BAB 3 Duda Nackal

2288 Kata
Kalau boleh jujur, aku suka sifat Cici yang sering menggoda imanku. Aku serasa seperti tokoh Tom di kartun Tom and Jerry yang sering digoda Jerry. Sayangnya, aku tetap memegang teguh prinsipku. Nackal boleh, tapi dengan yang nakal juga. "Terima kasih tapi aku harus pulang sekarang kalau enggak mau terkena macet." penolakanku yang kesekian dalam sehari. "Terus kapan kesini lagi?" tanya Cici dengan suara manjanya. Aku mengangkat kedua bahuku. "Entah! Masih banyak show room lain yang harus diperiksa." Aku tak mau memberinya harapan. Cici cuma alat pemuas hasratku namun tak boleh aku rusak. Titik. Lagi-lagi aku melihat sorot kecewa di mata Cici. "Cici akan tunggu Bapak!" Aku tersenyum. "Terserah. Aku pulang dulu. Jual mobil yang banyak ya biar bonusnya besar!" kutepuk bahunya lalu berjalan ke parkiran. Kembali aku mendapat hormat dari security dan karyawanku. Aku membalas mereka dengan senyuman. Kunyalakan radio dari dalam mobil. Kupilih radio yang menyiarkan lagu-lagu terkini dan penyiarnya lucu. Lumayan menghilangkan rasa mumet. Jalanan sudah mulai macet. Aku kena macet saat akan memasuki gerbang toll Semanggi satu. Untung saja aku sudah mengambil jalur kanan, jika tidak aku pasti sudah dibuang ke Semanggi dua. Meski jalanan agak padat merayap, tapi masih bisa sampai rumah sebelum adzan maghrib berkumandang. Langit masih berwarna orange saat aku tiba di depan rumah. Mobil truk sudah tak ada lagi di depan rumah tetangga baruku. Sudah selesai rupanya mereka pindahan. Baguslah. Tak menghalangi mobilku masuk ke garasi. Saat aku baru keluar dari mobil, aku merasakan ada yang memperhatikanku dari jauh. Aku cuek saja dan masuk ke dalam rumah tanpa melihat ke arah yang memperhatikanku. Kukunci pintu rumah agar tak ada yang masuk. Rumahku tak ada pembantu yang tinggal. Hanya Mbak Inah yang datang setiap pagi untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian lalu pulang di siang hari. Mbak Inah sudah dua tahun bekerja di rumahku. Ia menyimpan rapat rahasiaku yang suka mengajak cewek tidur bareng. Sudah biasa Ia melihat cewek berbeda keluar dari kamarku. Tak pernah bertanya dan fokus dengan pekerjaannya. Aku melepas bajuku dan menaruhnya di dalam keranjang baju kotor. Membersihkan tubuhku dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhku. Aku hanya mengenakan handuk saat kudengar bell rumahku berbunyi. Dengan malas aku pergi keluar kamar dan mengintip dari lubang pintu. Seorang cewek dan sedang berbalik badan. Tak perlu melihat wajahnya karena aku tahu siapa dia. Tara? Mau apa dia ke rumahku lagi? Kalau memang tamu penting, aku akan memakai pakaian dulu sebelum membuka pintu. Ternyata tamunya hanya Tara, untuk apa aku berpakaian rapi segala? Aku membuka pintu setengahnya saja lalu menahannya dengan tubuhku. Wajah masam sengaja aku pasang. Tak layak memberi senyum pada wanita tukang selingkuh seperti Tara! "Kenapa?" tanyaku tanpa basa basi. Tara berbalik badan, Ia memperhatikanku dari atas kepala sampai kaki. Kini matanya melihat ke otot tanganku yang menyembul karena rajin ngegym. "Mm... Boleh pinjem palu?" tanya Tara. Matanya tak lepas menelusuri tubuhku. "Tunggu sebentar!" aku menutup pintu dan menguncinya. Tak membiarkan Tara menginjakkan kakinya di rumahku lagi. "Tung-" aku tutup pintu tepat saat Ia ingin bicara. Hampir saja wajahnya terkena pintu. Aku mengambil palu di tempat perkakas. Membuka pintu depan kembali lalu memberikan palu yang Tara hendak pinjam. "Makasih. Nanti aku kembalikan." ujar Tara. "Enggak usah! Ambil aja. Nanti aku beli yang baru!" kututup pintu tanpa mendengar perkataan Tara lagi. Aku melirik jam di dinding. Sudah jam setengah 7 malam. Aku harus pergi secepatnya. Aku sudah berpakaian rapi. Kali ini aku memakai jaket kulit dengan kaos hitam di dalamnya. Aku padukan dengan celana jeans warna gelap. Party yang kudatangi malam ini bukan party resmi. Hanya salah seorang teman tongkronganku mentraktir dengan membooking satu diskotek untuk party. Bukan party resmi di gedung. Party untuk laki-laki nackal seperti aku dan gengku. Aku keluarkan mobil Mini Cooperku dari dalam garasi. Belum sempat kuinjak pedal gas sudah ada yang berdiri di samping pintu mobil. Ya, Tara tentu saja. "Ada apa?" tanyaku dengan malas. "Mau balikkin palu." Tara mengangkat palu di tangannya. "Buang aja. Aku enggak pernah nyimpen barang bekas!" jawabku dengan sinis. "Oh gitu? Oke. Aku buang!" ujar Tara namun tak juga menyingkir dari samping mobilku. "Bisa minggir? Aku harus pergi!" "Sure... " Tara pun menggeser tubuhnya sehingga aku bisa mengerluarkan mobilku dari garasi. Tanpa basa-basi kuinjak pedal gas dan pergi meninggalkan Tara dengan wajah penuh rasa ingin tahu. **** "Aku sedang ingin bercinta karena masih ada kamu disini aku ingin." aku mengikuti alunan lagu Sedang Ingin Bercinta milik Ahmad Dhani yang mengalun dari radio di dalam mobilku. Jalanan Ibukota yang macet tak membuat moodku rusak. Masih ada waktu, party akan tetap menungguku. Tak mungkin mereka melewati party tanpa kehadiranku. Aku memarkirkan mobil di depan sebuah club malam besar yang sering digunakan untuk party kalangan atas. Untungnya aku adalah langgann di club malam ini. Cukup menunjukkan wajahku maka aku bisa masuk dengan mudahnya. "Akhirnya Duda Nackal kita datang juga!" sambut Sony saat melihatku berjalan mendekati meja bar. Sudah ada Riko dan Bastian yang duduk di sampingnya sambil menyesap minuman hasil racikan bartender handal. "Apa kabar, Bro?" tanyaku. Aku memberikan kepalan tangan sebagai salam rindu kala bertemu teman-teman satu genk-ku. "Lama banget sih? Make up dulu? Atau main dulu?" sindir Riko. Bukannya menjawab, aku malah bicara dengan bartender. "Buatin kayak biasa ya!" pesanku. "Siap!" jawab bartender yang sudah tau apa yang kusuka. Aku duduk di kursi dan mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaketku. Dengan sigap Soni menyalakan rokok milikku. Kukepulkan asap rokok di udara. "Tadi balik dulu ke rumah. Kena macet, biasalah." "Di rumah ngajak Cici?" sindir Riko. Aku tersenyum. "Enggaklah. Cici tuh cuma untuk sedot menyedot saja. Jangan diajak ke rumah. Takut ketagihan." "Beuh sombongnya! Cobainlah sekali-kali. Tuh anak udah ngebet banget pengen lo tidurin!!!" celetuk Bastian. "Ogah. Bisa ribet urusannya nanti. Kalau minta tanggung jawab, mati deh gue! Mana mau gue nikahin dia? Gue aja ogah nikah lagi. Enakkan kayak gini. Jadi duda happy!" kataku dengan bangganya. "Bukan duda happy lo mah, tapi duda nackal ha...ha...ha..." Kami kompak tertawa bersama. Diantara kami berempat, hanya aku yang duda. Mereka bertiga belum ada yang menikah. Mereka sama sepertiku yang masih menikmati kesendirian. "Gue mau ngucapin selamat dulu ya sama Edi. Sekalian bilang terima kasih udah traktir party." aku pamit setelah menyesap sedikit minuman buatan bartender. "Ayo gue temenin!" ajak Riko. "Ayolah!" aku dan Riko berjalan ke tengah dan menghampiri Edi yang sedang dikerumuni banyak tamu dan cewek-cewek yang mendekat dengannya bagai semut yang mengerubungi gula. "Bro Edi! Thanks berat undangannya!" kataku sambil menjabat tangannya. "Weits ada Duda Nackal yang terkenal nih dateng!" sontak ucapan Edi membuat cewek-cewek cantik menoleh ke arahku. Tatapan mereka seakan berkata, "Pilih aku, Om!" "Bisa aja Bro Edi mah! Sukses ya bisnisnya! Jangan lupa mampir ke showroom buat ganti mobil baru!" ujarku sambil tersenyum ramah. "Bisa diatur. Lo mau yang pilih yang mana nih?" Edi menunjuk cewek-cewek di sekitarnya. Hmm... Pilih yang mana ya? "Gue enggak ditawarin nih?" sindir Riko. Tujuan Riko menemaniku ke Edi pasti ingin kebagian jatah cewek cantik. Aku tahu itu, karena itu kubiarkan saja dia menemaniku. "Lo mau juga? Pilih aja! Lo mau yang mana!" Edi memang royal. Kalau bisnisnya lagi untung besar, Ia suka mengadakan party dan mengundang banyak orang. Genk-ku selalu masuk dalam daftar list undangannya. Tujuannya ya kedatanganku. Kalau tau seorang Agas akan datang ke party, maka bisa dipastikan banyak yang datang. Lebih banyak sih para cewek. Tanpa sungkan, Riko memilih seorang cewek berambut pendek dengan baju seksi berwarna hitam. "Si Cantik ini aja." Cewek itu tersenyum namun matanya melirik ke arahku. Rupanya Ia berharap aku pilih malam ini. "Lo mau yang mana?" kembali Edi menanyakan padaku. "Nanti aja. Gue masih mau minum dulu." tolakku. Terlihat raut kecewa para gadis melihat penolakanku. "Emang lo ya paling jago bikin cewek-cewek patah hati ha...ha...ha..." Edi tertawa puas melihat cewek-cewek itu kecewa. "Gue balik kesana lagi ya. Thanks ya, Ed!" "Sama-sama Bro!" Aku kembali ke tempatku semula. Kuminum minumanku sambil menikmati musik yang dimainkan DJ seksi yang hanya memakai kemben dan celana hot pants. Aku menatap DJ yang asyik berjoget menikmati irama yang Ia mainkan sendiri. Ia lalu sadar kalau dirinya diperhatikan olehku. DJ itu menoleh ke arahku dan tersenyum menggoda. Kubalas senyumnya dengan satu kedipan mata membuat Ia mulai menggodaku dengan membetulkan kembennya yang Ia buat agak melorot agar bisa kulihat belahan dadanya yang ukurannya diatas rata-rata itu. "Gila lo Gas! Itu DJ kayak cacing kepanasan cuma gara-gara lo kedipin doang!" ujar Sony yang ternyata juga memperhatikan sang DJ. "Biarin aja. Tebar aja dulu jaringnya, urusan nanti siapa yang gue tarik belakangan!" kataku. "Tapi tuh DJ cantik juga sih. Kalo lo enggak mau boleh buat gue!" ujar Sony. "Cantik juga karena make-up tebel ditambah lampu disini yang redup. Disini kelihatan cantik, pas keluar dari diskotek ternyata dempulnya doang tebel." sahutku. "Iya juga sih. Ya mereka kan berdandan kayak gitu untuk menarik minat kita. Ngomong-ngomong, mana Riko? Bukannya tadi ikut sama lo nyamperin Edy?" tanya Bastian. Aku memesan lagi satu minuman pada bartender. Lumayan minum gratis malam ini. "Lagi ke ruang VIP kali. Tadi dikasih milih cewek sama Edi. Udah ngebet dia pengen ganti oli. Tuh cewek langsung aja dia pake!" "Lo enggak ambil apa yang Edi kasih? Lumayan cuy gratisan!" tanya Bastian. "Belum ada yang oke. Masih lumayan tuh DJ. Asetnya lumayan gede. Tapi gak yakin gue pas dideketin make-upnya tebel apa enggak." jawabku sambil meminum minuman pesananku. "Gue turun dulu ya! Sekalian nyari mangsa." ujar Sony. "Gih dah!" jawabku dan Bastian kompak. Bastian menyalakan lagi rokok miliknya, entah sudah batang rokok keberapa yang sudah Ia nyalakan. "Kenapa lo enggak langsung milih? Kayak ogah-ogahan gitu!" tanya Bastian. "Lagi males." "Nah itu. Enggak biasanya lo kayak gitu." Aku menghembuskan nafas kesal. Bastian tuh memang paling peka dibanding yang lain. "Tara." "Mantan istri lo? Kenapa lagi dia?" tanya Bastian. Kuperhatikan Sony yang sedang berjoget sambil mendekati cewek cantik berambut panjang. "Dia pindah ke depan rumah gue." jawabku. "What? Ngapain dia tinggal di depan rumah lo? Mau manas-manasin lo sama Damar?" Bastian sangat terkejut mendengar ceritaku. Damar dulunya adalah teman satu tongkrongan denganku, Sony, Riko dan Bastian. Namun setelah tau kalau Damar tega meniduri Tara, ketiga sahabatku membelaku dan memutuskan pertemanan dengan Damar. Enggak ada yang namanya sahabat meniduri istri sahabatnya dalam kamus mereka. Damar hampir saja dibuat bonyok oleh mereka kalau saja tidak menyewa body guard untuk melindungi dirinya. "Entah." aku mengangkat kedua bahuku. "Tadi sih baru minjem palu doang." "Enggak sekalian lo getok kepalanya pake tuh palu?" kata Bastian dengan gusar. "Gila lo! Yang minjem Tara. Bukan Damar! Kalau Damar mana berani?! Enggak inget dulu akibat tonjokan gue dia dirawat di rumah sakit?" Bastian tersenyum. "Iya. Dia dirawat sebelah ruangan lo. Dia karena bonyok dan lo karena patah hati ha...ha...ha..." Aku meninju bahu Bastian. "Sialan lo! Ngetawain gue aja bisanya!" "Ya memang bener kan? Dulu lo sebelum jadi Duda Nackal kan cuma lelaki baik-baik yang bekerja untuk istri tercintanya. Kita ajakkin ke diskotek enggak pernah mau, alasannya mau makan masakan buatan Tara-lah. Kasihan Tara kalau ditinggal sendirian di rumah. Enggak punya duit buat bayar cicilan-lah. Sekarang aja lo! Kerjaannya buang-buang duit terus!" "Beda itu! Dulu kan gue suami yang baik. Istri gue aja yang bodoh, menyia-nyiakan suami baik seperti gue demi laki-laki anak mami kayak Damar!" "Iya... Iya... Eh tuh DJ kayaknya mau nyamperin lo deh!" Bastian menunjuk DJ yang kini sedang menatapku sambil tersenyum. "Hi!" sapa DJ yang kini duduk di kursi kosong samping tempat dudukku. "Hi juga!" jawabku sambil tersenyum. "Irna!" DJ itu mengulurkan tangannya. "Agas." aku menyambut uluran tangannya. "Boleh gabung kan?" tanya Irna padahal Ia sudah duduk di sampingku. "Tentu saja! Mau minum apa?" Irna lalu memesan minuman pada Bartender. "Belum ada temannya?" tanya Irna lagi. "Nih! Kenalin juga dong!" aku mengenalkan Irna pada Bastian. "Maksudnya teman cewek." ujar Irna lagi. "Belum. " jawabku singkat. "Kalau aku yang temenin mau?" ternyata benar, Irna mengincarku. Bastian menyikut lengannya mengenai perutku. Tidak sakit sih, cuma agak kaget saja. "Ambil aja! Kesempatan!" bisik Bastian pelan. Aku melihat jam di tangan kananku. Sudah jam 11 malam. Cepat sekali waktu berlalu kalau di tempat mengasyikkan seperti ini. "Di ruang VIP aja. Enggak perlu ke hotel." Irna kembali mengajakku. "Baiklah. Ayo!" kurangkulkan tanganku di pinggang Irna yang tersenyum menggoda. "Duluan ya Bas!" pamitku. "Have fun Gas!" teriak Bastian. Aku pun memilih ruang VIP yang disediakan. Ternyata Irna begitu b*******h dan langsung mendorong tubuhku ke atas sofa. Ia pun menduduki tubuhku dan menciumku dengan penuh gairah. Wow... Lumayan juga tangkapan aku malam ini. Aku suka wanita yang aktif seperti ini. Cukup berdiam diri dan aku akan mendapatkan kepuasan yang aku inginkan. Irna terus menciumiku seakan aku adalah candu yang membuatnya tak pernah puas. Kulepaskan jaketku dan melemparnya ke sembarang arah. Tangan Irna bergerak cepat. Ia membuka kaos yang kukenakan dan tersenyum puas saat melihat tubuh kekarku yang berotot. Ia menarik tanganku agar aku mau menelusuri lekuk tubuhnya. Oke, aku ikuti kemauannya. Pertama adalah menurunkan kemben yang Ia kenakan dan ******* habis dua buah sintal miliknya. Irna mulai mengeluarkan suara kenikmatan. Namun Irna sangat pengalaman. Tangannya dengan terampil membuka kancing celanaku dan mengincar milikku. Aku mengeluarkan sebuah pengaman yang selalu kuletakkan di saku belakang celana, aku memakainya terlebih dahulu sebelum melakukan penyatuan dengan Irna. Ini prinsipku. Nackal boleh, namun harus pakai pengaman. Aku tak tahu siapa saja yang sudah Irna ajak tidur? Permainan pun dimulai. Irna mulai merasakan milikku dalam dirinya. Ia mulai bergerak dan membuatku semakin merasakan sensasi kenikmatan tiada tara. Irna bak monyet kecil yang lincah, mencari titik dimana Ia merasakan kenikmatannya sendiri. Aku tak salah pilih partner malam ini. Tak perlu bekerja keras dan kenikmatan pun kudapat. Saat Irna mulai lelah karena aku tak kunjung selesai maka aku pun memimpin permainan. Aku buat Irna terus memekik kenikmatan sampai Ia akhirnya lemas dan aku pun selesai. "Aku... Kita... Kapanpun kamu mau... Aku siap." Irna sudah mengajakku lagi. Ia ketagihan denganku. Aku balas dengan senyuman dan melenggang pergi meninggalkan ruang VIP. Siapa yang menolak pesona Duda Nackal sepertiku? Rugi pastinya! Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN