Gendis menjerit sekeras-kerasnya saat ia terbangun dari tidurnya dan napasnya tersengal-sengal. Ia memejamkan matanya lalu ia membuat matanya pelan. Ia menoleh ke arah kanan dan kiri ternyata ia berada di dalam kamarnya itu. Dan ia teramat lega karena peristiwa tadi itu hanyalah mimpi. Namun tetap saja meski itu hanyalah sebuah mimpi namun tetap tak menghilangkan rasa gelisah dan takut di hatinya. Mimpi itu terus saja menghantuinya dan hingga sekarang mimpi itu tak pernah hilang darinya.
Gendis kemudian mengambil ponselnya untuk memeriksa jam ternyata sekarang ini sudah hampir jam setengah dua belas malam. Ia merasa khawatir karena ia tahu Satrio belum pulang. Ya, meski suaminya itu sangat menyebalkan namun tetap saja perasaan khawatir itu tetap ada karena mereka itu adalah pasangan suami istri. Ia berpikir apakah suaminya itu sudah pulang namun memang tak mau tidur di kamar yang sama dengannya?
Untuk memastikan hal itu Gendis keluar dari kamar lalu ia turun dan ia terkejut begitu ia melihat Satrio yang sekarang ini sedang duduk santai di ruang tengah sambil bermain ponsel. Ternyata suaminya itu sudah pulang, ia terlihat lega sekarang.
"Ngapain lu ke sini?" tegur Satrio ketika ia melihat Gendis yang berdiri di hadapannya itu.
"Nggak kok aku cuma mau ke dapur aja mau ambil minum," balas Gendis berbohong.
Satrio meletakkan ponselnya itu ke atas meja. "Ah yang bener? Masa sih? Palingan lu sengaja turun karena lu mau mastiin gua udah pulang apa belum iya kan?" godanya lalu ia tertawa terbahak-bahak.
"Iya kan diem-diem lu tuh khawatir kan sama gua iya kan ngaku aja lu!" Satrio tertawa lagi.
"Ih apaan sih enak aja kamu sok tau! Siapa juga yang khawatir sama kamu. Kamu mau pulang atau enggak bukan urusan aku!" balas Gendis tak mau kalah.
Satrio cengengesan. "Bilang aja lu naksir sama gua kan? Lu mulai demen sama gua makanya lu jadi khawatir dan gelisah kagak bisa tidur," godanya.
"Idih nggak banget ya, mana mungkin aku suka sama bocah jahat kayak kamu! Rugi dong!"
Satrio tertawa lagi mendengar ucapan istrinya itu.
Karena sangat kesal pada Satrio, Gendis pun kembali ke kamar sambil menggerutu untuk melanjutkan tidurnya.
Besoknya
Pagi itu Gendis sedang menghadang angkutan umum. Ya, ia tetap bekerja di kampus meskipun ibu mertuanya sudah memintanya untuk berhenti bekerja dan fokus saja menjadi seorang istri yang baik di rumah. Ia beralasan bahwa ia tak ingin merepotkan keluarga suaminya itu akhirnya ibu mertuanya pun membiarkan saja ia bekerja dengan syarat ia tak boleh sampai kelelahan. Angkutan umum sudah lewat lalu ia pun naik, di dalam perjalanan menuju ke tempat kerjanya yaitu di sebuah kampus mewah ia hanya terdiam melamun memikirkan tentang mimpinya tadi malam itu, betapa itu seperti sangat nyata membuatnya merinding sekarang.
Tak lama Gendis telah sampai di kampus dan ia pun turun dari angkutan umum itu setelah ia memberikan uang pada pak sopir. Ia lalu melangkah masuk ke dalam kampus. Ya, ia bekerja sebagai pelayan warung di kantin kampus ternama tersebut sudah berjalan sekitar setahun lamanya.
Saat Gendis berjalan menuju ke toilet ia terkejut mendengar teriakkan seorang mahasiswi di sekitar sana. Ia pun penasaran sehingga ia mencari suara tersebut.
"Ampun, Kak. Maafin aku kalau ada kata-kata yang menyinggung," ucap seorang mahasiswi itu ketakutan, ia menangis di hadapan Satrio dan dua temannya itu.
"Kalau gitu lu harus bersihin sepatu gua! Cepat bersihin!" perintah Satrio dengan gaya arogannya itu.
Gendis terkejut melihat penindasan di depan matanya itu apalagi pelakunya adalah suaminya sendiri. Ia heran dengan suaminya itu yang seperti tak pernah ada kapoknya membuli murid lain. Ia sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan buruk suaminya itu. Ia pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh! Kamu tuh kenapa sih hobi banget gangguin murid di sini! Kamu pikir kelakuan kamu itu keren hah? Norak tau nggak! Norak dan juga kurang kerjaan!" tegur Gendis yang kini sudah berhadapan dengan Satrio.
Satrio tampak marah lalu ia mendengus kesal karena istrinya itu malah ikut campur urusannya itu.
"Elu yang norak tau kagak! Lu norak karena demen banget ikut campur urusan gua. Lu sok jadi pahlawan mendingan pergi lu sono!" bentak Satrio pada Gendis.
Sedangkan dua teman Satrio hanya diam saja tanpa berani menyela perdebatan dua sejoli itu. Begitupun dengan murid yang dibuli itu ia hanya diam saja.
"Nggak bisa ya, kamu kok yang salah masa iya aku diem aja!" bentak Gendis dan ia berani mendelik marah pada Satrio.
"Dasar cewek rese! Yuk cabut!" ajak Satrio pada dua temannya itu, ia pun terpaksa pergi dari sana dengan wajah yang sangat marah.
"Dia yang rese tapi dia juga yang marah dasar aneh!" balas Gendis.
Tanpa mereka tahu, ada seorang pria bertopeng yang sedang bersembunyi di bilik paling ujung di dalam toilet itu. Tangannya mengepal kuat dan dari matanya terlihat sekali ia sedang begitu marah namun entah ia sedang marah pada siapa.
"Si Satrio itu kurang ajar banget, beraninya dia malah bentak bentak Gendis kesayangan saya, awas kamu Satrio," lirih pria bertopeng itu kesal.