. "Lo mau gue kenalin yang baru enggak?" pesan dari Sony. "Lo dateng jam berapa? Gue masih ada meeting nih! Bos gue ngasih kerjaan dadakan!" pesan dari Bastian. Kuputuskan membalas pesan mereka satu persatu dan menghentikan pekerjaanku,. "Siap! Jangan ngaret lo ya!" balasku pada Ricko. "Nanti aja gue liat sendiri. Biar bisa pilih mana yang oke. Kadang selera lo enggak okem!" balasku untuk Sony. "Udah resign aja! Ngapain jadi kacung kampret terus? Mending jualan cilok aja sana! Bisa jadi bos lagi ha...ha...ha..." aku sambil tersenyum membalas pesan untuk Bastian. Kutaruh Hp milikku dan kembali fokus bekerja. Aku harus pulang ke rumah dulu sebelum ke party. Jam setengah lima kuputuskan untuk pulang. Cici dan para marketing sedang sibuk menawarkan mobil pada calon pembeli. Rupanya promo free cicilan 1x lumayan menarik minat pembeli. Cici menitipkan calon pembelinya pada Grace dengan alasan aku memanggilnya, padahal aku hanya memberi kode kalau aku mau pulang. Ia setengah berlari menghampiriku. "Mau kemana, Om?" Aku memelototinya. Panggilan Om hanya boleh Ia ucapkan saat memuaskan hasratku aja. Saat bekerja Ia harus bersikap sopan . "Ups... Maaf Pak. Bapak udah mau pulang?" tanya Cici. "Iya." jawabku singkat. "Enggak bisa nunggu setengah jam lagi, Pak? Biar Cici bisa bareng sampai kostan Cici." Cici lalu berkata sambil berbisik agar tak ada yang mendengarnya. "Bapak bisa Cici service nanti kalau nganterin Cici." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN