Kynar sudah tidur sedari sore. Hari ini Richo pulang terlambat. Sebagai kepala toko dia harus bekerja lebih teliti, memeriksa cabang-cabang toko yang berada dalam wewenangnya. Dengan motor bututnya dia berjalan di malam hari, melewati jalan sunyi seperti biasanya. Terlihat rumah kosong yang duku di huni Kynar, sudah hancur lebur menjadi abu. Hanya ada batang tiang penyangga yang menghitam habis di lahap si jago merah. Richo bergidik ngeri. Betapa bahayanya orang-orang itu. Apa jadinya kalau dia tidak menyelamatkan Kynar. Apakah sekarang Kynar sudah jadi abu, atau mungkin ada secercah nurani hingga orang-orang itu tidak membakar Kynar hidup-hidup. Entahlah, dia seperti malaikat tak bersayap untuk Kynar. Namun, dia sebenarnya tidak mau melakukan hal ini. Apalagi ini menyangkut kejahatan

